Takut, terus jadi plooong banget!

Aduuuuh…! Gimana ya man teman!

Kita ini binatang kecil. Bisa aja habis ini kita diterkam mati dan gak ketemu lagi!” kata Si Kelinci kepada gerombolannya.

Ho oh! Kita ini mau terbang menghindar, gak punya sayap. Mau lebih gagah gak punya tenaga!” demikian sahut temannya yang gelisah karena telinga mereka yang panjang itu selalu tajam mendengar ancaman musuh datang.

Merasa terus menerus dihantui oleh rasa takut yang berlebihan, akhirnya mereka memilh untuk mati saja. Bunuh diri massal! Begitu planning mereka.

Caranya? Lompat dari tebing tinggi yang curam! Biar cepat mati dengan sukses, katanya.

Ketika rombongan sedang otw (on the way) ke tempat yang sudah ditentukan, ada Si Katak jomblo yang kaget melihat arak-arakan kelinci tersebut.

Katak jadi ketakutan gak karu-karuan karena dia pikir tamatlah nasibnya bila rombongan kelinci yang banyak itu memangsanya.
Satu lawan banyak musuhnya, mampus dah!

Katak tidak pernah tahu kalau kelinci tidak pernah doyan makan swike.
Entah itu dimasak tauco atau digoreng pedas. Kan kelinci vegetarian!
Hehehe…

Karena ketakutan dengan pengertiannya sendiri, lompatlah sang katak ke tepi jurang yang curam dan matilah ia bunuh diri!

Nah teman, sudah terbukakah pikiran Anda dengan dongeng fiktif ini?

Kalau ditanya, apa saya gak pernah punya rasa takut?
Ya punyalah!

Teruuuuss so what?
Kalau saya takut maka Anda hakimi saya sebagai orang yang gak punya iman?

Bukankah ketakutan itu sebagai signal agar kita lebih waspada dan cari perlindungan diri.

Yang jadi tidak wajar adalah bila ketakutan, kekuatiran, cemas, gelisah, dan kroni-kroninya itu hinggap menetap dan terus menerus ada dalam perasaan kita.

Berapa banyak coba orang rela mengeluarkan koceknya untuk sebuah pil yang katanya bisa menenangkan pikiran mereka.

Yang terkenal sih merknya Xanax!
Anda pernah konsumsi itu?

Itu pun harus dengan resep psikiater atau dokter untuk mendapatkannya.

Jadi begini, orang yang menikmati kasih Tuhan tidak mengenal perasaan takut.
Karena kasih yang sempurna melenyapkan segala perasaan takut itu.

Jadi bukan pil penenang loh ya yang menghilangkan rasa takut itu.

Saat saya menulis ini, baru saja saya lepas dari rasa takut itu.

Takut apaan Gideon?
Hahaha…kepo nih ye?!
Gak perlu juga kan saya iman bisik-bisik di sini?

Yang jelas namanya orang hidup kan pasti ada pergumulan.

Tapi yang penting, bagaimana kita menang dari pergumulan itu.

Dan kemenangan dari pergumulan itu tidak ada hubungannya dengan selesainya masalah kita.

Jadi, selesai gak selesai dikumpulkan!

Oppps.
…Bukan…Bukan!
Itu kan kalimat Sang guru kelas saat suasana ujian sekolah.
Hehehe…!

Selesai gak selesai masalah yang ada, kita tetap bisa jadi pemenang kok!
Amin?!

Kemenangan pergumulan tidak ada hubungannya dengan keadaan kita hari ini.
Tapi sangat berhubungan dengan keputusan!

Keputusan apa kalau begitu yang membuat saya lepas dari takut itu?

Lihat kisah Yosafat saat dikepung oleh musuh yang besar dalam 2 Tawarikh 20:3a
Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari Tuhan

Mencari Tuhan?
Emang Tuhan hilang apa?

Bukan Tuhan yang hilang dan menjauh, tapi kita yang sukanya lari menjauh dariNya.

Jadi tidak ada pilihan lain saat Anda ketakutan akan musuh pergumulan yang sangat besar itu.
Cari Tuhan, kembali padaNya!
Ia selalu ada buat kita, menyambut kita kembali di pelukanNya.

Ketakutan masalah keuangan dan masa depan-kah?
Ketakutan akan penyakit yang ada di dalam tubuh kita-kah?
Atau ketakutan yang lain-lain-kah?

Ambil keputusan sekarang, mendekat dan mendekap pada Tuhan!

Itulah sebabnya, saat saya berjalan menyusuri trotoar, sepulang dari makan siang hari ini, saya bernyanyi-nyanyi terus sepanjang jalan.

I surrender all
I surrender all
All to Thee my Blessed Savior
I surrender all

Plong banget!

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n