SAWANG SINAWANG

Setiap hari Matahari dan Bulan bergantian menyinari bumi. Matahari bertugas di siang hari dengan sinarnya yang hangat. Kadang-kadang amat menyengat. Sedangkan Bulan, menerangi kegelapan malam dengan cahayanya nan lembut.

Di suatu senja yang gerah, Matahari berkeluh kesah. Wajahnya yang bundar nampak kemerah-merahan.

“Oh, panas sekali! Aku tak tahan terus-terusan seperti ini. Sementara di bawah sana, makhluk bumi bersuka ria menikmati kehangatan sinarku!”

Bulan mendengar keluhan Matahari. Pelan-pelan ia muncul di langit. Malam hampir menjelang. Tiba gilirannya untuk berjaga. Waktu itu bukan Bulan purnama, hingga wajah bulan nampak ramping, mirip sebuah sabit.

“Jangan terus mengeluh, Matahari. Kupikir kau lebih beruntung daripada aku. Kau bisa merasakan kehangatan. Tapi aku? Semalaman aku kedinginan. Bahkan sampai menggigil tubuhku!”

Matahari terdiam.

Tiba-tiba, Bulan mempunyai sebuah gagasan yang menarik.

“Kita sama-sama punya masalah. Kau kepanasan dan aku kedinginan. Bagaimana kalau kita menukarkan topi kita. Hingga, kau bisa merasa sejuk dan aku merasa hangat?”

“Kedengarannya bagus. Tapi mungkinkah?”

Bulan meyakinkannya.

Malam itu juga, Bulan memakai topi Matahari. Kini, sinar yang dipancarkannya menjadi lebih terang. Yang menyenangkan, ia sudah tidak kedinginan lagi.

Dalam peristirahatannya, Matahari merasakan kesejukan yang nikmat. Topi Bulan yang dipinjamnya, membuat sinar dari tubuhnya temaram.

Keesokan harinya, Matahari muncul di cakrawala. Sinarnya tidak seganas biasanya. Mula-mula ia merasa puas. Kesejukan yang dirasakannya terasa menyenangkan.

Keadaan itu tidak berlangsung lama. Menjelang petang, Matahari tidak gembira lagi. Ia tidak bisa menikmati kesejukan itu lagi. Rasa dingin menjalari seluruh tubuhnya. Hidungnya sampai membiru karena dingin yang tak tertahankan. Ia bergerak terus untuk memanaskan tubuhnya.

Sementara itu Bulan pun gelisah. Panas dalam tubuhnya terasa amat menyengat. Ia yang sudah terbiasa dalam keadaan dingin merasa amat tersiksa oleh panas itu.

Senja hampir berganti malam. Karena sudah tak tahan, Matahari menghampiri Bulan.

“Bulan, aku amat kedinginan. Bisakah kuminta kembali topiku?”

Bulan amat senang mendengarnya.

“Tentu saja. Aku juga tak tahan dalam begini.”

Kedua benda angkasa itu menyadari kekeliruan mereka. Mereka segera menukar topi mereka. Masing-masing mengenakan topinya sendiri. Sejak saat itu, keduanya kembali bertugas seperti semula.

_____________________________________

Setiap orang memilih topeng yang berbeda dalam menghadapi suatu lingkungan pergaulan. Ada yang memakai topeng berbahagia, tersanjung, tertawa, terluka, tersiksa, dan macam-macam lainnya.

Disadari atau tidak, setiap hari kita memakai topeng yang berbeda. Kita pun pernah memakai topeng “Berbahagia”. Tetapi anehnya, saat kita melihat orang lain juga memakai topeng terbahagia, timbullah pertanyaan dan pernyataan di benak kita : “Apakah dia sungguh-sungguh bahagia? Ah, sepertinya dia memang benar-benar bahagia. Tidak seperti aku.”

Itulah rasa iri yang timbul. Tapi itu wajar, karena kita hanya manusia. Jika kita tak pernah merasa iri, mungkin kita sudah sangat layak diangkat menjadi malaikat.

Tapi ingatlah selalu akan pepatah kuno leluhur kita dari tanah Jawa : ‘Urip iku mung sawang sinawang‘. Artinya, hidup itu hanya tentang melihat dan dilihat. Karena melihat dan kita sadar bahwa kita juga dilihat, timbullah perbandingan tentang apa yang terlihat. Itulah sebabnya leluhur kita mengingatkan melalui pepatah kuno tersebut yang disebarkan secara tutur tinular lintas generasi. Karena penyebarannya secara tutur tinular itu, membuat penyampaian pepatah kuno tersebut menjadi terpotong-potong hingga yang dikenal sampai sekarang hanya ‘Urip iku mung sawang sinawang‘.

Padahal, pepatah tersebut dari penutur awalnya aslinya berbunyi : ‘Urip iku mung sawang sinawang, mula aja mung nyawang sing kesawang.’. Artinya, hidup itu hanya tentang melihat dan dilihat, jadi jangan hanya melihat apa yang terlihat. Jadi, jangan mudah menyimpulkan dari apa yang terlihat. Jadi, lebih baik ayo mulai sekarang bersyukur senantiasa dengan apa yang ada pada kita. Stop comparing !

logo