UANG ATAU TUHAN ?

Di sebuah kota kecil, hiduplah dua saudara, Kaka dan Adi.  Kaka besar dalam lingkungan kerohanian yang kental. Sementara, Adi, tidak menyukai kehidupan spiritual Kaka, karena ia khawatir saudaranya itu tidak dapat hidup dengan layak, apalagi kaya.

Suatu hari, mereka bertengkar karena perbedaan keyakinan tersebut. Kaka mengatakan, “Kau tahu Adi, saya mencari warisan dari Tuhan.”

Adi , seorang dengan profesi akuntan, cepat menukas, “Uang yang pertama, Tuhan bisa datang kemudian. Siapa tahu hidup kita mungkin akan lama?”

Kaka tidak menyerah, “Tuhan tetap yang pertama, uang bisa datang kemudian! Siapa tahu? Hidup mungkin terlalu pendek.”

Pertengkaran mereka semakin panas hingga akhirnya sang adik melemparkan tantangan. Ia mengusulkan untuk mengirim Kaka dengan didampingi oleh temannya, Nanda, ke kota terdekat dengan kereta api, tanpa uang, atau ketentuan lain. Sesuai kondisi tantangan, Kaka dan Nanda tidak boleh meminta uang dari siapapun atau mengungkapkan indentitas atau pertaruhan ini kepada siapapun. Namun, mereka sudah harus kembali ke rumah sebelum tengah malam. Nanda bertindak sebagai saksi untuk memastikan Kaka mematuhi pertaruhan ini. Adi bermaksud untuk menguji apakah Tuhan akan memenuhi kebutuhan Kaka akan makanan dan ongkos pulang ke rumah.

Kaka menyambut tantangan itu. Ia memiliki keyakinan penuh bahwa Tuhan akan merawatnya selama tantangan yang tidak biasa itu dan ia pun naik kereta dengan saksi Nanda.

Kebetulan mereka bertemu dua orang asing, yang bersama mereka naik kereta, mengajak mereka ke sebuah acara. Di sana sedang ada pesta mewah, yang pada mulanya dimaksudkan untuk menjamu para pejabat, tapi mereka membatalkan kunjungan pada saat terakhir. Saat Kaka dan Ananda beristirahat setelah makan, seorang pemuda mendekati mereka dan menawarkan untuk menemani mereka berdua tanpa alasan yang jelas. Tanpa mereka berdua mengungkapkan identitas atau taruhan mereka, pemuda itu membawa mereka berjalan-jalan di sekitar desa itu dan menjamu mereka dengan layak.

Menjelang malam, saat mereka harus berpisah, pemuda itu memberikan dua tiket kereta api untuk kembali ke kota mereka dan sedikit uang. Ia mendesak mereka agar tidak menolak pemberiannya. Dan ketika hari berakhirnya tantangan, Kaka dan Nanda baik-baik saja kembali ke rumah, meksipun tidak meminta uang kepada siapapun, makanan atau tiket kereta untuk kembali.

Mereka sampai di rumah dengan selamat. Adi tercengang, “Untuk pertama kalinya saya mengerti bahwa kita harus mengurangi ambisi duniawi!” Ia pun meminta Kaka untuk mengajarinya bagaimana ia lebih dekat dengan Tuhan.

____________________________________

Setelah kita mengenal Tuhan, prioritas kita bukan mencari uang. Tapi ini bukan berarti kita tidak perlu mencari uang. Tetapi prioritas kita adalah carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka segala yang kita kerjakan akan dibuat-Nya berhasil, dan segala kebutuhan kita akan dicukupkan. Dia lah Bapa kita yang lebih mengetahui apa yang kita perlukan sebelum kita minta kepada-Nya. Amin !

logo