RESIKO

Dua anak laki-laki berjalan-jalan di hutan saat mereka menemukan sungai beku yang menghalangi jalan mereka.

Mereka melihat ke atas dan tepian sungai, tapi tidak melihat jembatan untuk membantu mereka menyeberang dengan aman.

Kedua anak laki-laki itu dengan hati-hati meletakkan kaki di permukaan es dan merasakan betapa licinnya itu.

Kemudian salah satu dari mereka mulai ragu untuk berjalan.

Apa yang kau lakukan?” tanya anak laki-laki yang lain.

Kau akan jatuh!

Benar! Anak laki-laki itu terjatuh.

Lihat? Sudah kubilang begitu ‘kan?

Anak laki-laki pertama bangkit lagi dan dengan hati-hati mengambil beberapa langkah lagi.

Terpeleset. Ia terjatuh lagi.

Apa yang kau lakukan?” ulang anak laki-laki yang lain sekali lagi.

Anak laki-laki pertama bangkit lagi dan dengan hati-hati melangkah pelan, dengan sedikit pincang.

Prosesnya berulang kali, sampai akhirnya, anak laki-laki pertama, yang memar dan dingin dari es yang keras, berhasil menyeberangi sungai.

Saya berhasil!” Dia dengan bangga berseru dan kemudian memberi isyarat kepada temannya.

“Sekarang giliranmu.

Saya tidak bisa, saya akan jatuh.”

Mungkin, memang begitu.”

Tapi aku akan menyakiti diriku sendiri.

Mungkin, memang begitu.”

Tapi jauh lebih aman di sini.”

Ya, tapi inilah sisi yang ingin kita tuju.”

Aku tahu, tapi aku tidak bisa.”

Anak laki-laki pertama menggelengkan kepalanya.

Tidak bisa atau tidak mau,” gumamnya sambil berjalan ke arah rumah.

____________

Cepat atau lambat, kita semua menemukan akan sungai beku seperti ini. Dan kita punya keputusan untuk kita buat.

Apakah kita mengambil risiko dan menyeberang, mengetahui bahwa kita bisa tergelincir, jatuh dan menderita sakit sepanjang jalan?

Atau apakah kita tetap di tempat kita berada, merasa aman, tapi mengetahui bahwa kita tidak akan pernah sampai ke tempat yang kita inginkan dalam hidup?

Sedangkan saya, saya memilih untuk menyeberangi sungai dan dengan memar-memar untuk membuktikannya.