PERAHU BERAYAP

Ada dua pemuda, adik kakak mencoba untuk membuat sebuah perahu. Keduanya mencari beberapa potongan papan bekas karena tidak mampu membeli perahu. Ketika sedang sibuk mencari, mereka menemukan beberapa papan yang masih layak dan sebuah papan berayap.

Saat memilah-milah sang kakak hanya memilih papan yang kokoh saja dan menyingkirkan papan yang berayap itu. Sang adik yang melihat, melarang dan berkata, “Itu masih bisa dipakai kak, jangan dibuang”. Kakak menjawab, “Ini dipenuhi rayap, dik.” Adik menyautnya, “Tidak apa-apa kak, daripada kita kekurangan papan dan tidak bisa membuat perahu, bagaimana?” Sang kakak menanggapinya dengan tenang dan berkata, “Kau benar juga, baiklah kalau begitu. Mari kita buat langsung.”

Setelah seminggu proses pembuatan perahu selesai, perahu pun sudah bisa digunakan untuk mengarungi lautan dan memancing ikan-ikan sebagai pundi-pundi pemasukan mereka bertahan hidup.

Selang beberapa bulan kemudian, rayap-rayap itu bertelur, beranak pinak dan bertambah banyak. Rayap-rayap baru terus menggerogoti papan dan tersebar hingga memakan papan yang ada di lambung perahu. Perahu tersebut masih terus digunakan berlayar dan adik-kakak ini tidak menyadari ampas-ampas papan yang berserakan sebagai tanda sudah mulai keropos.

Dan ketika ditengah laut, perahu mereka dihantam oleh ombak besar, alhasil air pun masuk lewat celah-celah dan lubang-lubang papan. Hujan pun datang membasahi mereka dan semakin membuat mereka sibuk menguras air yang masuk ke dalam perahu. Dan mereka menemukan lubang dengan papan yang sudah hancur termakan rayap-rayap. Akhirnya perahu tersebut karam.

__________________________________________

Hanya tidak mau repot biasanya kita mulai menurunkan standard apa yang kita lakukan selama ini. Padahal meremehkan sebuah kesalahan kecil, apalagi berulang-ulang, akan membawa bencana besar pada akhirnya. Berusahalaj sedikit lebih keras, lebih teliti, lebih rumit, untuk menghindari masalah besar pada ujungnya.

logo