TIPU MUSLIHAT

Di Pelabuhan Heisaka di Mikawa ada seorang penjual beras yang selalu membuat khawatir para awak kapal. Dengan tipu muslihatnya, dia selalu mengelabui awak kapal. Dia menyamarkan diri menjadi gundukan batu tempat awak kapal menambatkan perahu. Ketika berlabuh di pantai untuk bersenang-senang, mereka akan mencari sesuatu untuk menambatkan kapal, dan di Pelabuhan Heisaka memang tidak ada gundukan batu sebagai penambat kapal.

Ketika kapal datang pada malam hari, mereka selalu mencari gundukan. Mereka tidak mengetahui tipuan penjual beras. Mereka menganggap di sana ada gundukan yang tepat untuk menambatkan kapal. Namun, tak lama kemudian kapal ini akan terlepas.

Dengan banyaknya awak kapal yang tertipu oleh penjual beras, orang yang datang ke pelabuhan semakin hari semakin berkurang. Oleh karena itu, beberapa orang pemberani memutuskan memberi pelajaran pada si penjual beras.

Suatu malam ketika bulan bersinar penuh, empat orang menyembunyikan tali dan pentungan di dalam perahu. Mereka sengaja berbincang-bincang di luar dengan suara keras. Suasana di sekitar pelabuhan gelap, tapi permukaan air berwarna keperakan dan bercahaya terkena sinar bulan.

“Di sinilah tempat yang bagus untuk mendarat. Sayang tidak ada gundukan batu,” salah seorang laki-laki sengaja berkata dengan keras.

Tiba-tiba sebuah gundukan batu muncul di dekat tepian pelabuhan.

Orang-orang saling berpandangan, tapi berpura-pura tidak mengetahui kehadiran gundukan batu itu. Mereka berbicara keras tanpa memperdulikannya.

Sebuah suara kecil terdengar dari dalam air, “Gundukan, gundukan.” Penjual beras itu bodoh. Dia kesal dengan ketidakpedulian orang-orang itu. Itulah sebabnya dia memanggil-manggil seperti itu.

“Oh, itu ‘kan gundukan batu,” kata seorang laki-laki muda sambil menunjuk ke gundukan batu itu. Mereka tertawa, “Iya, ya, kita tidak menyadari sebelumnya.”

Akhirnya, mereka mengeluarkan tali dari perahu dan dengan cepat mengikatkannya pada gundukan itu. Tali itu panjangnya dua kali panjang tali yang biasa mereka gunakan. Mereka mengingatkan tali itu berkali-kali lalu menyambungkan ikatannya ke perahu. Kemudian, mereka mengambil pentungan yang disembunyikan di perahu dan bersama-sama mengelilingi gundukan batu itu serta memukulinya.

Tiba-tiba gundukan batu itu menangis dan menghilang entah ke mana. Sejak saat itu awak kapal tak pernah lagi menemukan gundukan batu itu. Si penjual beras akhirnya bekerja seperti biasa dan berhenti menipu orang-orang di daerah pelabuhan itu.

_____________________________________

Hahaha…makanya jangan suka menipu !

Menipu tidak apa-apa, asal jangan sampai ketahuan. Ini sebuah ungkapan yang terkadang kita suka dengar bukan ?

Sebetulnya tidak perlu menipu untuk bisa hidup, tidak perlu menipu untuk bisa berhasil, tidak perlu menipu untuk bisa hidup layak. Tidak ada satupun alasan yang bisa membenarkan penipuan. Hidup jujur tidak akan pernah merugikan kita. Jangan sampai kita tergiur untuk mendapatkan keuntungan sesaat, tapi akibatnya kita harus menanggung resiko yang fatal di kemudian hari.

Marilah kita terus melatih diri kita untuk hidup jujur dan benar di hadapan Tuhan. Dan Tuhan akan selalu melimpahkan segala kebaikan bagi kita yang berusaha sungguh-sungguh untuk hidup kudus sesuai kehendakNya.

logo