WHERE LOVE IS, GOD IS

Penulis Rusia, Leo Tolstoy yang menulis buku berjudul ‘Where Love Is, God Is’ menceritakan tentang seorang tukang sepatu.

Laki-laki Rusia tua yang kesepian yang sedang membaca Lukas 7 tentang seorang Farisi yang tidak menyambut Yesus di rumahnya. Lalu orang tua ini pun mulai bertanya, “Kalau dia datang menghampiri, apakah aku akan menyambutnya?”

Sembari merenunginya, diapun jatuh tertidur. Tiba-tiba, ada suara yang memanggil-manggil namanya. “Martin, Martin, lihatlah keluar ke arah jalan besok Aku akan datang.”

Keesokan harinya, dia pun terus memandang ke arah jalan sembari bekerja. Dia melihat seorang pria tua yang dia kenal, mengundangnya dengan semangat, dan memberikannya teh. Dia pun menyampaikan ke orang tua itu soal kasih Kristus seperti yang pernah dibacanya di dalam Alkitab. Tiba-tiba orang tua itu berurai air mata setelah mendengarkan dan meninggalkan Martin dengan ucapan terima kasih.

Beberapa saat kemudian, Martin melihat seorang wanita lewat di luar mengenakan pakaian musim panas yang lusuh, mencoba untuk menenangkan bayinya yang menangis. Dia pun mengundang wanita itu untuk duduk di sekitar api unggunnya. Dia baru tahu kalau wanita itu begitu miskin dan sudah menggadaikan syalnya untuk bisa membeli makanan.

Lalu Martin memberinya makan, mantel tua untuk membungkus bayinya, dan memberikan uang untuk membeli syal baru. Di hari selanjutnya, Martin juga membantu untuk mendamaikan wanita miskin dan anak laki-laki yang mencuri apelnya. Dan sampai hari-hari berlalu, Martin tetap saja belum bertemu dengan Yesus.

Di suatu malam, Martin menyalakan lampu dan membuka Alkitab. Dia berniat untuk melanjutkan ayat yang dia baca di hari sebelumnya. Tapi Alkitab itu tiba-tiba terjatuh. Saat dia memungutnya kembali, dia mendapati ayat lain. Sebelum membacanya, dia mendengarkan panggilan suara lagi dari luar, “Martin, itu Dia.” Dia mendongak dan melihat orang tua yang sudah dia tolong, lalu orang itu pun menghilang.

Hal serupa kembali terulang dengan wanita dan bayinya serta wanita dan anak laki-laki yang berhasil diperdamaikannya. Kemudian dia duduk dan melanjutkan bacaannya, “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;

Di bagian bawah halaman, dia membaca, “…Sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.” (Matius 25: 45)

Lalu di akhir kisahnya, Tolstoy menyimpulkan bahwa Martin mengerti impiannya telah terwujud; dan bahwa Juruselamat telah benar-benar datang menjumpainya di hari itu, dan dia telah menyambutnya.

Si tukang sepatu miskin ini benar-benar mendemonstrasikan kasih Tuhan di dalam hidupnya. Itulah yang Yesus ingatkan supaya kita mengasihi sesama seperti kita mengasihi Dia.

Sumber : Bible.org

___________________________________

Banyak orang yang sepertinya sudah sangat rohani sekali, seolah-olah sudah kenal betul dengan Tuhan.

Tapi apakah sungguh-sungguh ia berjumpa dengan Tuhan ? Bagaimana sikapnya ketika berjumpa dengan orang yang butuh kasih dan pertolongan ? Dari sana anda bisa menilai bagaimana kasihnya kepada Tuhan. Mustahil seseorang bisa mengasihi Tuhan, kalau dengan sesamanya yang kelihatan saja ia menebarkan aroma cuek bahkan kebencian.

Mari teman, kasihi keluargamu, kasihi saudaramu, kasihi orang-orang yang membutuhkan pertolonganmu. Di sanalah kita akan berjumpa dengan Tuhan dan menyambutNya.