VIRAL! Tukang Tambal Ban Online, Tarif Seikhlasnya! Ini Wawancara Saya Langsung Dengan Yadi Dari Solo.

1 Agustus 2019.

Pagi hari sebelum memulai kerja, biasanya saya mulai cari info ter-update hari itu. Termasuk dari Youtube. Di kolom recommended, mata saya langsung tergoda untuk meng-klik video yang berjudul “Kisah Sudaryadi, Penambal Ban Online Dengan Tarif Seikhlasnya | HITAM PUTIH (29/07/19)”

Baru tahu saya ada orang yang beprofesi demikian. Dan yang bikin saya bingung plus penasaran, kok tarifnya seikhlasnya? Bagaimana caranya ya? Hari gini gitu loh! Kebanyakan orang sudah matrek. Lha ini?

Sekian menit saya lihat tayangan di Youtube tersebut, sudah membuat saya menangis terharu. Memang saya mudah tersentuh kalau itu berhubungan dengan urusan seorang anak yang sayang ibunya. Maksudnya bagaimana? Bentar! Saya akan ceritakan kok hasil wawancara saya langsung dengan Mas Yadi.

Dengan segala upaya, saya cari info soal Yadi ini. Dan puji Tuhan, nemu juga nomer telponnya. Saat saya hubungi, Yadi bilang masih kerja jaga parkir sampai jam 3 sore di bilangan Jalan Adi Sumarmo Solo. Tepatnya di Sate Kambing Pak To.

Setelah saya perkenalkan diri saya, saya kemukakan maksud saya menghubungi Yadi. Pengen wawancara meski by phone. Akhirnya disepakati jam 4 sore saya akan ngobrol ama dia.

Benarlah, jam 4 sore malah Yadi yang menghubungi saya dulu, voice calling by WA. Saya dengar suaranya persis sama seperti yang saya lihat di tayangan acara Hitam Putih. Suaranya lugu, polos, dan sangat ramah dengan orang lain.

Yadi bilang saya seperti seorang pengusaha katanya. Itu setelah dia stalking di web saya. Hehehe! Masa iya tampang saya tampang pengusaha ya?

Dengan antusias Yadi mulai cerita asal usul pekerjaannya. Di telpon saya menangkap aura semangat Yadi yang begitu membara. Model suara seseorang yang tak mudah menyerah dalam hidupnya.

Sudaryadi, lahir 30 tahun yang lalu di Jogjakarta. Lahir sebagai bungsu dari 6 bersaudara. Tinggal bersama kakak pertama dan ibunya. Mereka dari keluarga yang sangat sederhana. Ibu Yadi berjualan es dan makanan, sambil menjadi tukang pijat.

Yadi bilang, saat ia lahir, ia tak pernah tahu sosok Ayahnya yang katanya sudah Almarhum. 

Karena tanah yang mereka tinggali di Jogja adalah milik Pemerintah, suatu saat harus dikembalikan. Maka pindahlah Yadi ke Solo mengikuti kakaknya yang kedua.

Masa SMP ia habiskan di Solo. Setelah lulus SMP, Yadi melanjutkan sekolah di SMK Wiratama 452 Wonosobo jurusan otomotif. dan pertanian. Di Wonosobo Yadi tinggal bersama kakak ke 4. Mbaknya yang ini dikenal Yadi sebagai kakak yang keras dalam mendidik adiknya.

Pernah nakal gak Mas saat remaja?”, tanya saya penasaran.

Hahaha…Ya pernah lah Mas! Beli sebotol minuman anggur merah urunan sama temen-temen. Minum-minum sampe mabok.” jawab Yadi sambil tertawa malu mengenang kenakalannya dulu. Tapi ia udah stop kebiasaan buruknya karena menurut dia itu sesuatu yang sia-sia.

Kakak iparnya yang kemudian mengajak dan mengajari Yadi bekerja menambal ban dan vulkanisir ban truck. Itu dilakukannya di luar jam sekolah. Lokasinya di Temanggung. Hampir 1 jam dari Wonosobo.

Capek Mas. Badan saya kan masih kecil. Harus angkat-angkat ban truck yang segitu besar. Peralatan palunya aja udah 5 Kg sendiri”, tutur Yadi mengingat masa-masa keras saat itu.

Lulus dari SMK, Yadi mulai bekerja. Ia termasuk orang yang tidak pilih-pilih pekerjaan. Apapun ia kerjakan untuk mengumpulkan uang.

Apa Mas punya cita-cita. Setidaknya gambaran gitu mau jadi apa ntar gedenya?” tanya saya.

Gak Mas. Saya gak punya bayangan pengen jadi apa. Kan kami ini keluarga yang sangat sederhana. Gak pernah muluk-muluk dan neko-neko kok saya mau jadi apa. Kerja apa saja ya dijalani aja” demikian jawaban Yadi.

Hmmm...Memang seperti itu ya. Ketika seseorang menyadari keberadaan dirinya yang sangat terbatas, maka ia tak berani bermimpi yang terlalu tinggi.

Akhirnya Yadi ikut kakak ketiga di Sukabumi. Bekerja sebagai pemberi makan ayam dan mengambili telor-telornya selama 3 tahun di PT Multi Breeder Adirama Indonesia. Sekarang dikenal sebagai Japfa Comfeed.



Kerjaannya berat juga Mas. Kadang dari subuh hingga jam 12 malam. Sedikit demi sedikit saya nabung dan saya titipkan ke kakak saya yang nomer empat.

Maunya sih dibuat usaha. Tapi gak jalan kok Mas usahanya. Ya usaha dari rental internet dan Playstation. Ada juga toko kelontong”
, demikian cerita Yadi dengan lancarnya. Saya sampai tertegun sendiri dengar suaranya di hape saya.

Akhirnya dengan membawa uang Rp.100.000 Yadi balik ke Solo kembali. Dari tahun 2013-2016 Yadi bekerja di Pabrik Mantol, yang memproduksi jas hujan. Di sana pekerjaan adalah memotongi bahan-bahan mantol.

Saya harus kerja 2 shift di sana Mas. Shift pertama jam 7 pagi hingga 3 sore. Shift kedua jam 3 sore hinga 11 malam”, tutur Yadi.



Napa gitu Mas? Gak cukup gajinya ?”, tanya saya penasaran.

Iya. Gaji yang shift pertama hanya cukup buat saya makan dan minum. Udah habis. Lha saya kan harus menghidupi Ibu saya juga. Makanya saya harus nyambung ke shift kedua.

Dari situ gaji yang saya dapatkan kadang saya belikan kecap, gula di warung. Pokoknya keperluan dapur ibu saya lah Mas.

Terus sisanya mulai tahun 2014 itu saya bukakan ibu saya tabungan sendiri. Ya namanya orang tua, nanti kan pasti ada butuh-butuhnya. Apalagi di usia yang semakin lanjut. Biar gak susah gitu Mas nantinya Ibu saya.”

OMG!
Saya terhenti sejenak mendengar penuturan Yadi soal Ibu ini. Dalam hati saya berkata, pantesan nih saya pengen ngobrol langsung ama Dia. Gak hanya dengan nonton Youtube-nya saja.

Saya rasa ada kesamaan nada antara saya dan Yadi dalam mengasihi ibu. Anak jaman now sepertinya mana ada yang sampai sepeduli begini ama Ibunya. Hmmmm….saya belajar banyak sore ini dari Yadi.

“Saya ngontel pake sepeda biasa Mas ke tempat kerjaan. Hari Minggu pun kalau saya disuruh lembur ama Mandor ya saya tetap berangkat kerja.” cerita Yadi kembali.

Waduuuuh! Spiritnya luar biasa nih orang. Kerja keras demi Ibu di rumah yang akhir-akhir ini mulai sakit-sakitan.

Akhirnya di tahun 2017, ia memulai idenya dalam menjalankan usaha tambal ban online bayar seikhlasnya. Itu Yadi kerjakan sebagai pekerjaan sampingan di saat sore hingga dini hari, sepulangnya dari pekerjaan utamanya sebagai juru parkir dari pagi hingga sore.



“Saya tuh mulainya dengan beriklan di Instagram dan Facebook. Nama Facebooknya adalah Amper Ragnarok. Dari situ saya dikenal oleh orang banyak di Solo. Tiap ada ban motor yang bocor, mereka panggil saya.

Kadang ada yang sampai jauh Mas. Hampir sejam perjalanan. PP jadi 2-3 jam. Malam-malam sampai dini hari. Gitu kadang ya ada aja yang order fiktif. Tapi ya sudahlah dijalanin aja”,
lanjut kisah Yadi ke saya.

Lha… kerja Mas itu begitu keras kan? Mas Yadi berhak narif mahal tuh! Lha kok malah ini tarif seikhlasnya itu piye toh mas pemikiran sampeyan?” tanya saya penasaran.

Saya ini orang susah Mas. Tahulah rasanya susah. Saya bayangin kalau itu terjadi ama saya. Berat loh nuntun motor apalagi di malam hari. Bingung pasti!

Makanya gak ada salahnya saya nolong orang. Kemampuan saya kan nambal ban. Ya udah saya lakukan itu Mas
.”



Waduh, lagi-lagi makjleb nih jawabannya. Saya pasti gak akan sanggup ngerjain kaya begini.  Bayar seikhlasnya! Yadi gak pernah narif.

Pernah ada orang yang gak bawa uang, jauh-jauh ia sudah datangi dan tetap ditambal ban motornya. Mau bocor 1, 2, atau 3. Kalau gak bawa uang, mas Yadi tetap ikhlas kerjakan. Ini yang luar biasa gaesss!

Jadi soal tarif ya gak ada ketentuan tarif yang baku. Yadi bilang, ia lihat orangnya dulu. Kalau dipandang mampu sekalipun, ia tidak pernah mengambil uang lebih untuk jasa nambal ban motor ini. Dikembalikan uangnya yang lebih menurut Yadi.

Pernah dikasih Rp.30.000 dan yang punya uang pun ikhlas, Yadi kembalikan Rp.20.000-nya.

Tambal ban online itu resikonya keras Mas. Di jalan banyak hal bisa terjadi. Kadang ditabrak mobil. Kadang saya yang nabrak. Kadang ya dikerjain orang. Kadang berhadapan ama orang jahat juga.

Pernah Mas…saya itu mau dibegal di jalan, pas berangkat nambal ban. Kan udah gelap emang, Dia minta hape ama motor saya. Saya bilang, ini foto kalian (pembegal) udah ada di hape saya. Udah saya share ke group saya yang ratusan orangnya. Ada Polisi juga di sana. Jadi wajah sampeyan sudah tersebar luas loh!”

Wah, akalnya boleh juga nih Mas Yadi! Hehehe…Begalnya lari ngacir abis itu.

Gak cuman itu, Yadi ini juga memberikan layanan bensin gratis buat yang kehabisan bensin di jalan. Di jok motornya selalu ada selang bensin, corong dan botol air  mineral. 

Jadi yang kehabisan bensin di jalan, saya sedotin dari tangki bensin motor saya. Kemudian dipindahkan ke botol”. Bensin saya selalu penuh Mas!”

Uraian Yadi ini sungguh membuat saya antara bingung dan terharu. Manusia macam apa ya Mas satu ini? Kok masih ada saja manusia sebaik ini!

Alasannya selalu ingin membantu orang yang kesusahan dengan cara yang ia bisa lakukan. Nolong itu kata Yadi bukan cuma sebatas lihat saja terus dicuekin. Sambil bilang kasihan tapi gak berbuat apa-apa! Bukankah jujur kadang kita juga begitu, Teman?

Jadi apa toh mas motivasinya melakukan jasa tambal ban online bayar seikhlasnya ini? Selain mau nolong orang?” tanya saya lagi.

Ya itu tadi Mas. Saya pengen bahagiakan Ibu saya. Ibu saya itu perhatian banget ama saya. Waktu sekolah di luar kota, bela-belain Mas ibu saya itu jauh-jauh naik bus. Saya dijenguk ama Ibu. Nginep di kos saya 2-3 hari begitu. Jadi, sekarang saya mau bahagiakan Ibu.”

Menangis saya di ujung telpon dengar penuturan Yadi. Sekarang, Ibu Yadi sudah susah berjalan. Sakit-sakitan juga. Fasilitas Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang dipunyai Ibunya pun dirasa tidak maksimal dalam memberikan layanan pengobatan.



Saya pun akhiri percakapan di telpon sore itu dengan sebuah doa agar Ibunya selalu sehat di usianya yang 70 tahun. 

Yadi pantas untuk menuai semua taburan benih kebaikan yang pernah ia siramkan kepada banyak orang.

Saya menanyakan nomer rekening dan ia memberikan nomer rekening tabungan Ibunya. Awalnya dia menolak, karena kesannya kok melas-melas dan minta dikasihani orang.

Saya bilang, bukan Mas Yadi yang minta, tapi Tuhan perintahkan saya untuk melakukan kebaikan juga. Sama sekali tidak ada settingan sebelumnya.

Teman, saat kita menanam Padi, rumput pun bisa ikut tumbuh. Tapi saat kita menanam rumput, tidak pernah ada ceritanya bakal tumbuh Padi

Dalam kita melakukan kebaikan, kadang ada hal buruk yang terjadi. Tapi saat kita melakukan keburukan, maka tidak ada kebaikan yang ada di dalamnya.

Jadi teman, jangan bosan-bosan untuk berbuat kebaikan, meski terasa tidak sempurna.

Kiranya tulisan ini menjadi inspirasi buat Anda. Sebar luaskan kisah ini bila Anda rasa perlu ini diketahui oleh banyak orang.

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n

 

(Semua foto adalah koleksi pribadi dari Sudaryadi)