SECURITY INI GAGAH BERANI MENCEGAH BOMBER MASUK GEREJA, INI PENUTURAN LANGSUNG KEPADA SAYA !

Sabtu, 3 Juni 2018, jam 11an siang.

Rumah di bilangan Bibis Tama itu adalah sebuah kamar kos yang kecil dan sangat sederhana. Di sanalah Bapak Yesaya Bayang tinggal bersama istri dan kedua orang putranya yang masih kecil. Hanya terlihat satu buah ranjang queen size dan alat pemutar musik dengan speaker yang sederhana.

Ketika saya datang bersama Nathan, produser dari Radio Bahtera Yudha 96.4 FM Surabaya, pak Yesaya sedang diganti perban di kaki kanannya. Tampak masih ada balutan perban juga di tangan kanannya. Sebuah luka yang cukup serius saya lihat.

Bapak Yesaya Bayang adalah petugas satpam di GKI Diponegoro Surabaya, yang masih diberikan Tuhan kesempatan hidup hingga saat ini. Aksi heroiknya menghalangi 3 orang teroris, terdiri dari 1 orang ibu dan 2 orang anak wanitanya yang masih kecil.

Pak Yesaya berusaha mencegah mereka untuk masuk lebih dalam lagi ke lingkungan Gereja. Inilah yang menimbulkan kesan mendalam buat saya, juga mungkin buat anda. Apalagi kalau lihat rekaman CCTV-nya ! Sudahkah anda melihatnya ?

Setelah proses penggantian perban selesai, saya dipersilahkan masuk ke dalam kamar kos pak Yesaya.

Pak Yesaya, selamat siang !  Perkenalkan saya Gideon Yusdianto dan ini Nathan, produser Bahtera Yudha 96.4 FM Surabaya,” demikian perkenalan pertama saya dengan putra dari kabupaten Alor Nusa Tenggara Timur ini.

Dengan ramahnya pak Yesaya dan istri menyambut kami berdua dan tampak sibuk menyiapkan air minum kemasan buat kami.

 

Maaf pak, tempatnya kumuh. Silahkan masuk !“, kata pak Yesaya yang langsung saya ralat perkataannya soal kumuh.

Pak, kumuh atau bersih itu yang terpenting letaknya di dalam hati kita. Bukan di penampilan luar kita. pak”, kata saya yang disambut oleh pak Yesaya dengan “Amin pak !

Karena masih dalam proses pemulihan, pak Yesaya mengambil duduk di atas kasur. Kaki kanannya yang masih diperban dia sandarkan di atas kasur agar lebih relax. Sementara saya dan Nathan duduk di kursi yang disiapkan. Istrinya duduk di atas lantai, karena sudah tak muat lagi ruangan kosnya.

Sudah sehat pak ?” tanya saya mengawali perbincangan.

Puji Tuhan sudah semakin baik pak”, jawabnya.

Pak Yesaya Bayang ini semula bercita-cita menjadi Insinyur. Tapi karena kondisi keuangan keluarga, ia cuma bisa menamatkan sekolahnya sampai STM bangunan saja. Tahun 1999 ia merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.

Selama di Jakarta, pak Yesaya tinggal di asrama Brimob selama setahun. Di sanalah ia mulai ditempa kekuatan fisiknya. Tiap pagi dan sore mulai push up, angkat barbel dan lari.

Tahun 2000 Pak Yesaya mulai masuk ke kota Surabaya dengan bekerja sebagai satpam di sebuah pabrik pakan ternak Margomulyo. 5 tahun bekerja di sana dengan gaji yang relatif besar, namun pak Yesaya mengaku tidak bisa menikmati hasilnya. Akhirnya ia resign pada bulan November 2005

Desember 2005, berdasarkan info dari pamannya yang majelis saat itu, pak Yesaya melamar kerja sebagai security di GKI Diponegoro. Dan akhirnya sejak 15 Januari 2006 itulah pak Yesaya mulai mengabdikan dirinya sebagai petugas satpam di GKI Diponegoro hingga saat ini.

Ya…apapun lah pak saya kerjakan. Yang penting halal dan bisa menghidupi keluarga. Meski dengan gaji yang lebih rendah daripada sebelumnya, tapi memang saya ini ingin melayani di Gereja.

Kalau mau dihitung secara matematika sih gaji saya tidak akan cukup untuk 1 bulan. Tapi anehnya, Tuhan itu selalu cukupkan kebutuhan kami loh pak. Adaaaa saja berkat Tuhan buat keluarga saya. Jadi saya senang melayani di Gereja meski hanya sebagai satpam” demikian pak Yesaya menuturkan awal karirnya.

Bapak ini termasuk orang pemberani ya ?” ungkap kekaguman saya.

Oh berani sih berani saya pak ! Semua keberanian itu datangnya dari Tuhan kok” jawab pak Yesaya yang mengaku belum pernah berhadapan dengan kasus besar dan serius sepanjang ia bertugas sebagai satpam selama ini. 12 tahun mengabdi di GKI Diponegoro Surabaya pun ia tak pernah menemui kasus seserius seperti kejadian bom pada 13 Mei 2018 itu.

Paling cuma masalah pengendara jalan yang menyerempet mobil jemaat katanya. Tugas sehari-harinya selain menjaga keamanan, setiap ada ibadah pak Yesaya ini membukakan pintu mobil jemaat serta menyambutnya. Juga membantu menyeberangkan dan menggandeng beberapa jemaat yang sudah lansia atau yang lemah fisiknya. Untuk parkir motor dan mobil sudah ada petugas parkir tersendiri.

Nah pak Yesaya, bagaimana sih kejadian sebenarnya pagi itu di GKI Diponegoro ?” tanya saya.

Pagi itu saya dalam keadaan fit bertugas seperti biasa. Bahkan dari Sabtu malamnya, jam 11 malam hingga jam 7 pagi saya sudah bertugas menggantikan teman. Saya nerus kembali bertugas jam 7 pagi hingga jam 3 sore mestinya. 

Anak-anak saya kan sekolah minggu di GKI Diponegoro. Mamanya anak-anak menitipkan bontot makanan buat saya. Belum tersentuh tuh sarapan, saya taruh di atas galon. Saya hanya minum kopi saja.

Waktu itu sekitar jam 7.45an sudah banyak jemaat berdatangan dari segala usia. Mereka sedang persiapan untuk memulai ibadah sesi kedua jam 8 pagi”, tutur pak Yesaya yang masih ingat betul kejadian demi kejadian pagi itu.

Gak ada info apa-apa ya pak seputar terjadinya bom yang meledak di Gereja Santa Maria Tak Bercela sebelumnya ?” tanya saya memastikan.

Tidak ada pak !“, jawabnya. Semua berlangsung seperti biasa sebagaimana hari-hari Minggu sebelumnya.

Minggu itu adalah minggu yang ceria dan suram bagi saya secara pribadi. Saya berdiri di parkiran agak timur. Saya lihat di bagian barat, ada 3 orang dengan pakaian hitam-hitam tertutup, berjalan dari arah Fresh One (Sebuah toko roti yang jaraknya hanya 2 gedung di sebelah barat GKI Diponegoro Surabaya). 

Mereka berjalan bersama-sama, jejer begitu. Cukup cepat jalannya dan sepertinya tidak ada rasa takut. Padahal jalur itu sudah kita pakai sebagai jalur untuk parkiran mobil. Tapi ketika mereka berjalan jejer begitu, artinya 1 jalur diambil lagi.

Mereka berjalan sampai ke batas parkiran. Saya gak tinggal diam. Saya juga jalan dari arah Klinik Estetika (persis di sebelah timur GKI Diponegoro). Mereka jalan, saya pun ikut jalan dari arah yang berlawanan. Saya konsentrasi perhatikan mereka.

Sampai di batas parkiran Gereja, mereka ini kok ambil arah mau masuk ke dalam Gereja  Awalnya saya gak tegur, cuma mau saya potong saja jalannya. Ternyata mereka hindari saya dan berjalan begitu saja melewati saya. Mereka ambil jalur tengah dan mau masuk ke dalam Gereja.

Setelah jalan sekitar 2 meter, si ibu itu langsung tarik anaknya ke depan untuk lari masuk ke dalam Gereja. Ada jemaat di pos satpam, dia biasanya jadi ketua sie keamanan kalau Gereja ada acara . Dia langsung meneriaki saya “Yes itu Yes…itu…!!!”

Spontan saya melangkah mengejar mereka sambil berteriak. Saya gak mikir mau hidup atau mau mati. Yang kepikir saat itu pokoknya mereka bertiga ini harus berhenti !

“Bu… brenti bu !!! Mau kemana bu ??!!  Brenti!”  Dia lirik saya.

Ibu yang tadinya posisinya di depan, dia mundur ke belakang, anaknya yang maju. Anak yang kecil itu sempat ketinggalan, dan ia sempat lirik saya. Saya juga lihat dia. Kami bertatapan mata. Matanya tampak sayu, seolah-olah ia nampak minta tolong ke saya. Tiba-tiba si ibu menarik mereka, nampak panik dan segera berlari untuk cepat masuk.

Begitu saya mau pegang bahunya si ibu itu , belum sempat tersentuh, ternyata booooooom !!! Bomnya meledak. Saya jatuh, mereka pun terjatuh. Saat itu posisi mereka tinggal sekitar 6-7 meter dari pintu masuk Gereja”, tutur pak Yesaya dengan detail.

Ada berapa kali ledakan yang bapak dengar waktu itu ?” tanya saya kembali.

2 ledakan pertama itu adalah dari 2 orang bomber yang anak kecil. Tubuh saya terlindung oleh tubuh si ibunya yang ada di belakang anaknya.

Kaki kanan dan tangan kanan saya yang kena. Saya tetap sadar saat itu.

Jemaat di pos berteriak “ Awas ledakan berikutnya, awas….!!! Menghindar dari ledakan !”. Saya berusaha merangkak keluar sampai ke jalanan.

Ada ledakan ketiga paling besar berikutnya tapi saya sudah tidak tahu, karena posisi saya sudah menghadap ke jalan. Awalnya dengan posisi telungkup kemudian telentang. Saya berteriak minta tolong. Memang sepertinya ada yang mau menolong, tapi mereka diingatkan untuk waspada ada ledakan berikutnya.

Setelah bom ketiga meledak akhirnya saya minta tolong supir Gereja,  tukang parkir, dan rekan security yang lain untuk mengantar saya ke Rumah Sakit terdekat, yaitu di William Booth. Teman satpam saya, pak Dedi, berusaha mengangkat saya. Dari William Booth kemudian saya dibawa ke RSAL.

Saya tahu kalau kaki saya luka sampai tidak bisa berdiri, tangan saya terluka. Bibir ini pecah, hidung juga pecah dan telinga kiri putus, menggantung begitu. Puji Tuhan gak sampai kena mata. Itupun saya tahu keadaan saya setelah hari Kamis, saat saya ditunjuki foto waktu awal masuk Rumah Sakit”, jelas pak Yesaya dengan tegarnya menceritakan hal ini.

Apa yang bapak rasakan dan apa yang bapak lakukan waktu di Rumah Sakit ?” tanya saya kembali

Saya yakin bahwa saya gak akan mati. Saya sadar sepenuhnya. Saya teriak “Yesus toooolooong !! Yesus berkuasaaa !!! Yesus toooolong !!!”  Dalam hati saya, wah ini pasti ada (tubuh saya) yang diamputasi.

Waktu di RSAL dengan tangan dan kaki dibalut, saya tanya perawat, apakah gigi saya masih ada ya? Dijawab saat itu belum bisa terlihat sebab masih tertutup oleh darah katanya. 

“Bapak sabar aja….Bapak siap dioperasi?” tanya perawat.  Demi kesembuhan saya siap diapakan saja, yang penting saya hidup, demikian kata saya ke dokter dan perawat.

“Bapak tenang saja ya…bapak hidup !” ujar perawat menenangkan saya. Begitu saya tahu kepastian bahwa tidak ada kaki dan tangan yang diamputasi, saya makin semangat untuk lekas sembuh !” kata pak Yesaya Bayang.

Bapak berdoa gak waktu itu ?” tanya saya

Hampir tiap jam saya doa di Rumah Sakit pak. Saya bilang “Terima kasih Tuhan ! Tuhan ijinkan ini terjadi dalam hidup saya, maka saya percaya Tuhan juga pasti menolong menyembuhkan luka-luka saya. Ini bukan kemauan saya, ini semua sudah rencana Tuhan. Saya hanya bisa bersyukur”, jawab pak Yesaya dengan senyum.

Bapak sepertinya tidak pernah sedih ya, kelihatan happy terus begini ?” tanya saya lagi dengan penasaran.

Saya gak pernah merasa sedih. Di rumah sakit saya juga banyak guyon dengan dokter dan perawat. Saya selalu happy dan tidak pernah berpikir kenapa kok Tuhan kasih saya kejadian kayak begini.

Cuma hari Senin itu, habis operasi di hari Minggu (Saat kejadian pak Yesaya Bayang langsung dioperasi). Di ruang ICU, saya susah tidur. Mau miring ke kanan tapi kaki ini gak bisa. Mau miring ke kiri, telinga ga bisa.
Senin itu saya teringat anak-anak saya.


Foto pak Yesaya Bayang bersama si kecil

Puji Tuhan, Tuhan masih ijinkan saya hidup. Sendainya saya meninggal, anak-anak saya masih kecil. Yang besar kelas 7, anak kedua baru 5 SD. Mereka masih butuh ayah sebagai pembimbing. Suster lihat saya menangis. Suster bilang “Ayo pak, bikin lucu-lucu lagi. Semangat !”

Akhirnya saya ketemu anak-anak pas Senin siang. Begitu ketemu, saya tanya “Kamu sekolah gak?”. Dijawab tidak sekolah karena saat itu sekolah diliburkan. “Ya sudah kamu jaga-jaga sama mama ya ! Jangan nakal-nakal !”. saya bilang begitu ke anak-anak.

Waktu bertemu istri saya, ia cerita pas malam itu anak saya gak mau ke kamar mandi. Anak saya bilang “Ma…, aku inget papa. Aku inget papa biasa kalau jam segini papa main hp sama aku. Aku gak mau ke kamar mandi Ma…”

Mendengar itu hati saya seperti teriris-iris. Hati saya ini hancur pak mendengar cerita istri saya ini.

Sampai disini pak Yesaya terisak-isak berlinang air mata. Saya pun terdiam cukup lama…

Saya bisa merasakan bagaimana hati seorang ayah yang biasanya selalu meluangkan waktunya dekat dengan anak-anaknya ini sedih, karena harus sementara terpisah dengan keluarga tercinta.

Jika ini kehendakMu Tuhan, kuatkan istri saya, kuatkan anak-anak saya dan kuatkan saya ya Tuhan ! 
Puji Tuhan saya dikuatkan melewati semua ini” lanjut pak Yesaya dengan masih terisak-isak. Saya pun memberi kode ke istrinya untuk memberi kertas tissue ke suaminya.

Pak Yesaya Bayang mengungkapkan syukur dan terima kasih karena semua perawatan sampai pulih ditanggung oleh BPJS Ketenagakerjaan. Ia juga berterima kasih kepada semua jemaat, majelis maupun Pendeta di GKI Diponegoro Surabaya yang selama ini banyak mendukung dia.

Saya lihat istri saya di Rumah Sakit itu nangis. Saya bilang, “Udah gak usah nangis. Ini udah jalanNya Tuhan. Kamu konsen saja merawat anak-anak ya Ma. Saya di sini sudah banyak yang merawat. Gak usah kuatir Ma..” Ternyata istri saya ambil keputusan libur dari pekerjaan untuk konsen merawat saya” tambah pak Yesaya.

So sweet….keluarga yang solid, kompak dan rukun. Yang saya tahu dalam keluarga yang seperti inilah Tuhan perintahkan berkat-berkatNya turun ke atas mereka. Amin !

Yang saya lihat hari itu memang keadaan pak Yesaya semakin membaik. Beliau sudah bisa berjalan meski kaki kanan masih diperban karena terkena serpihan lempengan. Itu tembus sampai ¾ bagian lukanya melingkar di paha. Tapi puji Tuhan tidak sampai mengenai tulang.

Tangan kanan yang kena ledakan, ada banyak bintik-bintik merah karena kena serpihan-serpihan kecil. Tulang di pergelangan tangan kanannya ini patah akibat kena tembus baut dari bom. Syaraf jari telunjuk dan jari tengah putus, tapi sekarang dalam proses terapi dan bisa digerakkan sedikit demi sedikit.

Pak, dengan kejadian ini sekarang bapak larang anak-anak dan keluarga ke Gereja gak ?” tanya saya.

Gak lah…Saya gak larang mereka. Mau ketemu Tuhan kok dilarang” jawab pak Yesaya dengan senyum tapi tegas.

Gak takut ya pak ?” tanya saya memastikan

Gak…gak takut. Keberanian saya ini datangnya dari Tuhan pak. Ini saja saya pengen segera aktif bertugas. Mau jaga Gereja kembali” kata pak Yesaya dengan semangatnya.

Baik pak Yesaya, apa harapan bapak sehubungan dengan adanya peristiwa teror bom di Surabaya ini ?” tanya saya yang terakhir kalinya.

Harapan saya yang pertama kita jangan takut dengan adanya teror ini. Yang kedua saya berharap Pemerintah betul-betul mengantisipasi dan mencegah paham-paham yang tidak berperikemanusiaan seperti adanya teror bom yang terjadi ini.”

Ah, harapan yang sama yang sedang saya terus doakan. Indonesiaku, Surabayaku tetap berdiri kokoh dalam keberagamannya. Kalau bangsa ini bersatu, bangsa yang besar ini akan kuat.

Biarlah kasih, pengampunan, dan perdamaian tetap menjadi suasana sehari-hari yang melingkupi Indonesia.

Akhirnya siang itu saya berpamitan pulang, setelah kami berempat menyatukan hati bersama, berdoa untuk kesembuhan dan pemulihan yang sempurna buat pak Yesaya Bayang.

Semangat pak Yesaya Bayang ! Saya pribadi salut dengan anda !

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n