Ternyata masih ada solidaritas di balik perbedaan. Apaan tuh?

Sebenarnya belum lama kok saya ini menjadi penikmat kopi. Kalau boleh pinjam istilah, saya lagi first love nih ama biji kopi yang awalnya hijau, disangrai, kemudian diseduh menjadi coklat kehitaman. Sedapnya seruputan manual brew selalu saya kangeni tiap hari. Biasanya lebih senang dengan filter V60.

Dulu, saya benci banget ama minuman yang berbau kopi. Waktu SD nyoba minum kopi merk N itu. Eh, malamnya mata ini bersinar terang bagaikan ada efek sunrise di bola mata. Hahaha! Hiperbola yak!

Sekarang bila minum secangkir kopi Arabica, tanpa gula, tanpa susu, asli sli, malah langsung hoaaaam…pengen tidur. Kayak ada penenangnya.

Bermula dari event Urban Coffee Week yang diadakan oleh @mvp.id , perusahaan di mana saya bekerja, saya mulai membuka diri untuk belajar apa sih ngopi itu.

Lha gimana gak mau belajar, wong saya ditaruh di divisi promosi. Masa ya ga ngerti sama sekali tentang kopi. Kan ya konyol banget!

Belajarnya dari tokoh-tokoh perkopian di Surabaya. Masih ingat bagaimana saya harus belajar cupping. Belajar merasakan berbagai seduhan jenis kopi dan belajar merasakan berbagai rasa yang muncul, selain pahit. Nah yang beginian gak pernah kebayang loh!

Masa dengan takaran air, suhu, dan teknik filtering yang berbeda, bisa berubah rasanya tuh kopi! Bukan cuma pahit, tapi ada rasa buah lemon, ada harum bunga rose, ada hangatnya bau rempah, dan ada gurih rasa kacang dan rasa-rasa yang lain, kecuali rasa yang pernah ada. Nah loh jadi baper!

Sensasi begituan kagak bakal bisa dijumpai dari kopi sachetan!

Tapi yang terutama saya pelajari, ada solidaritas tersendiri di antara komunitas kopi. Baik dari para pemain bisnisnya maupun para penikmatnya. Yang gak pernah kenal sebelumnya, bisa ramah dan menyambut kita bak keluarga, begitu ada bahasa yang sama, yaitu kopi! Ini luar biasa So! Sodara-sodara maksudnya. Hehehe!

Baik dari kelas warung kopi, kedai kopi, coffee shop sederhana hingga mewah, semua menampakkan ciri yang sama. Seolah batas penyekat di antara kita itu disobek-sobek. Duduk semeja sambil ngobrolin tentang inspirasi secangkir kopi dan sebongkah persoalan-persoalan yang ada. Ngalur ngidul ngocehnya, tahu-tahu udah 2 jam duduk bersama.

Jadi harusnya di tengah perbedaan-perbedaan yang ada di negara kita Indonesia, bahkan tak jarang sengaja dipertajam perbedaannya, masih ada kok alasan untuk kita tetap semeja guyub dan bersatu padu. Sesekali boleh lah ngrasani Indonesia disertai dengan action plan yang nyata, sesuai dengan bidang kita masing-masing.

Saya belajar ternyata gak cuma Mobile Legends dan PUBG Mobile di HP saja yang bisa membuat kita bersaudara. Walaupun sesekali suka saya lihat, ada yang sendirian nongkrongnya dan begitu cueknya dan asyiknya bergoyang badannya memainkan games online tersebut di gadgetnya. Mumpung ada wifi kenceng dan gratis! Hahaha!

Petang ini, saya ketemu @corneliustirtasewana di @starbucksindonesia @galaxymallsby 3. Dia yang masih ingat saya duluan. Kaget begitu disapa nama saya olehnya.

OMG! Dulu saya kenal ia masih kecil di Gereja. Sekarang dah jadi barista hebat yang ngajarin orang awam untuk brewing kopi di sana. Kapan-kapan belajar ah sama Cornel!

Cornelius (kanan) lagi ngajarin berbagai teknik brewing

Saya mau belajar jujur juga ama si kopi. Dia tak pernah berpura-pura menjadi manis! Tapi pahit dan manisnya bertemu dalam sebuah kehangatan seduhannya.

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n