TERBURU MENGHAKIMI

Siang itu, gerbong kelas ekonomi di sebuah rangkaian kereta api itu penuh dengan penumpang. Termasuk kedua pasangan ini.

Bangku dihadapan keduanya masih kosong dan berharap tidak ada penghuninya. Tapi doa mereka tidak terkabul. Seorang ayah dan anaknya duduk di sana.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ayah dan anak ini. Hanya saja, anaknya ini walau sudah bisa dibilang sudah remaja bertingkah seperti anak-anak.

“Yah… ayah lihat… keretanya jalan,” kata sang anak senang. Ayahnya tersenyum dan mengusap sayang kepala anaknya.

Tak lama. “Yah… ayah lihat… awannya bergerak,” kata anak tak kalah senang. Lagi-lagi sang ayah tersenyum sayang.

Berbeda dengan pasangan yang duduk dihadapannya. Mereka merasa terusik. Mereka merasa anak di depannya ini memiliki masalah keterbelakangan mental.

Lalu anak itu kembali berucap. “Yah… ayah lihat… ada pelangi,” ungkap bahagia anak itu. Sang ayah lagi-lagi tersenyum.

Gerah. Pasangan itu menegur sikap anaknya melalui ayahnya.

“Kenapa anak Anda tidak dibawa ke dokter saja?”, kata si pria tidak sabar.

Ayah itu tersenyum maklum. “Sudah saya bawa. Sebenarnya kami baru saja ke luar dari rumah sakit. Sebelumnya, anak saya ini buta”, kata ayah itu pelan. Mendengar itu, pasangan itu terdiam.

_____________________________

Jika saat ini kita masih merasa sebagai orang yang paling benar dan menempatkan orang lain selalu menjadi terdakwa, ingatllah, dengan penghakiman yang kita pakai untuk menghakimi, kita pun akan dihakimi dan ukuran yang kita pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepada kita

Jika ada saudara kita yang lemah dan jatuh, justru itulah kesempatan bagi kita untuk menunjukkan kasih dengan menolong dan menguatkan, sehingga dia segera bangkit dan dipulihkan. Jangan menjadi hakim dan malah menjatuhkan vonis.

logo