PENUTURAN LANGSUNG SECURITY SMTB YANG FOTONYA VIRAL MENGGENDONG ANAK KECIL KORBAN BOM

Menjalani sebuah profesi pasti ada sebuah tanggung jawab dan resiko di sebuah situasi.
Makanya terkadang kita mulai melihat seberapa bernilainya pekerjaan tersebut mau kita lakukan.

Nilai itu bisa berupa rupiah yang kita dapatkan, yang seringkali juga dibarengi dengan gengsi yang terkatrol.

Tapi bagaimana dengan kisah yang satu ini ?

Anda pernah melihat foto seorang satpam yang menggendong seorang anak kecil yang terluka sementara ia sendiri berdarah-darah ?
Foto tersebut menjadi viral di sosial media waktu kejadian bom meledak di Gereja Santa Maria Tak Bercela  (SMTB) Surabaya.

Melalui Wenny, korban bom SMTB dengan 2 putranya meninggal, saya akhirnya dipertemukan dengan Bapak Ari Setiawan (saya sebut dengan mas Ari), sosok satpam di foto itu yang menggendong si kecil Nathan.

Senin 4 Juni 2018, sekitar pukul 4 sore…

Sesampainya saya bersama Junita, teman saya, rumah di bilangan Ngagel Rejo itu nampak sepi. Kami disambut oleh istri mas Ari yang memberitahukan kalau suaminya sedang kontrol berobat di RSAL Dr Ramelan Surabaya.

Sambil menunggu kami berbincang-bincang dengan mbak Sri Wahyuni yang sudah 10 tahun ini menikah dengan mas Ari. Mereka belum dikaruniai putra.

Di rumah ini kami sudah terbiasa dengan toleransi pak. Mas Ari sama saya Muslim. Kakak perempuannya ada 4 orang dan mereka ini Katolik. Sementara kakak laki-lakinya juga Muslim seperti kami” demikian mbak Sri mengawali perkenalan kami.


Foto : Sri Wahyuni, istri Ari Setiawan, saat menyambut kami

Mbak Sri mengungkapkan kesedihannya dengan adanya kejadian bom yang juga menimpa suaminya tersebut. “Saya ini Muslim pak, tapi yang saya tahu Islam itu damai dan cinta sesama, bukan ngebom-ngebom begitu !”

Tak lama kami berbincang, nampak mas Ari datang dengan naik motor diantar oleh kakak iparnya. Tubuhnya sedikit gemuk dibanding yang saya lihat di foto, dan rambutnya plontos.

Selamat sore Mas Ari, perkenalkan saya Gideon Yusdianto dari Radio Bahtera Yudha 96.4 FM Surabaya. Saya yang kemarin sudah janji pengen ketemu dan ngobrol sama mas”,  saya berdiri menjabat tangannya yang tampak ada beberapa bekas luka kecil.

Kami kemudian duduk bersebelahan.

Sudah sehat mas ?” tanya saya.
Alhamdulillah pak sudah semakin baik. Ini tadi saya kontrol gigi di RSAL. Kan gigi saya yang bagian atas ini hancur” jawab mas Ari yang sudah dioperasi rahang atasnya yang bergeser.

Syukurlah mas. Kata istri, 2 hari ini sudah kembali bekerja ya ?”,  pertanyaan saya ini di-iyakan oleh mas Ari.

Sudah lama mas Ari bertugas sebagai security di SMTB ?” tanya saya.
Sudah 3 tahun ini pak !

Yaaa…awalnya sih tahun-tahun pertama masih belum bisa menikmati. Kan sebuah pekerjaan yang baru buat saya. Saya pikr juga karena bekerja di Gereja pasti banyak aturan dan batasan-batasan.
Tapi ternyata kok ya nggak. Di sana kita semua diperlakukan sama, bahkan lebih dari sahabat. Kita semua sudah seperti saudara meski berbeda-beda. Itulah yang bikin saya senang meski gajinya kecil”,
tutur mas Ari.

Dulunya mas Ari ini pernah mendaftar sebagai calon tamtama (catam). Karena giginya tidak sempurna ia gagal diterima. Sempat mas Ari bekerja 2 tahun di PT PAL sebagai teknisi elektrik sesuai dengan bidang sekolahnya dulu di STMKAL Bumi Moro Surabaya.
Setelah itu ia menjadi driver antar jemput sekolah. Belum ada pekerjaan dengan pendapatan yang pasti.

Sampai suatu ketika, kakak mas Ari yang juga umat di Gereja SMTB mereferensikan dia untuk bekerja sebagai security di Gereja. Dari sanalah awal pekerjaannya hingga hari ini.

Mas Ari ada firasat gak sebelum kejadian Minggu pagi 13 Mei 2018 itu ?

Begini..Sabtu siang selesai saya bertugas. Mau masuk ke hari Minggu besoknya itu kok saya sepertinya males gitu untuk kerja. Saya bilang sama istri saya, “Dik, aku tak libur aja ya besok”

“Loh emangnya sudah dapat pengganti ?” tanya istri saya.

Saya telpon ke sana kemari minta rekan yang lain tukar shift kok semua pada gak bisa dihubungi. Malamnya saya juga gelisah, gak bisa tidur, mondar mandir gak jelas.

Istri saya bilang, “Kamu itu punya tanggung jawab jaga keamanan Gereja mas. Ya sudah masuk o kerja sana gih… Lha wong cuma 8 jam saja loh !”

Akhirnya meski gak bisa tidur, saya Minggu paginya tetap berangkat tugas. Masuk shift pagi jam 6.00 – 14.00”
, demikian tutur mas Ari.

Nah terus apa yang terjadi mas di shift pagi itu ?” tanya saya.

“Jam 6 pagi saat saya bertugas. Misa pertama jam 5.30 belum selesai. Kurang lebih jam 6.15 selesainya.

Kejadian bom itu kan terjadi sekitar jam 7.10, saat menunggu menuju misa kedua jam7.30. Sudah ada banyak umat yang berdatangan.

Posisi saya saat itu ada di pintu keluar Gereja sebelah selatan, dekat becak-becak.

Sebagai security, tugas saya adalah mengatur lalu lintas umat yang datang. Mobil jangan sampai berhenti di depan pintu pagar, tapi saya suruh maju ke depan untuk menurunkan penumpang di sana. Untuk sepeda motor, parkiran bagian depan kan masih kosong. Jadi harus kita isi dulu.

Kemudian saya lihat ada bu Wenny datang. Ia masuk bersama kedua putranya dan keponakannya. Gak lama kemudian ada mobil putih. Saya suruh maju biar gak menutupi perempatan yang mau belok ke kiri.


Akhirnya mobil putih itu maju sedikit. Setelah pintu tengah mobil tidak terhalangi oleh becak, penumpang yang di depan mulai buka pintu dan turun. Saya bukain pintu bagian tengah ternyata itu pas Iswadi ( 
umat SMTB yang sudah sepuh) beserta istrinya. Saya bantu dia keluar.

Waktu saya masih pegang pintu mobil bagian tengah, saat bu Iswadi mau turun, saya lihat ada motor hitam berjalan pelan dengan 2 anak laki-laki di atasnya. Mereka pakai helm standard. Yang depan tidak kelihatan wajahnya karena tertutup slayer.


Pas posisi sudah lurus depan pintu langsung motor ini kenceng jalannya. Mereka ini mau masuk ke dalam Gereja, ke arah pilar.

Kurang lebih 15 langkah kaki, saya mendengar suara mas Bayu teriak “Weee…weee….weeee…weeeee !!!”

Seperti diberitakan, kita tahu bahwa Bayu meninggal dengan hancur tubuhnya karena posisinya paling dekat saat menghadang motor bomber itu.

Mendengar itu saya menoleh ke arah dalam Gereja, dan booooooooooom….!!!!

Terdengar ledakan sangat keras sekali. Awalnya saya pikir itu ban mobil meletus.
Terlihat asap dan debu hitam pekat. Baunya seperti bahan-bahan kimia yang pedas di hidung.
Spontan saya tutup telinga dan jongkok. Setelah itu telinga saya berdengung.

Saya melihat banyak korban berjatuhan dengan potongan-potongan tubuh yang hancur. Bau amis darah mulai tercium. Orang-orang ada yang berteriak bom…bom. Ada yang menangis” tutur mas Ari dengan detail sekali.

Saya menghela nafas dalam-dalam, membayangkan suasana ngeri saat kejadian.

Dalam hati saya cuma berkata “Ya Tuhan….tega sekali ya para teroris itu. Salah mereka apa Tuhan ?? Mereka mau beribadah berjumpa dengan Tuhan. Yang lain sedang bertugas menjalankan tanggung jawabnya masing-masing. Bahkan ada pula yang mencari nafkah di sekitar lokasi.
Duuuuh Gusti…..”

Mas Ari mulai melanjutkan ceritanya kembali,

Saya berusaha menjauh dari halaman Gereja. Mobil putih yang membawa pas Iswadi sekeluarga juga spontan lari menjauh dengan kaca belakangnya pecah.
Saya mulai terasa kok asin ya di mulut. Ehhh… ternyata itu darah dari mulut saya.

Saya mendengar pak Iswadi berteriak minta tolong. Segera tak sebrangin beliau menjauh dari area ledakan. Ada kaca menancap di kepala pak Iswadi, sama di bagian dada terlihat bajunya sobek. Istrinya tidak terluka, sedangkan putranya nampak luka ringan.


Saya bilang ke mereka “Buk…Dek….minta tolong sebisanya ya sama yang lain. Cepat minta di antar ke Rumah Sakit terdekat.


Kemudian saya masuk kembali ke dalam area Gereja. Rasanya bingung, kalut, sampai saya gak kepikir luka saya ini seperti apa. Saya lihat ada pak Ahmad ( 
polisi yang sedang bertugas jaga di SMTB) juga jadi korban.

Saya lihat ada Nathan (
putra bu Wenny yang akhirnya juga meninggal). Dia tertelungkup ke mamanya sambil pegang bahu mamanya. Saya angkat Nathan yang penuh darah, dari kepala sampai kaki. Saya gendong Nathan dengan tas ransel masih melekat di badannya.

Saya dengar Nathan bilang “Mama…mama…”. Lalu di gendongan itu saya tenangkan dia “Diem ya dek…Diem..Sabar ya dek…”

Sebenarnya saya juga sudah bilang ke bu Wenny “Ibu pegang pundak saya…Kita cepat keluar… Ibu jangan duduk di sini…!”

Tapi bu Wenny belum mau keluar dari lokasi. Sepertinya dia berat ninggalin Evan”.
Evan adalah anak bu Wenny yang pertama, yang seperti saya pernah tulis, Evan meninggal langsung di lokasi)

Sampai di cerita ini, saya sebenarnya sudah mau byooor menumpahkan air mata. Saya tahan… Ya Tuhan…..

Hmmm…tubuhnya sendiri terluka, tapi luar biasa mas Ari ini. Salut mas saya dengan anda !
Tidak menghiraukan keadaan dirinya sendiri tapi dengan cekatan menolong orang lain sebisanya dia. Perbedaan agama dan warna kulit tak bisa menghalangi dia untuk mengungkapkan isi hati nuraninya yang mengasihi sesama.

Waktu itu banyak teriakan minta tolong, tapi semua pada bingung sendiri-sendiri, tidak ada yang menolong.

Kemudian mas Ari bawa kemana Nathan ?” tanya saya

Saya juga bingung anak ini mau tak bawa ke mana? Tak bawa keluar gak ada yang bisa jaga. Akhirnya beberapa saat om-nya datang. Dia tahu SMTB kena bom dan anggota keluarganya juga jadi korban. Saya taruh Nathan di mobil si om-nya itu. Saya bilang “Udah bapak bawa dulu, cari pertolongan !

Kemudian saya lari kembali ke dalam Gereja. Bu Wenny nampaknya sudah jalan sendiri dan dibawa ke Rumah Sakit dengan mobil pikap. Saya lihat Evelin keponakannya itu. Ketika saya mau angkat dan bawa Evelin ke Rumah Sakit, saya ditarik pak Budi (rekan security).

Kamu berdarah Ri ! Ayo cepat ke Rumah Sakit !” kata pak Budi yang kemudian segera mengantar saya ke Rumah Sakit Bedah Manyar dengan motor berboncengan.

Saya masih kuat berjalan dan tidak terasa sakit. Begitu sampai di Rumah Sakit mulai terasa sakit semua. Kaya memar dan bengkak begitu.

Penglihatan saya kabur. Mata kiri saya ini kenapa ya…Perih dan ketika saya usap itu darah. Rupanya ada serpihan bom itu masuk ke dalam mata. Tapi alhamdulillah, keluar sendiri serpihannya sama cairan obat tetes mata.

Saya usap tangan saya, lha kok ada beberapa seperti benda-benda tajam. Tak cabuti sendiri serpihan-serpihan di kulit tangan saya. Saya bilang sama dokter “Udah Dokter, tangani dulu yang lain yang lebih serius. Saya gak apa-apa kok”  kata mas Ari detail.

Maaf mas, sampean dalam keadaan seperti itu kok berani ya, gak takut mati ?” tanya saya.

Hehehe…kalau soal hidup dan mati itu kan semua sudah digariskan ama Tuhan pak. Kita ini mana bisa mendahului kehendak Allah. Saya cuma percaya gitu kok pak” sahut mas Ari dengan mantap.

Oh ya mas Ari. Saya pernah tahu foto anda bertiga ama Bayu dan pak Ahmad. Itu benar ya pak sebelum kejadian bom pagi itu ?” tanya saya kembali sambil menunjukkan foto yang dimaksud.

Nah ya itu. Saya bingung. Tidak biasanya mas Bayu ngajak begitu. Jadi habis foto berempat dengan para personil security untuk pergantian jaga, mas Bayu beberapa saat kemudian bilang “Ayo foto…foto !” Dia mengajak pak Ahmad polisi itu.

Ri…ayo ikut foto. Security ikut foto 1 orang” ajak mas Bayu.

Halaaahh mas..Wong foto ae, wong loro lak wes cukup (foto berdua saja sama pak Ahmad kan sudah cukup)” balas saya

Wes gak…mang koe kudu melok Ri ! (Memang kamu harus ikut foto Ri !)” kata mas Bayu.


Foto terakhir sebelum kejadian: Bayu, Ahmad, dan Ari
(c) Keluarga Bayu

Terus ada yang bilang “Foto kok bertiga. Pamalik kata orang Jawa. Gak boleh !

Halaaaah…kok percoyo ngonoan. Paling seng mati yo aku disik (Halah, kok percaya begituan. Paling saya yang duluan meninggal)” kata Bayu menanggapi.

Mendengar itu, sebagai sahabat dekat saya bilang “Mas Bayu, bicara apa toh mas…?! Wong bicara kok gak diatur”
Pak Ahmad kemudian bilang “Udah…udah…ayo ngopi…ngopi. Wong kita cuma bercanda aja kok

Foto bertiga itu memakai HP Bayu. Sebelum HP nya hancur, foto itu telah dishare oleh Bayu ke WA group keamanan SMTB. Seolah Bayu ingin mengabadikan dan membagikan kenangan terakhirnya saat melayani di Gereja, sebagai relawan koordinator keamanan Gereja.

Ada lagi gak mas, kenangan terakhir bersama mas Bayu ?” tanya saya lagi.

Pagi itu kita masih bersenda gurau seperti biasanya. Mas Bayu tuh sering mengingatkan kami akan tugas security itu begini begitu. Terakhir itu dia kok sampai ngurusin hal baju, seragam atau jaket para security itu jangan taruh di belakang pintu pos. Taruh di loker saja. Saya heran hari itu kok sampai begitu dia ngurusinnya.

Biasanya malam-malam kami ini juga sering ngumpul bermain di Gereja. Biasanya dia suka bawa peralatan kameranya untuk foto-foto. Kan dia fotografer pak. Sekarang sepi…gak ada mas Bayu lagi yang guyon-guyon sama kami. Saya sedih…terpukul…
” kali ini mas Ari nampak berkaca-kaca matanya saat mengingat sahabat dekatnya yang ia panggil mas Bayu itu.

Bahkan teramat dekatnya mas Ari dengan Bayu, mbak Sri bilang pertama yang ia cari saat di Rumah Sakit adalah Bayu.

Jadi kapan mas Ari tahu Bayu telah tiada?” tanya saya.

Setelah 3 hari di RSAL, waktu mau pindah dari ICU ke kamar biasa. Saya disuruh istri untuk tarik dan buang nafas. Saya katakan “Kaya olah raga aja dek !”

Tapi saat itu istri saya diberitahu dokter, selama emosi saya belum stabil maka saya belum boleh keluar ICU. Nah setelah stabil emosi saya, istri memberitahukan kalau sebenarnya Bayu telah tiada” jelas mas Ari.

Mas ini emosional apa ?” saya penasaran.

Ya begini loh pak. Saya sebagai umat Muslim, si pelaku juga Muslim. Terus yang jadi motivasi teroris itu apa? Padahal dalam agama kita selalu diajarkan untuk saling mencintai sesama. Tapi kok malah dijadikan sebagai ajang pembunuhan. Ada niat juga untuk saya membalas kelakuan mereka. Saya marah….!

Nada mas Ari terdengar meninggi di sini.

Tapi terus saya diingatkan oleh ibu-ibu dari Polri yang berkunjung di rumah sakit, “Lha kamu itu mau bales, terus mau bales ke siapa? Mau bales ke umat? Lha apa ya umatmu bersalah? Kan gak juga !”

Saya emosional itu juga campur sediiih pak. Orang yang gak tahu apa-apa kok jadi korban.
Setelah tahu mas Bayu tiada, saya nangis. Sebagai Muslim saya hanya bisa bilang Inna Lillahi wa inna ilayhi raji’un


Foto:  Ibu Ida, ibu dari mendiang Bayu bersama mas Ari.
Sesaat setelah keluar dari RSAL, ia langsung berkunjung ke rumah keluarga Bayu. Nampak ada jahitan di pipi sebelah kiri karena baru saja dikeluarkan adanya serpihan besi di sana.
(c) Galih

Saya sedih kehilangan teman saya….Seperti saudara juga. Secepat itu, dengan kondisi seperti itu juga meninggalkan kita…Temenku dibunuh dengan mengatasnamakan agama. Yaaaa…sedih banget lah pak saya….”, suara mas Ari bergetar seperti menahan tangis dengan mata yang berkaca-kaca kembali.

Dengan adanya terapi dan konseling dari para psikolog yang mendampingi saat di RSAL kini mas Ari sudah jauh lebih tenang.

Mas Ari sekarang sudah ikhlas kan ya? Sudah mengampuni semuanya ?” saya berusaha meyakinkan keputusan hatinya.
Yaaa…saya iklhas. Saya sudah melupakan semua kemarahan. Saya mengampuni mereka. Saya tahu mereka juga korban dari sebuah paham yang salah”,  tambahnya lagi.

Pernah nanya gak sama Tuhan mas, saya ini salah apa ya kok sampai kena musibah ini ?”, tanya saya kembali.

Dulu waktu di ICU pernah mikir begitu. Ada timbul pikiran saya ini salah apa ya Allah ? Kok saya sampai dihukum kayak begini ?
Ibu-ibu itu bilang “Ya mungkin ini teguran karena Tuhan masih sayang sama kamu. Biar kamu lebih dekat lagi sama Tuhan” , demikian tutur mas Ari.

Mas sekarang trauma ?” tanya saya

Gak lah pak. Kita kembalikan lagi sama Allah. Musibah kan gak ada yang tahu. Istri juga memberikan semangat dan dukungan. Alhamdulillah, saya punya istri yang sayang banget sama saya.” Kata mas Ari yang kali ini matanya berbinar-binar dengan cerahnya.

Terakhir mas, harapan mas Ari apa dari semua kejadian bom di Surabaya ini ?” tanya saya menutup obrolan sore itu yang sudah hampir waktunya berbuka puasa.

Jangan ada lagi lah peristiwa bom di Surabaya. Harapannya Surabaya yang selama ini adem ayem tentrem, dengan adanya terorisme ini kok semua jadi takut dan trauma. Jangan ada lagi lah peristiwa bom di Surabaya” jawab mas Ari.

Akhirnya kami menutup obrolan sore itu dengan sebuah doa dari saya supaya mas Ari cepat pulih secara sempurna.

Masih ada serpihan di kepala yang harus dibersihkan lagi. Perawatan rahang atas dan giginya juga berjalan dengan baik. Begitu pula dengan mata kirinya agar kembali normal seperti sediakala.

Plus, satu lagi !
Saya doakan mas Ari cepat dikasih momongan ama Tuhan. Tidak ada yang mustahil bukan buat Tuhan?

Saya menyemangati keluarga ini yang 10 tahun menikah belum dikaruniai anak.
Bukankah saya dinantikan mama saya selama 28 tahun menikah, baru lahirlah saya sebagai anak tunggal dalam keluarga saya.

Semangat terus mas Ari dan mbak Sri !
Biarlah teladan kepedulian kepada sesama tanpa memperhitungan kepentingan diri sendiri ini menular  dan menjadi inspirasi kepada generasi bangsa ini.

Saya pulang sore itu, lagi-lagi dengan sebuah selipan doa. Damai sejahtera turun atas Surabayaku dan Indonesiaku ! Amin !

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n