UNTUK AYAH LIHAT

Alison adalah seorang gadis berusia empat tahun yang tekun. Ia tertarik pada segalanya, tapi menggambar adalah keahlian utamanya.

Ibunya, Ann, membelikan Alison kertas, cat air, kuas, dan pensil warna. Dan sepertinya Alison menggunakan semuanya hanya dalam waktu satu atau dua hari saja.

Alison menunjukkan gambar-gambarnya pada semua orang. Ia terutama ingin mengesankan ayahnya. Memang ada saat ketika ikatan anak-anak perempuan dengan ayahnya sangat kuat.

Alison sangat mencintai ayahnya dan ingin tetap terikat. Ia ingin selalu berhubungan dengan ayahnya, tapi sayang, ayahnya sepertinya terlalu sibuk.

Ann melihat itu dengan berat hati. Ia melihat bagaimana hubungan ayah dan anak perempuannya ini yang sangat jarang bermain bersama. Ia melihat bagaimana reaksi sang ayah ketika Alison menunjukkan gambar padanya.

Ya, sayang, itu indah,” hanya sekilas jawaban sang ayah tanpa melihat-lihat gambar Alison.

Lalu menjawab telepon genggamnya atau pergi ke ruang kerjanya.

Suatu hari, Alison menggunakan waktunya untuk menggambar rumah yang sangat rinci. Sungguh luar biasa hasilnya.

Ia menggambar ubin dan mewarnainya satu per satu, dengan hati-hati meninggalkan ruang putih di antara ubin. Dalam gambar itu terlihat ia menarik tirak jendela, lalu ibu dan ayah melihatnya.

Di halaman dalam gambar rumahnya itu ada seekor anak najing yang diinginkannya.

Alison pun berlari untuk menunjukkan pada ibunya.

Oh, Alison, itu sangat indah! Terbaik yang pernah kau buat!” komentar ibunya.

Wajah Alison berseri.

Aku ingin menunjukkan ini pada ayah sekarang!” Alison berlari menyusuri lorong menuju pintu tertutup ruang kerja ayahnya.

Ayah! Ayah!” Alison mencoba membuka pintu. Terkunci.

Ibu Alison melihat dari kejauhan, ekspresi kecewa pada wajah putrinya. Alison meraih kenop pintu sekali lagi.

“Ayah?

Mereka bisa mendengar seseorang sedang berbicara di telepon. Lalu pembicaraan telepon itu berhenti.

Ayah!” Alison mengetuk pintu.

Saya ingin Ayah melihat gambar rumah yang saya buat ini!

Maafkan ayah, Alison. Ayah sibuk,” terdengar suara di balik pintu.

Tidak bisakah kau tunjukkan pada orang lain?

Tangan Alison melemah. Ia melihat ke bawah pada gambarnya yang indah dan bibir bawahnya mulai bergetar.

Saya tidak ingin menunjukkannya pada orang lain. Saya hanya ingin menunjukkannya pada ayah saya. Hanya ayahlah satu-satunya ayah yang saya miliki!”

Kata-kata terakhir itu tidak lebih dari bisikan, namun seperti menggantung di udara saat seseorang meneriakkannya. Ibu Alison merasakan berat di dalam hatinya dan ia melangkah menuju putrinya, siap untuk memeluknya.

Tapi sebelum ia melangkah lagi, ia mendengar suara klik. Pintu terbuka dan ayah Alison muncul. Ia tampak malu.

Maafkan ayah, Alison.” Sang ayah mencium pipi putrinya.

Kemarilah, dan kita akan melihat gambarmu.

Putri dan satu-satunya ayah itu masuk ke ruangan, untuk mengagumi karya seni anak yang indah itu.

Selamat hari lebaran bagi anda yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin dari saya.

Gunakan waktu liburan untuk bersilaturahmi dan ber-quality time dengan keluarga anda.