PRADUGA

Sepasang suami istri, Steven dan Sarah, telah menikah selama lebih dari sepuluh tahun. Di tahun kesebelas ini mereka tetap hidup tanpa anak seorangpun. Keduanya berharap bahwa akan memiliki anak sebelum usia kesebelas perkawinan. Namun, saudara dan teman-temannya justru menyarankan mereka untuk bercerai.

Tetapi mereka tidak bisa membiarkan ikatan cinta mereka terurai begitu saja. Bulan berlalu dan suatu hari, saat kembali dari tempat kerjanya, Steven melihat istrinya berjalan dengan seorang pria. Pria itu melingkarkan lengannya di leher istrinya dan mereka tampak sangat bahagia.

Selama lebih dari satu minggu, Steven melihat orang yang sama bersama istrinya di berbagai tempat. Hingga suatu malam, ketika Steven kembali dari tempat kerja ia melihat pria itu mengantarkan istrinya ke rumah dan memberikan ciuman di pipi. Steven marah dan sedih.

Dua hari kemudian, setelah hari yang sibuk di tempat kerja, Steven mengambil air dari teko kaca ketika telepon berdering. Ia mengangkatnya dan mendengarkan orang di seberang berkata, “Halo sayang, aku akan datang malam ini ke rumahmu untuk melihatmu seperti yang dijanjinkan. Aku harap….”

Steven kemudian menutup telepon itu. Ia yakin itu adalah suara laki-laki yang selalu dilihat bersama istrinya. Pikirannya tiba-tiba goyah, ia merasa telah kehilangan istrinya. Teko kaca itu jatuh dari tangannya dan hancur berkeping-keping.

Istrinya datang sambil berlari dari dalam kamar, “Apakah semuanya baik-baik saja?”

Dengan marah Steven mendorong istrinya hingga jatuh. Tapi istrinya tidak bergerak dan bangun. Steven kemudian menyadari bahwa istrinya jatuh tepat di atas pecahan kaca.

Sepotong kaca besar telah menusuk istrinya. Steven memeriksa napas, denyut nadi, dan denyut jantung sang istri, tapi istrinya berbaring tak bernyawa. Istrinya sudah mati! Dengan kebingungan, ia melihat sebuah amplop di tangan istrinya.

Steven mengambilnya, membukanya, dan terkejut membaca istrinya. Itu adalah surat istrinya, bunyinya, “Suamiku tercinta, kata-kata tidak bisa mengungkapkan bagaimana perasaanku. Aku harus menuliskannya. Aku telah pergi ke dokter selama lebih dari satu minggu dan aku ingin memastikan sebelum memberimu kabar.

Dokter memastikan bahwa aku hamil dengan bayi kembar dan sudah dua bulan dari sekarang. Dokter itu adalah saudaraku yang telah lama hilang kontak denganku setelah pernikahan kita. Ia telah berjanji untuk mengurusku dan bayi kita dan memberikan yang terbaik bagi kita tanpa kita perlu mengumpulkan uang.

Ia juga berjanji akan makan malam hari ini dengan kita. Aku sudah menempatkan kursi favoritmu di ruang duduk, untuk mengingatkan hari saat kau melamarku, dan aku harus menulis untuk mengatakan, “ya,” karena aku bahagia. Terima kasih sudah bersama di sisiku.” Istrimu yang penuh kasih.

Surat itu jatuh dari tangan istrinya. Sementara terdengar ketukan di pintu dan orang yang sama yang dilihat bersama istrinya datang dan berkata, “Halo Steven, saya kira aku benar. Aku Max, saudara istrimu, dan ….” Tiba-tiba Max melihat saudaranya berbaring dalam genangan darah.

Mereka bergegas membawa Sarah ke rumah sakit dan ia dipastikan tewas. Bayi kembarnya pun tewas.

____________________________________________________

Begitulah manusia yang sering kali cepat menyimpulkan sesuatu padahal ia tidak tahu banyak hal. Intinya dari kisah ini,  jangan pernah cepat-cepat mengambil kesimpulan dan selalulah memandang kehidupan ini dengan positif. Jangan mengambil tindakan dan keputusan di atas rasa emosi semata, tapi di atas kedamaian hati untuk melakukannya.

logo