Pernah rapuhkah iman Anda? Saya pernah! Ini kisahnya.

“Kenapa Tuhan tidak proteksi saya, kok sampai saya terpapar virus SARS-cov-2?”

“Kenapa harus kena semua serumah? Apa Tuhan sudah tinggalkan kami?”

Orang lain kok cepat sembuh, lha kami kok lama sekali negatifnya?”

“Satu belum selesai sepenuhnya, lha kok Mama saat itu drop lagi keadaannya?”

…………???

Dan bermacam-macam pertanyaan lainnya bergelanyut liar. Pada intinya saat itu saya sedang mempertanyakan “Why me Lord?

Tanpa sadar, saya sedang menggugat Tuhan. Tanpa sadar, dalam keadaan berbeban berat saya masih saja berhubungan secara transaksional sama Tuhan. 

Saya akui saya salah, saya khilaf. Bukankah masih banyak hal yang bisa saya syukuri?


Kami serumah yang terpapar tidak sampai mengalami gejala berat, hanya gejala ringan saja.

Masih bisa berobat dengan tepat ke dokter tanpa harus rawat inap di Rumah Sakit.

Masih banyak sahabat yang peduli dengan keadaaan kami.

Dan masih banyak lagi mestinya yang bisa saya syukuri waktu itu.


Kini saya mengerti, seberapa dalamnya akar iman ini menancap dalam jiwa dan roh saya.

Ternyata belum sedalam yang saya kira. Ternyata saya juga bisa rapuh. Ternyata saya harus banyak belajar lagi.


Dari sinilah saya belajar, bahwa kita membutuhkan orang lain untuk saling menguatkan. Gak bisa kita hadapi segala sesuatu sendirian!

Tidak ada superman! Superman dalam kisah film yang suka kita tonton pun, dia menjadi kuat, tentu saja dengan kerjasama yang solid di antara teamnya.


Perjalanan iman seseorang itu penuh dinamika. Hari ini kita lolos dan lulus dari sebuah ujian, yang menurut kita sudah paling berat.

Di kemudian hari pasti muncul ujian dengan level yang lebih tinggi lagi.


Ingat kan sewaktu kita sekolah dulu? Bukankah ujian itu makin lama makin terasa sukar? Mana ada yang semakin ringan?

Toh asal kita berdoa mohon anugerahNya. Serta berusaha dan jalani semua prosesnya, ya lulus juga kok!


Semua ada levelnya. Semua juga ada masanya. Tak ada yang langgeng selain Sang Empunya Kekekalan itu sendiri.

Hidup ini tak pernah statis. Terus bergerak maju dengan segala perubahannya.|

Nothing lasts forever, this too shall pass!
Quote ini selalu menguakan saya di saat-saat lemah.


Dari mana kalimat itu berasal? 

Konon, satu ketika ada seorang raja meminta tukang emas senior kepercayaannya untuk membuat cincin emas.

Raja minta di cincin itu terukir kata-kata secara melingkar. Sebuah kalimat yang menggambarkan intisari sebuah kehidupan.

Wah
, si tukang emas ini bingung! Mau dikasih tulisan apa cincin emas itu?


Berhari-hari dia memikirkan seluruh perjalanan hidupnya, dari ia muda sampai sekarang sudah tua. Akhirnya ketemu-lah kalimat “This too shall pass”.

Saat diserahkan pada sang raja, ia tidak mengerti apa maksud kalimat yang dibuat oleh tukang emasnya ini. Yang penting dipakai aja lah!

Sampai suatu ketika terjadi masalah pelik di kerajaannya. Raja memandang cincin yang selalu dipakainya. This too shall pass. Yang ini pun akan berlalu!

Kalimat itu sungguh membuat ia tenang ,sehingga ia bisa menyelesaikan problemnya dengan baik.

Saat keadaan sudah di puncak kesuksesan dan kebahagiannya, kalimat di cincin itu terlintas kembali dalam pandangan raja. This too shall pass! Bahwa yang ini juga pun akan berlalu.

Jadi ia harus selalu rendah hati dan menyadari semua ini adalah anugerah Tuhan semata. Dan membuat persiapan seandainya hal buruk itu terjadi.

Nah teman, apa yang Anda alami saat ini? Hal baikkah? Hal burukkah? 

Yang saya alami adalah, Tuhan tetap bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan rencana yang terbaik dalam kehidupan saya dan Anda! Amin!

 

Yang selalu belajar untuk bertumbuh dalam iman,
Gideon Yusdianto  
Instagram @61d30n