TUHAN SEBAGAI KERNET

Asap rokok memenuhi ruang tamu. Orang yang duduk di depanku menatap gelisah. Jari-jari tangannya yang gemetar, sehingga rokok yang ada terselip diantara jarinya tampak bergerak-gerak. Aku duduk diam. Sudah setengah jam aku berusaha untuk memahami apa yang bergolak dihatinya. Tentang kekecewaanya pada TUHAN. Aku tidak tahu apalagi yang bisa aku katakan. Setiap apa yang aku katakan selalu disanggah dengan penuh kemarahan. Akhirnya aku mengalah dan diam. Dia hanya butuh orang yang mau mendengarkan kegelisahan hatinya.

Dia tidak membutuhkan nasehatku. Orang ini sedang mengalami musibah besar. Dia adalah orang seorang pekerja yang baik, penuh semangat dan punya aneka angan-angan masa depan yang mengagumkan. Suatu hari dia mendapat sebuah proyek besar. Ini sebuah kesempatan untuk lebih maju. Maka dia mencurahkan semua tenaga dan kemampuannya dalam proyek itu. Dia memperhitungkan secara detil mengenai segala sesuatu. Celah-celah yang dianggapnya bisa menjadi penyebab kegagalan sudah diantisipasi. Dia yakin bahwa rencanya ini pasti akan berhasil, maka semua apa yang dimilikinya dipertaruhkannya.

Namun ternyata ada kesalahan kecil yang fatal akibatnya proyeknya gagal total. Dia kecewa mengapa bisa gagal? Dalam keputusasaanya dia mencari siapa yang bersalah dalam hal ini. Akhirnya dia menyalahkan Tuhan.

Aku tanya bukankah dia bisa bangkit kembali? Dengan pedih dia mengatakan bisa, tapi namanya sudah hancur. Dia malu sekali. Orang akan mengejeknya sebagai orang gagal. Aku tanya apakah sudah ada orang yang berkata demikian? Dia mengatakan belum, tapi pasti suatu saat perkataan itu akan didengarnya. Orang akan mengejeknya. Dirinya tidak akan berharga lagi.

Aku tetap diam. Pikiranku bergulat sendiri. Mengapa sebuah persoalan dapat membuatnya begitu frustasi? Apakah hidup yang panjang ini hanya ditentukan oleh kegagalan sebuah persoalan? Bukankah masih banyak hal yang bisa dikerjakan?

Setelah diam agak lama orang itu pamit pulang. Aku menghantar sampai pintu. Dalam kesendirian di ruang tamu pikiranku melayang. Mengapa orang tidak bisa pasrah? Aku teringat bagaimana orang tadi begitu cepat bereaksi ketika aku katakan agar dia pasrah. Baginya pasrah adalah kelemahan. Dia bosan dengan kata itu. Bagiku pasrah bukan berarti menyerah kalah, melainkan keberanian menerima aneka realita hidup. Keberanian untuk hidup pada hari ini, bukan pada masa lampau atau masa mendatang. Masa lampau itu sudah berlalu, masa depan itu belum ada. Namun mengapa orang digelisahkan oleh keduanya? Oleh sesuatu yang tidak nyata? Meskipun dia menangis darah, kegagalan itu sudah terjadi. Tangisannya tidak akan mengubah kegagalan menjadi keberhasilan. Dia tidak akan mampu mengubah apa yang sudah terjadi.

Dulu aku pernah membaca kemungkinan orang dapat kembali ke masa lalu. Jika orang mampu menciptakan sebuah alat yang dapat berputar melebihi kecepatan putaran bumi maka dia akan dapat terlontar ke masa depan atau masa lalu. Dia akan terlepas dari keterikatan ruang dan waktu.

Namun jika dia mampu kembali ke masa lalu apakah dia akan mampu mengubah rencananya sehingga tidak gagal?

Jika dia mampu mengubah sesuatu di masa lalu apakah tidak akan terjadi kekacauan di dunia saat ini? Keterbatasan inilah yang seharusnya diterima dengan lapang dada. Mengapa dia tidak berani mencari pada kegagalan ini sesuatu yang dapat dijadikannya untuk meraih keberhasilan? Bagiku dalam kegagalan pun pasti masih ada celah untuk berhasil.

Kata orang nasi sudah menjadi bubur. Apakah orang akan terdiam, memaki dan menangisi semua itu? Mengapa tidak menjadikan bubur itu sebagai bubur ayam atau bubur merah yang dibutuhkan untuk kenduri? Bukankah bubur juga masih dibutuhkan orang? Orang tadi juga mencemaskan bahwa besok orang akan mengejeknya. Mengapa mencemaskan besok? Bukankah besok dan kemungkinan itu belum terjadi? Mengapa orang digelisahkan oleh sesuatu yang belum terjadi?

Aku ingat cerita de Mello tentang seorang yang akan dihukum mati pada keesokan harinya. Semalaman dia gelisah mengingat besok akan mati. Namun akhirnya dia pasrah, sebab dia gelisah atau takut pun kematian harus dijalaninya esok hari. Maka dia berusaha menikmati sisa hidupnya yang sempit. Ini menimbulkan kegembiraan. Mengapa orang terbeban akan hari esok yang belum ada? Apakah dia yakin bahwa esok dia masih hidup? Buat apa menggelisahkan hari esok jika Tuhan sendiri belum memberikan jaminan pasti bahwa orang akan sampai pada hari esok. Dalam hal inilah aku rasa pentingnya pasrah. Keberanian untuk menerima masa lalu dan hidup masa kini tanpa digelisahkan oleh masa mendatang.

Orang tadi mempertanyakan apakah Tuhan ada?

Ya, pertanyaan ini sering kali muncul pada orang yang sedang dalam penderitaan. Kegagalannya membuat orang itu menggugat Tuhan. Mengapa orang menjadi ingat Tuhan disaat dia masuk dalam masa gelap? Adilkah dia kalau menuntut Tuhan untuk berlaku adil? Pada saat dia membuat rencana, Tuhan tidak dilibatkan. Dia merasa dengan apa yang dimilikinya mampu menyelesaikan masalahnya, namun setelah tidak mampu maka dia menyalahkan Tuhan. Jika dia tidak memasukan Tuhan dalam rencananya mengapa dia sekarang menuntutNya?

Dalam hidup sehari-hari Tuhan sering menjadi kernet. Sedangkan manusialah sopirnya. Tuhan hanya dimasukan dalam rencana manusia, padahal Ia adalah Maha kuasa yang mempunyai rencana yang jauh dari kemampuan akal budi dan perhitungan manusia. Orang tidak mau mencari kehendak Tuhan, sebab dia sibuk dengan kehendaknya sendiri. Orang tidak mau mencari tahu rencana Tuhan, sebab dia sudah yakin akan rencana hidupnya sendiri. Orang tidak berusaha menjalankan rencana Tuhan, sebab dia tidak melihatnya. Orang hanya melibatkan Tuhan dalam rencananya sendiri.

Orang tadi pun mengatakan bahwa sebelum dia melakukan rencananya dia sudah berdoa agar semuanya berhasil. Bagiku dalam hal ini pun dia hanya memasukan Tuhan sebagai pendukung rencananya. Tuhan tetap sebagai kernet yang dibutuhkan ketika dalam menghadapi bencana atau untuk mendukung keinginan. Jika demikian mengapa Tuhan dimintai tanggungjawab?

Dalam hal ini memang dibutuhkan kerendahan hati. Sikap untuk mencari kehendak Tuhan. Orang tadi bertanya bagaimana dia bisa melihat kehendak Tuhan? Yesus pun pernah berfirman bahwa orang bisa melihat kalau ada awan maka akan turun hujan. Orang mampu meramalkan tanda-tanda alam. Ini diperoleh dari pengalaman hidup. Jika dari hidup orang mampu meramalkan kehendak alam, mengapa dia tidak mampu mengetahui kehendak Tuhan? Apakah Tuhan tidak pernah menunjukkan tanda-tanda-NYA dalam hidup? Aku yakin pasti sudah!  Hanya saja orang tidak serius mencari kehendakNya. Orang tidak mau dengan rendah hati melihat semua peristiwa hidup dalam kaca mataNya. Orang mengabaikannya dan melihat segala sesuatu sebagai hasil usahanya.

Kepasrahan bukan hanya keberanian untuk hidup saat ini melainkan juga keberanian memposisikan Tuhan sebagai sopir dan memposisikan diri sendiri sebagai kernet. Orang yang mengikuti kehendak Tuhan dalam hidupnya. Namun ini masih butuh perjuangan. Seandainya saja orang tadi mau berpasrah mungkin dia tidak perlu galau seperti saat ini. Dia akan tetap bersemangat untuk berjuang mempersiapkan hari esok dengan penuh kegembiraan. Dia tidak akan putus asa dan meratapi masa lalu atau kegelisahan masa datang. Semua dikembalikan pada Tuhan, sebab dia hanya seorang kernet !

 

logo_1543818_web

3 thoughts on “TUHAN SEBAGAI KERNET

  1. Good story…^=^
    Yaa.. Tuhan tidak pernah salah sebab Dia adalah Tuhan Maha segalanya. Apalagi Dia adalah Sang Penjunan/Pencipta yg mempunyai kedaulatan penuh atas kita sebagai tanah liat ciptaanNYA.
    Yaa.. Libatkan Tuhan Yesus Kristus dalam setiap aspek kehidupan kita, merupakan keputusan yg bijaksana, tanpa melihat hasil akhir karena kadang hasilnya tidak sesuai dg yg kita inginkan tapi itu semua diijinkan Tuhan terjadi untuk melatih&mendidik kita untuk menjadi sesuai dg kehendakNYA.
    Yang pasti kita aman dalam tangan Tuhan Yesus Kristus. (Mzm31)
    Bahkan Dia sanggup mengubah kutuk menjadi berkat.
    Sampai masa putih ramputpun Tuhan tetap menggendong sebab Dia adalah gembala yg baik. (Mzm23)
    Praise The Lord.
    Hosanna bagi Sang Raja Damai, Yesus Kristus Tuhan…
    We love you Lord… No one can compare with YOU. YOUR plans Never fail, Must be Done as YOUR will. Thanks Jesus.

    Have blessed day with Holy Spirit
    ⌣»̶·̵̭̌·✽τнänκ чöü✽·̵·̵̭̌«̶⌣. Jbu

  2. Pagi.Kisah yg bagus baget.
    Mendidik& menegur kita utk selalu belajar utk Mengandalkan Tuhan dlm setiap aktifitas setiap hari,belajar utk Percaya akn setiap Janji&Rencana2NYA dlm hidup kita,belajar utk merendahkan hati kita utk mau didik mjd pribadi yg dewasa dlm Iman.belajar utk selalu miliki Hati Bersyukur dlm segala hal.
    Thank u Ko Gi ats kisahnya.met bertugas.tetaplah trs melayani,berkarya,tetap jd diri sendiri& tetap tersenyum.Semangat7x.Gbu

  3. Medicine is needed by this man. And the medicine is get back up again. Only he can help himself. In fact, nobody has never failed. Nobody is pecfect!

Comments are closed.