Sebulan bisa 3x Mama keluar masuk Rumah Sakit. Kenapa bisa gitu ya?

Sudah dari awal Desember tahun lalu, saya wanti-wanti terus ke Mama saya.

Jaga diri sendiri baik-baik ya. Jangan sampai salah makan. Jangan sampai jatuh lagi.

 

Sudah 2 tahun berturut-turut, tahun 2019 dan 2020, kami melewatkan malam tahun baru dengan kondisi sakit. Gak ada happy-happy-nya blasss saat new year count down.

 

2019, Mama jatuh dan harus operasi Total Hip Replacement. Tulang panggul kanannya udah bukan tulang asli. Tapi bahan titanium, seharga 30 juta Rupiah. Bermerk Johnson&Johnson.

Untung saja saat ini biaya lain-lain bisa dicover BPJS dengan bantuan dr Theri Effendi SpOT(K).

 

25 Desember 2020, saya dan Mama positif covid-19.  Entah mutasi varian apa pas itu. Yang jelas semua rumah sakit di Surabaya full. Kami terpaksa isoman di rumah. Hampir 1.5 bulan kami baru negatif hasil PCR testnya.  

 

Dan tahun 2021. Terjadi lagi.

29 Desember 2021, Mama masuk Rumah Sakit. Waktu itu gejalanya mual muntah terus menerus selama 2 hari. Sampai akhirnya bener-bener lemes dan harus opname di Rumah Sakit Adi Husada Undaan Wetan Surabaya. 

 

Kadar natrium, kalium, magnesium drop. Kemudian perut Mama membesar, keras dan kembung. Hasil terakhir CT scan perut menunjukkan ada radang di usus 12 jari. Dan banyak kotoran feces di usus besar.

 

Setelah opname 6 hari lamanya, akhirnya dr Wewen Siswanto, SpPD membolehkan Mama pulang. BAB sudah dikeluarkan bersih. Natrium dan kalium sudah dikoreksi ke angka normal.

 

Dari sini saya selalu wanti-wanti terus ke Mama. Jangan sampai sakit lagi. Jaga makan, jaga diri baik-baik selama saya kerja.

Saya kan gak bisa terus menerus menjagai intensif seperti saat opname di Rumah Sakit. Sehari-hari Mama bersama 1 orang ART yang sudah sepuh juga.

 

Bagaimana pun aktifitas saya sehari-hari harus tetap saya lakukan. Apalagi keuangan sudah terkuras banyak untuk biaya sakit Mama. Kehidupan harus segera ditata ulang kembali.

 

19 Januari 2021.

Kembali Mama harus diopname di Rumah Sakit Adi Husada Undaan Wetan Surabaya. Gejala sakitnya berulang lagi seperti yang lalu. Mual, muntah, lemes, dan perut keras membesar.

 

 

Begitu diperiksa di IGD, kadar natrium drop di angka 127, dari normal 135. Akhirnya dokter memutuskan harus opname lagi. Kami berdua harus swab antigen dan PCR lagi.

Harus ada di kamar transisi lagi sehari. Harus opname dan kali ini bukan main melelahkannya. 11 hari!

 

Berbagai observasi dilakukan untuk menemukan penyakit Mama.  Dari endoskopi, kolonoskopi.

Kemudian pemeriksaan radiologi GI follow through yang berlangssung dari pagi hingga malam.

 

Opname kedua ini biayanya membengkak 2x lipat lebih dibanding yang pertama. Juga pikiran dan  tenaga, banyak tersedot. Berasa sangat lelah.

Tapi sampai di sini pun Tuhan masih mau menolong kami. DihantarNya kami ini melewati lembah kekelaman, Tapak demi tapak. Tahap demi tahap.

 

Terima kasih tiada terhingga buat teman-teman. Bahkan beberapa orang yang tidak pernah kenal kami sebelumnya.  Mereka sungguh banyak membantu kami, dalam doa dan dana.

Saya berasa hutang banyak ama kalian! Hanya Tuhan saja yang bisa membalasnya kalau sudah sedemikian besarnya.

 

Kesimpulannya?

Ada beberapa luka karena GERD, di kerongkongan, di lambung dan di usus 12 jari. Ada bakteri H.Pylori di organ pencernaan.

Ada gangguan pengosongan lambung yang terlambat. Ada struktur usus besar yang memanjang dan berlekuk-lekuk. 

 

Itu sebabnya perut Mama sering keras dan membesar seperti orang hamil. Banyak sisa makanan dan banyak kotoran BAB di dalamnya rupanya. Dari dulu emang suka sembelit.

 

Tapi saya lega dan tenang. Tidak ditemukan tumor dan indikasi keganasan. Fungsi-fungsi organ tubuh yang lain untuk seusia Mama 92 tahun masih OK kata dokter.

Kali ini 3 dokter yang merawat. Ketambahan dr Luciana Wardoyo, Sp.B-KBD dan dr Hendry Susilo Kawilarang, Sp.JP FIHA.

 

Pulang rumah sakit kali ini sudah dengan berbekal hasil yang makin jelas. Panduan selama di rumah, Mama dilarang makan banyak-banyak. Sedikit tapi sering.

Kemudian untuk BAB harus dibantu dengan memasukkan cairan gliserin untuk mengeluarkannya. 

 

This image has an empty alt attribute; its file name is 8-1.png

 

3 Februari 2022.
Dengan hati yang berkecamuk seperti nano-nano rasanya, saya harus mengantarkan Mama kembali ke Rumah Sakit. Kali ini yang terdekat ke RS Mitra Keluarga Kenjeran Surabaya.

 

Saat di kantor, saya dikabari tetangga kalau Mama kepalanya berdarah-darah. Abis jatuh katanya. 

 

Haduuuuuuuuuuuuhh…Argghhhhhhhhh……

Pengen nuaaaangis keras sejadi-jadinya.

 

Baru aja 5 hari keluar rumah sakit, sekarang harus masuk lagi. Ada 2 bagian luka di kepala Mama yang harus dijahit.

 

Oh Tuhan, ujian apalagi ini?

Belum selesaikah proses ujian demi ujianku?

Beruntun dan terus menerus seperti peluru kendali yang dilepas tanpa ampun.

 

Ini pembelajaran pertama buat saya. Untuk pengalaman merawat orang tua yang semakin lemah karena usia dan sakit. Sebelumnya gak pernah seheboh begini badainya. 

Beberapa teman yang pernah ada di fase ini, mereka banyak mendukung dan membesarkan hati saya. Untuk melewati ujian berat ini. Tidak ada cara lain, harus dilewati.

 

Bolak balik saya katakan pada teman-teman yang mengkuatirkan saya. 

“Saya ini gak menyerah kalah kok.

Bagaimana pun juga saya akan usahakan yang terbaik untuk Mama. Dokter terbaik. Obat terbaik. Rumah sakit terbaik. Melayani yang terbaik.

 

Tapi, boleh kan saya bilang saya sangat sangat lelah…

Manusiawi bukan?

 

Kini, setelah semua usaha terbaik sudah saya lakukan. Artinya, untuk bagian saya, sudah saya lakukan. Mungkin hampir semuanya.

Maka cara paling legowo untuk menyembuhkan keletihan saya adalah berserah.

 

Berserah penuh, gak bisa main-main lagi.

Yaaak! Berserah sepenuhnya. Hanya pada Tuhan saja, Sang Kehidupan Sejati.

 

Di batas kemampuan saya, kini ada level berserah, melebihi segala ikhtiar.

 

Gideon Yusdianto
Instagtam @61d30n