Saya pernah unhappy karena gak bisa berdamai. Berdamai dengan apa maksudnya?

Pasca kami kena SARS-cov-2 akhir bulan Desember 2020 lalu, pose foto kami berdua ya hanya begitu-begitu saja. Gak se-variatif seperti dulu.

Sekarang hanya pose di dalam rumah ama di dalam mobil saja. Kalau saya sendiri paling ya pose di kantor. Monoton!


Makanya saya juga bingung gitu, mau posting foto apa di sosmed? Padahal inspirasi saya menulis, biasanya bersumberkan dari lihat momen di foto.

Emang udah terbukti sih dari analisa sosmed saya. Mereka likes dan follow bukan semata-mata dari foto saya.

Kadang foto yang menurut saya sangat biasa, bisa dapat likes dan comment yang banyak. Bahkan mengundang orang lain untuk follow. Kenapa bisa begitu?

 

Jawabannya karena tulisan di caption saya. Entah bener begitu apa gak. Saya juga gak tahu mereka jujur, atau hanya sekedar menghibur saya aja.

Mereka bilang captionnya inspiratif dan enak dibaca. Padahal saya juga belum jadi penulis handal kok!

Lhaaa masalahnya sekarang sumber fotonya itu-itu melulu. Jadi saya kekurangan bahan baku dalam menulis. Hahaha! 

Mungkin Anda bilang, ya keluar-keluar lagi dong! Hangout ke mana gitu kek biar dapat spot foto yang bisa jadi inspirasi menulis.


Begini.
Meski sudah dinytatakan negatif SARS-cov-2 dalam test PCR pada 7 Februari 2021 yang lalu. Dan juga diperkuat dengan test serologi kuantitatif akhir Januari 2021 lalu.

Angka igM kami non reaktif, artinya infeksi virus telah selesai. Angka igG kami reaktif. Angkanya cukup tinggi kata dokter. Sekitar 200an. Artinya kami sudah punya antibodi alami untuk melawan virus SARS-cov-2.

 

Walau begitu kami gak mau sembrono dalam menjaga protokol kesehatan. Toh antibodi alami itu lama-lama juga akan menurun. Bahkan habis dalam hitungan 3-6 bulan. 

Bermasker kemana-mana. Gak nongkrong di luar bila gak urgent banget. Selalu sangu disinfektan, dan cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir. Minum vitamin C , D3 serta Zink.

Paling tidak itulah kontribusi saya untuk Indonesia, agar angka penularan SARS-cov-2 ini bisa turun.

 

Balik lagi soal foto dalam postingan ini. Hanya di dalam mobil saja saya meluangkan waktu bersama Mama untuk keliling kota Surabaya. Tidak turun. Lumayan lah daripada stress di rumah terus!

Emang enak jalan-jalan dalam mobil saja?

Ya gak enak!!

 

Pengennya sih bisa seperti dulu lagi. Jalan kesana, jalan ke sini. Kemana-mana wes pokoknya.! Cari spot foto yang bagus biar dapat inspirasi. Mama pun juga seneng banget kalau diajak jalan-jalan berpetualang.

Sekarang?
Sudah tidak memungkinkan lagi kan?


Jadi unhappy kan kalau apa yang kita inginkan gak bisa kita dapatkan?
Jadi stress kan kalau kita kehilangan kesempatan yang biasanya bisa membuat kita sukacita?

 

Tapi sekarang, saya baru memahami dan mempraktekkannya sendiri.

Resepnya adalah berdamai dengan keadaan. Keadaan apa pun!

Sebab kenyataan yang ada, belum tentu seperti yang kita mau. Bahkan yang kita imani selama ini.


Bukankah rasa happy itu didapat, bukan dari apa yang kita mau kemudian kita peroleh?

Bukankah bahagia itu didapat, bukan dari keadaan yang sudah berubah menjadi seperti yang kita mau?

Tapi bahagia itu didapat dengan berdamai.
Berdamai dengan Tuhan.
Berdamai dengan situasi.
Dan berdamai dengan diri kita sendiri.

Gampang gak saya mempraktekkan ini?

Awalnya susah sekali! Karena saya masih memaksakan kehendak saya dengan pondasi logika saya.


Tuhan itu tak bisa terpahami dengan IQ kita. Mungkin EQ akan membuat kita tenang sementara. Tapi jalan-jalanNya hanya bisa kita imani dengan SQ kita. 


Jadi tak ada cara lain. Kembali berdamai dengan Tuhan!

Dia yang akan memberikan damai dan sukacita yang melampaui segala logika kita. Sehingga kita bisa berdamai dengan situasi, dan dengan diri kita sendiri.

 

Yang mau terus belajar dan dibentuk dari kehidupan,
Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n