PELAJARAN DARI TUKANG BAKSO

Suatu malam setelah pulang dari kantor, di pinggir jalan ada tukang bakso yang lewat. Karena memang sudah sangat lapar, saya pun langsung menepikan motor dan memesan satu mangkok bakso padanya

Dalam sekejap saja bakso itu sudah ludes. Saya memang kelaparan sehingga memesan satu mangkok bakso lagi. Saat menunggu mangkok kedua datang, ada orang lain yang membeli lima porsi bakso untuk membawa pulang. Ketika menerima bayaran, saya memperhatikan bahwa bapak itu memisahkan uang bayaran ke dalam tiga kaleng berbeda. Masing-masing kaleng itu berbeda warna. Karena penasaran dan masih menunggu pesanan yang belum tiba, saya memberanikan diri untuk bertanya,

“Pak, mengapa uang yang tadi Bapak terima dipisah-pisah dalam tiga kaleng?” tanya saya sambil masih melirik ke laci tempat bapak tersebut menyimpan uang. “Oh, ini memang selalu saya pisahkan Pak. Saya sudah berjualan bakso selama 16 tahun dan hal ini selalu saya lakukan. Supaya jelas saja, “ jawab bapak itu sambil tersenyum

Makin penasaran, saya bertanya lagi, “Maksudnya supaya jelas bagaimana Pak?”

“Iya harus jelas Pak. Kaleng pertama yang hitam ini tempatnya sebagian besar penghasilan saya. Uangnya dipakai untuk biaya hidup sehari-hari dan keluarga. Kalau dua kaleng ini ya isinya buat lain-lain Pak,” jawab bapak pedagang bakso itu sembari menyendokkan kuah ke mangkok bakso pesanan saya.

“Lho, lalu dua kaleng lain isinya untuk apa Pak? Tabungan maksudnya?” saya pun menjawab sambil menerima mangkok bakso yang diulurkan oleh bapak tersebut.

“Bukan Pak, kaleng yang hijau ini isinya uang yang saya sisihkan untuk sedekah. Walau tidak banyak, setiap tahun saya selalu bisa melaksanakan ibadah kurban. Walau tidak besar jumlahnya, saya tiap tahun bisa membeli satu ekor kambing,” ujar bapak itu sambil tersenyum.

Saya yang sudah menerima mangkok bakso sampai lupa untuk makan karena kagum. “Lalu kaleng satunya lagi untuk apa pak?” lanjut saya.

“Nah, kalau yang itu untuk cita-cita saya berangkat haji dengan istri. Memang sampai sekarang uangnya belum cukup untuk berangkat namun saya yakin jika memang diberi kesempatan, saya dan istri bisa ibadah haji,” jawab bapak itu dengan lembut.

Setelah mendengar penjelasan bapak penjual bakso tersebut, saya sangat tersentuh. Dalam keterbatasannya ia bahkan masih ingat untuk bersedekah dan selalu menyisihkan uang untuk melaksanakan ibadah haji.

Namun ada satu hal yang mengganjal sehingga saya bertanya lagi, “Maaf Pak bukan bermaksud untuk lancang, tapi bukannya ibadah haji itu hanya untuk yang mampu saja?”

Bapak itu menatap saya dengan ramah lalu menjawab, “Mampu itu kan tidak ada definisinya. Saya tidak pernah menganggap diri sebagai orang tak mampu. Saya selalu yakin bahwa dengan bekerja keras dan jujur, suatu hari nanti Insya Allah… saya akan mampu berangkat naik haji dengan hasil keringat sendiri.”

(Lila Nathania – Intisari Online)

_________________________________________

Amazing ! Saya belajar banyak dari kisah saudara kita ini tentang bagaimana konsep kekayaan.

Kebanyakan orang menilai bahwa orang kaya itu yang rumahnya banyak dan mewah, mobilnya banyak dan mewah, punya perusahaan banyak dan besar-besar. Kalau dinilai secara fisik memang iya begitu, orang yang punya banyak maka dialah yang disebut orang kaya.

Tapi saya lebih suka memahami apa itu “kaya” dalam arti “kekayaan hati”. Orang yang “kaya hati” tidak diukur dari berapa banyak yang ia punya, tapi dari berapa banyak yang ia berikan untuk orang lain. Berapa banyak kebaikan yang ia bisa berikan pada orang lain, dan tentu saja, orang yang kaya dinilai juga dari seberapa banyak yang ia bisa berikan untuk pekerjaan-pekerjaan Tuhan di dunia.

Bagaimana menurut anda ?

logo