Saya ditanya “Ada perasaan takut mati gak waktu kena covid?” Ini jawaban saya! Apa adanya.

Saya selalu ditanya banyak orang begini, pasca kena virus SARS_cov_2.

Takut mati gak waktu kena covid?”
Saya jawab “Gak!


Soalnya saya gak bisa kontrol itu. Hidup dan mati kan di tangan Tuhan. Yang penting saya harus berusaha yang terbaik untuk berobat menyembuhkannya.

Wow…kayak munafik ya gak takut mati! Tapi beneran. Saya gak takut mati.

Kemungkinan buruknya, kalau toh saya mati,  Mama saya yang masih bertahan hidup, meski 91 tahun kena covid. Saya udah punya polis asuransi yang cair untuk membekali kehidupan Mama saya selanjutnya.

Kalau Mama yang mati bagaimana? Saya yang bertahan hidup misalnya. Wah, ini pun yang ada pasti kesedihan mendalam.

Tapi saya pikir, mana ada sih yang kekal di dunia? Bila ada perjumpaan, pasti suatu hari nanti ada juga perpisahan.

Kalau sama-sama mati gimana? Kuatir gitu gak? Ya lebih gak takut. Sama-sama ketemu lagi di Surga kan?

Wow…kayak sok beriman aja ya jawaban saya?

Lalu ketakutanmu apa bro? Masa gak ada ketakutan sama sekali? Katamu penyakit covid-19 lebih menyerang ke psikis daripada fisik?

Saya dikejar lagi dengan pertanyaan berikutnya ini.


Saya takut kok! Pernah merasa ketakutan yang amat sangat malahan!


Saya kuatir banget! Saya punya dana yang cukup gak ya untuk berusaha cari pengobatan yang terbaik? Buat saya, buat Mama, dan buat asisten rumah tangga kami. Kan serumah kena semua!

Dengar cerita teman-teman, kalau udah rawat inap di Rumah Sakit, bisa keluar duit ratusan juta Rupiah. Dan jujur, jumlah sebesar itu tidak ada di tabungan saya sekalipun.

Dua minggu kritis itu apa kami melewatinya dengan semakin membaik atau memburuk? Kalau semakin memburuk, dokter sudah berpesan bahwa harus cepat-cepat rawat inap di Rumah Sakit.

Saya sih dicover dengan asuransi kesehatan. Lha bagaimana Mama dan asisten rumah tangga kami?

Ada yang bilang, loh kan ditanggung pemerintah untuk dana pengobatan bagi yang kena covid? Ya, itu itikad yang baik dari Pemerintah kita emang. Tapi kenyataan di lapangan tidak semudah itu.

Wah masa kamu gak beriman bro! Loe kan juga tahu Firman Tuhan! Burung di udara pun Tuhan pelihara kok! Gimana sih kok ampe takut itu!” Kata salah satu teman saya yang mengutip Matius 6:26.

Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?”

Dari sini lagi-lagi saya dihadapkan dengan kenyataan versus iman.

Dalam hati saya cuma bilang begini “Ah iya loe bisa ngomong gitu dengan gampang, Kamu gak tahu persis bagaimana sulitnya saya melalui badai ini. Loe kan belum pernah kena covid!”

Rupanya saya belum sepenuhnya lulus dari ujian Bab Kehidupan tentang “Kekuatiran”!

Dulu tahun 2011 saya pernah melewati ini juga sampai depresi. Eh, 10 tahun kemudian ternyata belum lulus sepenuhnya. Depresi lagi kena beginian!


Puji Tuhan, dr Aimee Nugroho, Sp.KJ banyak menolong saya untuk mengatasi dengan terapinya. Dia sekarang kebanjiran pasien tiap hari di National Hospital Surabaya maupun praktek di rumahnya. Makin banyak orang stress katanya saat pandemi!

dr Aimee pakarnya menangani yang beginian. Buktinya sekarang saya bisa bangkit kembali dengan berkreativitas menulis, bikin podcast dan melayani Tuhan kembali. Itu sungguh kemurahan dan anugerahNya yang besar buat saya. Puji Tuhan!

Ketakutan, kekuatiran, itu manusiawi emang! Sekuat-kuatnya iman seseorang, saya belum pernah ketemu manusia super tanpa punya rasa ketakutan.

Zig Ziglar dalam bukunya “See You at The Top” menulis begini. Berdasarkan hasil riset dari Biola University, sebuah universitas Kristen swasta bidang evangelis di La Mirada, California.

40% manusia takut kepada kecemasan yang tidak pernah terjadi.
30% takut terhadap pengalaman masa lalu.
12% takut akan kritikan.
10% takut akan penyakit.
dan hanya 8% yang mengalami cemas dan takut akan masalah yang sedang terjadi.

Itu berarti kan 92% kita telah menguras energi, hanya untuk mengkuatirkan sesuatu yang tidak pernah terjadi?


Kekuatiran adalah hal terbesar yang paling berhasil memporak-porandakan kedamaian dan sukacita dalam hati saya. Anda juga! Kita semua.

Setelah saya melewati semua ini, saya malu dengan diri saya sendiri. Semua kekuatiran yang saya takutkan toh tidak ada yang terjadi sama sekali!

Kami bertiga sembuh dan sudah negatif dari virus SARS_cov_2. Gejala ringan saja. Biaya test PCR saya cuma bayar sekali saja di awal. 4 kali selanjutnya, Tuhan kirimkan anak-anakNya untuk memberkati saya dengan biaya PCR test, yang minimal 900ribuan/orang.

Dana untuk operasional hidup, berobat ke Rumah Sakit, obat-obatan dan vitamin juga tercukupi. Itu pun juga karena “burung di udara di pelihara oleh Tuhan” itu tadi. Ngerti kan maksud saya meski saya bukan burung! Hahahaha!

Saya sekali lagi berterima kasih kepada banyak sekali sahabat yang masih peduli dengan kami. Beginilah rasanya hidup dengan iman itu. Dag dig dug dueeeer!!!

Tuhan sayang banget ama kami. Ama Anda juga!

Gimana gak sayang?! Lha saat saya kuatir dan masih dalam keadaan ragu aja, DIA gak nggondok tuh kayak kita. Mau tetep dekat ama kami.

Bayangkan coba kalau pasangan sudah meragukan Anda, Anda pasti kecewa kan? Mulai luntur kan cinta Anda ke dia yang sudah mulai tidak percaya lagi pada Anda?

Orang berdosa, orang yang terhilang, orang yang kurang beriman sekalipun, ternyata Tuhan masih mengasihi kita semua. Untuk orang seperti itulah Dia mau hadir menyapa. 

1000 cara orang atau keadaan menjatuhkan kita, tapi Tuhan punya 1001 macam cara menarik tangan kita kembali, supaya tidak terperosok ke dalam jurang kehancuran.

Tuhan mengasihi Anda semua!

Salam dari saya yang masih terus mau belajar menghadapi ujian kehidupan,
Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n