TERBANG

Max meraih rantai tautan logam. Terasa dingin, tapi dia tidak menghiraukannya.

Ia menggunakan seluruh kekuatannya untuk menarik dirinya ke karet hitam ayunan, berbentuk kursi pisang. Ia ingin menaikkan berat badannya ke langit dan meluncur kembali turun.

Tentu saja, ia tidak bisa menjelaskan seperti itu. Maklum umurnya baru lima tahun. Dengan kata-kata dan pengalaman yang telah terkumpul dalam hidupnya yang singkat itu, ia hanya berpikir, “Aku ingin terbang!”

Saat itu hari ketiga Max bersekolah di TK. Saat beristirahat, Max menghampiri ayunan. Setelah di ayunan, Max tahu apa yang ia lakukan agar bergerak. Ayah dan ibunya telah melatihnya di taman bermain. “Kaki depan. Kaki belakang. Kaki depan. Kaki belakang,” kata ayah.

Ibu akan berkata, “Mencapai jari-jari kaki ke langit dan kemudian ayunkan tumit ke pantatmu.” Ia merasa konyol, mengatakan bokong. Tetapi ini selalu membuatnya tertawa.

Masalahnya adalah, Max benar-benar tidak tahu seberapa dirinya bisa bergerak. Tentu, ia dapat bergerak beberapa inci ke depan dan belakang, tapi ia tidak bisa terbang. Untuk terbang, Max memerlukan dorongan. Setelah ia memulai dan beberapa kali mencoba, ia bisa tetap terbang, dengan kaki depan, kaki belakang.

Max duduk di ayunan. Ia mendorong jari-jari kakinya ke depan. Ia menarik tumitnya kembali. Lagi dan lagi. Ayunannya berpaling ke kiri dan kanan.

Max tidak gampang menyerah. Dia beristirahat, membiarkan ayunan tegak dan mulai lagi – kaki depan, kaki belakang.

Ibu Sherman, seorang guru TK itu, melihatnya dari kejauhan. Sulit baginya untuk tidak terburu-buru membantu. Namun bukankah mengajar tidak sekadar memberikan seekor ikan?

Setelah lima menit melihat perjuangan Max, dia memutuskan untuk memberikan dorongan. Dia berjalan melintasi serpihan kayu segar dan berkata, “Hey Max! Aku punya beberapa energi ekstra dalam pelukanku. Lihat – mereka semua.” Ia mengibaskan tangannya dan memutar-mutar tangannya membentuk lingkaran besar.

“Dapatkah saya memberikan sesuatu untuk dilakukan? Dapatkah saya menggunakannya untuk memberikan dorongan?” tanya sang ibu.

“Ya, silakan,” kata Max, berkedip. Saya terus mencoba, tapi saya tidak bisa terbang sendiri.”

Ibu Sherman menyambar rantai. Dia mendorong ke depan dan berkata, “Satu.” Masih memegang rantai, dia mendorong maju lagi dan berkata, “Dua.” Pada dorongan ketiga dia bertanya, “Siap?”

Max berteriak, “Ya!” Sambil tertawa.

Ibu Sherman mendorong Max cukup hingga ketinggian tertentu. Lalu ia melepaskan rantai dan bergabung dengan guru lain.

Max terbang sampai bel istirahat selesai berbunyi.

Dan setelah itu, Max dapat “terbang” sendirian.

____________________________________________

Ketika kita menyerah kalah, kita tidak pernah tahu bahwa sebenarnya kita sudah dekat sekali dengan keberhasilan. Maka, terlalu bodoh kalau saat ini kita menyerah kalah. Sebelum anda menyerah, mari kita berserah kepada Tuhan.

Minggu hari ini saya melayani pemberitaan Firman Tuhan di Gereja JKI di bilangan pusat Surabaya. Selamat hari Minggu buat anda semua !