PAYUNG IMAN

Alkisah, petani yang hebat dan keluarganya mengalami masa-masa kekeringan yang hebat.

Dengan frustasi, petani itu mengumpulkan keluarganya di meja makan saat sarapan dan berdoa,

Tuhan, tolong segera turunkan hujan, kami sangat membutuhkannya untuk bertahan hidup.”

Setelah selesai, petani itu bangkit dari meja makan dan pergi meninggalkan rumah.

“Ayah, kemana Ayah akan pergi?” tanya putrinya yang berusia 6 tahun.

“Saya akan keluar untuk memeriksa tanaman yang rusak. Mengapa?” jawab sang ayah.

Bawalah payung,” kata putrinya lagi.

Jangan konyol,” jawab petani itu, “sudah tidak turun hujan dalam beberapa bulan.

Ya, saya tahu, tapi kita ‘kan berdoa minta hujan. Tidakkah Ayah percaya bahwa Tuhan akan menjawab doa kita?

Petani itu melihat payung di samping pintu yang terbuka.

Ia melihat ke langit yang tak berawan.

Ia menatap wajah polos putrinya.

Ia merasakan suara yang berbicara di dalam dirinya.

“Baik untuk berdoa. Lebih baik percaya bahwa doa Anda bisa menjadi kenyataan. Tapi yang saya inginkan adalah Anda bertindak untuk mengantisipasi keajaiban yang Anda alami.”

Petani itu berjalan mendekati putrinya, mencium keningnya, dan kemudian mengangkat payungnya saat keluar dari pintu, memutar-mutar di tangannya saat ia berjalan menyusuri jalan setapak.

Apakah kita bertindak seolah-olah doa kita akan dijawab dan ada keajaiban untuk kita?

Mari berdoa, dan ambil payung. Itulah iman yang nyata.