TALI AJAIB

Alkisah, ada seorang anak laki-laki yang berusia 10 tahun. Di usianya yang masih kanak-kanak, ia merasa kehidupan anak-anak tidak lagi menarik baginya. Ia ingin menjadi seorang remaja. Sebab, ia berpikir kehidupan remaja akan lebih menyenangkan. Oleh karena itu, untuk memenuhi keinginannya, ia menarik tali ajaib pembelian seorang.

Setelah ia menarik, kini ia sudah remaja. Akan tetapi ia kecewa melihat perubahan dalam wajahnya. Wajahnya yang dulu masih mulus kini sudah dipenuhi jerawat. Karena malu dengan teman-temannya, ia kembali menarik tali ajaib itu.

Sekarang, ia memasuki usia 25 tahun. Ia juga sudah menikah dan mempunyai anak. Sebagai kepala keluarga, ia membutuhkan finansial yang cukup agar istri dan anaknya bisa hidup makmur. Tapi ia sadar, ia masih muda dan butuh sedikit lebih tua agar semakin mapan. Dan ia kembali menarik tali ajaib itu.

Di usianya yang memasuki 30 tahun, ia sudah mendapat posisi tinggi. Namun ia tidak begitu puas. Ia ingin menjadi lebih tinggi. Dan ia menarik talinya lagi lalu membawanya ke posisi manager.

Di saat karier dan ekonomi keluarganya sangat baik, ternyata ia memiliki dua anak yang sedang memasuki masa remaja. Kedua anaknya sering membuat masalah dan bergaul dengan lingkungan yang tidak baik. Agar kedua anaknya tidak masuk ke lingkungan yang salah, ia kembali menarik tali ajaib itu.

Kini, ia terbawa pada masa ia dan sang istri hidup di rumah dan menikmati kebersamaan. Sayangnya, di antara kebersamaan-kebersamaan itu timbul beberapa masalah yang membuatnya tidak suka. Karena tidak sabar menghadapi masalah ia kembali menarik talinya.

Kali ini, ia masuk pada masa pensiun. Sayang, ia tidak suka dengan masa pensiun tersebut. Ketika menarik tali, ia harus menghadapi serangkaian tes kesehatan karena fisiknya semakin tua. Merasa khawatir, ia kembali mencari tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Sampai akhirnya ia menemukan dirinya berada di dalam kotak kayu dalam keadaan kaku dan tidak bernyawa.

____________________________________

Janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.

Jalani saja kehidupan hari ini dengan penuh ucapan syukur. Jangan tunggu semua masalah menjadi ringan, barulah kita mengucap sykur. Bukankah ucapan syukur yang membuat hidup ini terasa lebih ringan. Dan sadari bahwa Tuhan tidak pernah terlalu iseng menaruh sebuah kejadian kepada kita hari ini. Semua ada dalam pengendalian rencanaNya.