Saat prioritas dipertemukan dengan solidaritas, bagaimana jadinya? Pokoknya jangan saling nge-gas!

Percaya ama kebetulan?

 

Semua bermula dari @3iji_kopi yang membuat kami bisa duduk bersama sore ini di @bnd.cafe Semolowaru Surabaya.

Gak nyangka aja barista @frengky151 masih mengingat saya. 

Padahal sudah hampir setahun kami gak pernah berjumpa. Sejak dia bilang mau mudik ke Banyuwangi. Mau usaha sendiri katanya.

 

Kini cafe yang lama sudah tutup. Padahal saya suka sekali dengan manual brew di sana. Harganya kelas mahasiswa, itu yang menyenangkan! Ya, lagi-lagi semua gara-gara corona.

 

Beberapa hari yang lalu, Frengky DM saya di Instagram. Wah, tersanjung saya di DM. Dia bilang mampirlah ke cafe baru-nya. Tempat ia menuangkan kreatifitasnya di dunia kopi.

Setahun lalu, dari Instagram saya bisa tahu Frengky. Dari postingan sosial media-nya membuat saya melangkah ke cafe itu. Kebetulan dekat sama rumah saya.

Frengky begitu ramah melayani saya menyeduh kopi di tempat yang lama. Dia bahkan masih ingat data base biji kopi pertama yang saya pesan. Arabika Palasari dari Bandung. Dengan filter v60.

 

Saya pikir, Frengky sudah separohnya menerapkan “Marketing 4.0” yang diusung marketing guru Hermawan Kartajaya bersama Philip Kotler.

Machine-to-machine serta artificial intelligence (kecerdasan buatan) menjadi ciri marketing 4.0. Meski begitu, sentuhan manusia atau human-to-human tetap penting untuk memperkuat customer engagement

 

Sore ini, saya mampir ke @bnd.cafe . Saya langsung menanyakan ada biji kopi apa yang sesuai selera saya. Pieberry Ijen. Itu yang dia rekomendasikan. Enak juga! Waktu masih panas, terasa fruity. Semakin dingin semakin terasa citrusnya.

Tiba-tiba, loh @tomen_se ada di @bnd.cafe juga! Wajahnya familiar di @3iji_kopi juga dulu! Dia barista juga di sana.

Emang ya, namanya pertemanan itu gak akan lari ke mana. Kalau ada rezeki, pasti lingkaran ini yang kecipratan lebih dulu.

 

Kami ngobrol bertiga dengan guyub. Seolah sudah lama akrab. Padahal ya baru kali ini kami bisa ngobrol. Di cafe lama dulu cuma sebatas nanya mau minum kopi apa, berapa harganya, duduk di kursi mana. Udah begitu aja!

 

Baru tahu juga kalau Frengky ini juga seperti saya, mengasihi ibunya. Dia pernah sekian bulan merawat dan menemani ibu yang sakit di kampung. Makanya dia harus meninggalkan pekerjaannya di Surabaya waktu itu. 

Luar biasa panjenengan Mas! Yang saya pahami, Tuhan tak pernah menyetop kasihNya dan menutup pintu pemeliharaanNya, buat orang yang begitu mengasihi orang tuanya.

 

Ibunya gak diajak Pak?” tanya Frengky. Wah pengennya sih begitu. Cuma kan rawan di masa corona.

 

Ngobrol sana-sini eh gak nyangka kalau @tomen_se punya rekaman video saya bersama Mama pas ngopi setahun lalu di tempat lama. Amin (itu namanya) diam-diam merekam pakai HP-nya. “Untuk kenang- kenangan Pak“, katanya.

Ternyata, setahun lebih yang lalu Amin pernah DM saya di Instagram. Dia mengucapkan terima kasih sudah mampir ke cafenya. Ah, maaf ya Min saya cuekin waktu itu. Hahaha! Abis namanya aneh!

 

Inilah uniknya kopi, teman. Kita bisa duduk bersama tanpa mengedepankan perbedaan. Justru kadang-kadang pihak yang harusnya berkepentingan menyuarakan perdamaian, malah membuat jurang perbedaan.

 

Indonesiaku, marilah bersatu padu melawan musuh.

Saat prioritas dan egoisme membuat engkau terluka, percayalah, solidaritas kan selalu membuatmu tertawa. 

 

Seperti di foto kami bertiga, emang ngetawain apa sih itu? Hanya kami yang tahu!

 

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n