Sang Mawar Depan

Sang Mawar Depan!

Hah?
Apaan tuh?

Depan saya kan bukan Bunga Mawar!

Itu kopi Bali Kintamani yang disajikan secara V60 saat saya nongkrong malam ini di @coffeetoffeeidn MERR Surabaya.

Malam ini saya lagi ngoceh bareng @tjiang_febryan dan @ivansinggih , salah satunya tentang reaksi seseorang saat kehilangan.

Macam-macam bentuk kehilangan!

Kehilangan barang berharga, kehilangan kesempatan, kehilangan sebuah posisi yang diincar, kehilangan kesehatan, bahkan sampai kehilangan orang terdekat yang sangat dicintai.

Tidak mudah memang untuk melalui proses kehilangan!

Saya pun pernah mengalami hal yang menyakitkan ini, saat saya tahu bahwa hilang sudah kesempatan saya untuk mewujudkan mimpi saya untuk sekolah setinggi-tingginya.

Padahal di atas kertas, mestinya kesempatan itu jelas-jelas gak mungkin hilang!

Tapi rencana tinggal rencana. Bisa tamat S1 saja sudah puji Tuhan, karena dana untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya sirna sudah.

Apa reaksi saya saat itu?

Betullah apa yang dikatakan oleh Kubler – Ross tentang 5 tahapan kehilangan.

Nah 5 tahap itu saya singkat menjadi “Sang Mawar Depan” itu tadi.

1. SANGkali kenyataan pahit yang terjadi.
2. MArah.
3. Tawar MenaWAR.
4. DEpresi
5. PenerimaAN

Nah huruf besar tebal yang saya ketik di atas, bila dirangkai jadi satu singkatan, kan jadinya “Sang Mawar Depan”!

Anda pernah mengalaminya?

Tahap pertama: Penyangkalan.
Reaksi yang terjadi kalau dikalimatkan jadi begini kurang lebihnya. “Hah? Masa begitu? Ah,gak lah! Gak mungkin bisa terjadi begini! Keliru pasti, gak kaya gitu harusnya. No…no….no….no…!!!”

Yang terlihat adalah orang ini cemas berlebihan dan dengan segala macam cara mencegah masuknya kenyataan ke dalam alam kesadarannya.

Tahap kedua : Kemarahan.
Dengan nada marah begini kalimatnya, “Aduh! Ini sungguh tidak adil bagiku! Kenapa bisa terjadi pada diriku?? Ah, Dokter pasti salah diagnosa! Cari second opinion lah! Kenapa Tuhan tega ya ambil dia??”

Hati-hati, mana ada orang senang dekat-dekat ama orang marah! Satu per satu orang terdekat akan meninggalkannya.

Tahap ketiga: Tawar Menawar
Dia mulai berandai-andai, “Ah andai saja ia masih bersamaku, aku akan lebih menjaganya baik-baik. Ah, seandainya saja aku lebih berhati-hati, gak gampang percaya ama dia, pasti gak akan terjadi hal buruk ini. Aduh, coba saja gak dekat-dekat dia, kan gak mungkin apes begini!

Tahap keempat: Depresi.
Nah ini puncak–puncaknya kesedihan seseorang yang kehilangan. Ia merasa sangat tidak berdaya untuk melanjutkan kehidupan sebagaimana biasanya. Habis sudah rasanya harapan!

Tahap kelima: Penerimaan Diri.
Reaksinya kira-kira begini, “Iya ya. Mau bagaimana lagi, wong sudah hilang ya sudah. Lha ya masa yang meninggal bisa hidup lagi. Ok, memang saya sudah gagal, tapi kehidupan kan harus tetap berlanjut!” 

Nah, sekarang apa ini sedang terjadi pada Anda, Teman?
Sudah sampai di tahap mana?

Sadarlah Teman, jangan pernah kehilangan dirimu, saat mencoba mempertahankan seseorang atau sesuatu, yang tak pernah merasa kehilangan dirimu.

Ah, daripada meratapi diri dengan hidup dalam ilusi dan mimpi, saya tak lanjut ngopi aja!

Sempatkan pula Teman, untuk download aplikasi “Gideon Yusdianto” di Playstore HP Anda.
So, Anda tak pernah kehilangan tulisan-tulisan saya di sana.

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n