Selesai Dengan Dirinya Sendiri. Apa maksudnya? Ciri-cirinya? Bacalah, jangan-jangan itu Anda!

Dalam sepanjang kehidupan pekerjaan maupun pelayanan saya, acapkali saya menerima kritikan. Dari yang paling kalem, sampai yang paling nge-gas mbleyer-mbleyer.

Apalagi semakin besar diameter lingkaran pengaruh kita, wah bisa makin bergaung tuh omongan-omongan orang yang ditujukan kepada kita. Baik yang rasan-rasan (ngomong di belakang kita) hingga yang tunjek point.

Saya bisa merasakan kok mana kritikan positif, mana kritikan yang negatif. Jangan terlalu baper toh menanggapinya, sampai seolah-olah semua orang adalah oposisi kita.

Kritikan positif justru itu adalah suplemen untuk kemajuan diri di masa depan. Saya hari ini berubah lebih baik tentunya juga karena kritik membangun dari orang-orang lain yang mengasihi saya.

Nah kalau yang negatif?

Dia itu mana bisa memuji saya? Bawaannya pokoknya saya ini salah terus! Gak ada bener-benernya. Kurang ini lah, kurang itu lah! Ah sudahlah Pak Gideon. Tolong doakan saya saja agar duri dalam daging itu dicabut!” demikian curhat seseorang ama saya ketika menghadapi client-nya yang dinilai cerewet dan suka menjatuhkan dia di depan orang lain.

Kok bisa ya Bro, elu itu kok diam aja dihina begitu? Kalau saya digituin, ehmm…..udah tak kaplok tuh orang!” demikian kata seorang sahabat saya. Dia menilai saya lemah bila tidak membalas perlakuan orang yang negatif kepada kita.

Ya! Saya lebih memilih diam ketika dikritik tajam dan itu destruktif. Buat apa itu diladenin kalau memang perkataannya sama sekali gak ada dasar kebenarannya? Gak mau saya terbawa arus jurus maboknya. Hehehe…!

Sahabat saya yang lain bilang, itulah saya! Selesai dengan dirinya sendiri katanya. Apa maksudnya? Mungkin kalimat yang lebih Anda pahami adalah telah berdamai dengan diri sendiri.

 

Bagaimana ciri-ciri orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri?

 

1. Apapun omongan orang lain tentang dirinya, se-negatif apa pun, tidak membuatnya jadi kebakaran jenggot.

Ia lebih fokus mencari tahu apa kata Tuhan tentang dirinya. Seperti lagu ini.

Hidupku hanya ditentukan oleh perkataanMU….” begitulah tulis Sari Simorangkir di lagunyaBagi Tuhan Tak Ada Yang Mustahil.”

 

2. Ia paham betul siapa dirinya. Bisa menerima dirinya dengan segala kekurangannya tanpa harus jadi minder. Dan tahu segala kelebihannya tanpa harus jadi sombong.

Still you hear me when I’m calling. Lord, you catch me when I’m falling. And you’ve told me who I am. I am yours….” Yak! Itu lirik. lagu “Who Am I” kesukaan saya dari Casting Crowns.

Jadi artinya, jelek-jelek gini saya adalah milik Tuhan, ciptaan Tuhan yang berharga. Daripada situ, ganteng sih ganteng, cantik sih cantik, tapi ciptaan Camera 360! Hahahahahaha!

 

3. Ia mampu menerima orang lain sebagaimana adanya. Mengasihi mereka yang tak sempurna dengan cara yang sempurna.

Sebisa mungkin saya akan meminta orang lain untuk do the best. Tapi saya sadar, versi the best tiap orang berbeda-beda.

Memang Tuhan ciptakan manusia di sekitar kita itu unik-unik. Sering saya jumpai orang yang lemah di bidang A, dia memperlengkapi orang lain yang lemah di bidang B.

 

Saya banyak melihat seseorang yang punya potensi besar dalam hidupnya. Tapi gak jadi-jadi. Karena mereka masih belum selesai dengan dirinya sendiri.

Nah kalau udah gini bukannya jadi batu loncatan buat orang lain, tapi jadi batu sandungan!

Orang yang selesai dengan dirinya sendiri, kakinya tetap menapak bumi menjalani realitas, tetapi ego ke”aku”annya sudah ditaklukkan dengan kebersihan hati yang telah disucikanNya.

 

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n