Podcast makin mewabah! Bagaimana asal usulnya? Nih ceritanya.

Begitulah namanya jaman. Dinamis, tidak pernah tidak berubah. Terus berubah, bahkan makin masif dan cepat.

Termasuk podcast , salah satu perubahan dalam dunia penyiaran radio yang sudah saya tekuni sejak tahun 2003.

Kalau jaman dulu, dengerin siaran radio dari penyiar favorit kita gak boleh telat. Ditungguin jam tayangnya.

Lama-lama orang makin sibuk. Mana bisa kita disuruh nungguin di hari dan jam tertentu gitu!

Maka lahirlah podcast. Diusulkan oleh Ben Hammerslry, jurnalis The Guardian pada tahun 2004.

Play On Demand + Broadcast = PODCAST!

Nah itu asal usulnya.
Artinya kita bisa menikmati siaran favorit kita sewaktu-waktu dan bisa diulang-ulang semau kita.

Pinter-pinternya si Apple me-release dan mulai jualan fitur podcast di tahun 2005. Waktu itu hanya perusahaan broadcasting yang gede-gede aja dari luar negeri  yang bisa memproduksinya.

Sekarang?
Semua orang bisa bikin podcast.

Dari budget puluhan ribu pakai hape biasa dengan mic dan lighting seadanya, sampai yang menghabiskan duit ratusan juta Rupiah! Dari yang contentnya bagus sampai yang cuma nyampah aja

Para Youtubers pasti berani investasi untuk peralatan broadcast yang mahal-mahal. Lha kan emang dapat duitnya ya dari Youtube kan?

Sekarang apa saya sudah beralih dari seorang broacaster yang bersembunyi di balik pesona suaranya?

Ada kan yang sampe bayangin penyiar favoritnya itu digambarkan seperti harapannya. Ternyata, bagi sebagian besar pendengarnya, jujur saja, wajah penyiar itu mengecewakan! Hahahaha! Iya kan?

Atau sudah beralih dari seorang penulis, yang biasanya tidak begitu cakap dalam public speaking

Saya tetap tekuni semua profesi itu kok. Cuma flexible aja lah!. Kalau udah jamannya begini ya kenapa gak dimanfaatin?

Hanya sekarang masih newbie nan cupu lah! Belum bisa invest peralatan dan SDM yang mahal untuk melakukan podcast agar bisa rutin tampil di channel Youtube pribadi saya. 

Pernah saya diajak kolaborasi seorang sahabat untuk bikin channel “Kumpulan Cerita Inspiratif bersama Gideon”. Disimgkat jadi “Laci Gideon”.

Tapi gara-gara pandemi jadi mangkrak proyek itu sampai sekarang. Soalnya biasanya kami shooting ke banyak tempat untuk ngajakin ngobrol ke banyak orang dengan berbagai profesinya yang menginspirasi.

Sekarang di masa pandemi udah gak sebebas dulu. Lebih aman di studio daripada keluar-keluar.

Jadi mari gunakan semua perkembangan teknologi untuk sebuah tujuan yang baik. Baik dalam hal bisnis, maupun pelayanan non profit. Apa pun profesi Anda. Jangan anti dengan perubahan. 

Tau Albert Einstein yang katanya jenius itu kan?

Dia pernah mengatakan begini, “The measure of intelligence is the ability to change!”

 

Yang mau terus belajar dan berproses dalam kehidupan,
Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n