Toxic Positivity. Harusnya kan jadi semangat. Lha malah jadi terasa menyengat! Ini kisah saya.

Udah! Gak usah mikir yang sedih-sedih! Positive thinking aja lah!”

Ah, kamu mah gak seberapa parah! Tenang aja! Malah ada yang di-ventilator terus mati!”

“Ayo cepat bangkit! Semangat! Kamu kan biasanya nulis-nulis yang inspiratif gitu. Ayo nulis lagi!”

“Lha gitu aja gak berat bro. Kalau kamu jadi aku gimana? Aku lebih parah keadaannya!”

“Hmmm..Hati-hati loh mungkin kamu mesti periksa lagi deh ke dokter!”

Dan lain-lain….

 

Masih banyak lagi beberapa kalimat penyemangat dari teman-teman, saat saya isolasi mandiri. Hampir satu setengah bulan lamanya. Saya tahu persis, mereka mengasihi saya. Tapi mereka mungkin belum mengerti aja tentang toxic positivity.

Kalimat-kalimat seperti itu malah membuat saya lebih lemah daripada sebelumnya. Seolah semua emosi-emosi negatif yang saya rasakan itu gak normal. Sepertinya gak wajar kalau seorang yang disertai Tuhan begitu! Harus strong terus!

 

Divonis kena SARS_cov_2 serumah udah bikin saya down banget saat itu. Belum lagi gak kunjung negatif!

Apalagi kalau lihat kondisi Mama saya yang udah 91 tahun usianya. Waduuuhh….setiap saat saya cemas!

Namanya aja lansia. Mama lemes banget saat kena covid. Bahkan sampai beberapa kali jatuh saat berjalan. Hitungan detik bisa berubah lebih buruk keadaannya.

 

Ada aja masalah lain waktu kami isolasi mandiri. Yang atap rumah banyak bocor di banyak titik lah. AC yang udah gak dingin lagi lah! Nah itu bukan masalah besar mestinya. Tinggal panggil aja tukang langganan kan?

Masalahnya kami serumah terpapar virus. Masa masukin orang ke rumah? Gak mungkin kan! Stress pokoknya!

 

Dan puncak stress saya meluap saat Mama drop kembali. Padahal baru 2 hari sebelumnya waktu itu, baru saja dinyatakan negatif untuk test PCR-nya. 2 hari saya wira-wiri ke IGD Rumah Sakit.

2 dokter yang berbeda mengatakan hal yang sama. Mama harus diopname untuk diobservasi lebih lanjut.

Saya pilih opsi rawat jalan dengan menandatangani surat penolakan rawat inap di Rumah Sakit. Sedih rasanya!


Dari titik itu pertahanan kekuatan iman saya jebol. Seperti mau gila rasanya!

Tuhan…kenapa kok bertubi-tubi begini???
Saya udah gak kuat lagi Tuhan!
Dapat uang darimana lagi saya kalau sampai Mama harus rawat inap lagi di Rumah Sakit?

Di saat masa-masa sulit saya itulah, kalimat-kalimat penyemangat hadir di WA. Bahkan saya sangat berterima kasih sedalam-dalamnya kepada beberapa sahabat yang membantu secara keuangan untuk kami berobat.

Padahal saya diem-diem’an aja di sosmed tentang keadaan saya. Update status aja kagak! Gak mau saya melakukan praktek “iman bisik-bisik“!

 

Tapi, Tuhan tidak pernah diam. Segala macam cara kok Dia bisa tempuh. Saya bersyukur Tuhan sudah menyembuhkan dan menolong kami serumah.

Nah. Itu sedikit kesaksian saya. Baru bisa nulis sekarang. Saya kan udah janji mau nulis lebih detail tentang hal ini.

 

Balik ke toxic positivity. Apa itu?

Beberapa kalimat penyemangat dari teman-teman yang saya contohkan di awal tadi saat itu,  malah terasa menyengat. Toxic positivity justru membuat saya makin merasa lemah, bahkan bisa menjadi pemicu gangguan psikis loh!

Saat seseorang terus menerus mendorong sahabatnya yang sedang mengalami musibah untuk melihat sisi baik dari kehidupan.

Tanpa mempertimbangkan pengalaman yang dirasakan sahabatnya itu.
Tanpa memberi kesempatan sahabatnya untuk meluapkan perasaannya.

Nah itu ciri-ciri kita sudah melakukan toxic positivity.

 

Urban Dictionary menjelaskan, kalimat seperti “Kalau kamu tetap positif, kamu akan mengatasi segala kesulitan yang ada” mengabaikan perasaan sesungguhnya dari orang yang sedang bermasalah.

Sepertinya perasaan negatif yang dialami dan ingin diungkapkan orang tersebut gak penting gitu bagi lawan bicaranya.

 

Makanya banyak orang berpura-pura nampak terlihat kuat atau bahagia alias baik-baik saja di depan banyak orang. Dia pikir daripada saya dihakimi dengan kalimat-kalimat yang toxic ya mending saya pendam aja emosi dan perasaan negatif ini.

Akhirnya numpuk! Bisa memicu stress, kecemasan, bahkan depresi.

Its OK not be OK! Santuyyyy teman!

 

Mungkin Anda bertanya, lha terus saya mesti bagaimana dong kalau gitu? Kan harus menolong menyemangati teman saya.

Tidak ada hal lain yang dibutuhkan orang saat lemah selain empati. Bukan sekedar simpati. Apalagi IM3!

Hahaha! Gak…gak…! Canda bentar biar Anda gak tegang baca tulisan saya yang agak panjang kali ini.

 

Biar lebih jelas, langsung kongkrit ke contoh-contoh kalimatnya aja. Nih bedanya. Coba dirasakan sendiri.

Nah, gimana? Udah jelas atau makin bingung? Hehehe…!

 

Yang terus belajar dan berproses memaknai kehidupan,

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n



Download aplikasi Gideon Yusdianto di Playstore untuk mendapat update kumpulan tulisan saya.