PENYESALAN PARDI

Pardi adalah seorang pegawai bank. Sejak kecil ia hidup di keluarga yang berkekurangan. Namun ia punya semangat juang yang tinggi. Inilah kisah pegawai yang tak paham makna kekayaan.

Ketika awal menikahi istrinya, Pardi sama sekali tak punya apa-apa. Harta, uang, maupun rumah semua tidak ia miliki. Namun Pardi selalu bekerja dengan keras. Untunglah kerja kerasnya dihargai dan setelah bertahun-tahun bekerja, Pardi berhasil naik pangkat berkali-kali hingga akhirnya ia dipercaya menjadi kepala cabang bank tempatnya bekerja.

Kekayaan ini tak lepas dari dukungan sang istri. Sang istri sudah setia menemani Pardi sejak ia masih bukan siapa-siapa. Sekarang setelah Pardi sudah kaya, ia melihat istrinya. Perempuan ini sudah tua, tidak langsing, dan kulitnya pun kusam. Pardi mulai berpikir untuk meninggalkan istrinya dan mencari pengganti yang lebih sepadan dengannya.

Ia akhirnya mengambil uang 101 juta rupiah dari tabungannya dan memasukkan ke rekening bank istrinya. Ia kemudian mngajukan gugatan cerai pada istrinya. Ia merasa tak bersalah karena sudah memberikan uang ‘sangu’ yang cukup untuk sang istri.

Ketika digugat cerai, istri ini diam saja. Tanpa bicara sedikit pun, istri ini mengemasi barang-barangnya. Sang suami kemudian menyuruhnya untuk pindah ke sebuah rumah baru yang khusus dibelikan untuknya. Setelah menikah lebih dari 20 tahun, suami ini mengusirnya begitu saja.

Akhirnya, datanglah hari kepergian sang istri. Ketika hari itu sang suami mengunjungi rumah baru istrinya untuk mengecek keadaan, ia tak menemukan siapa pun. Ke manakah istrinya?

Suami ini cepat-cepat kembali ke rumah asli mereka. Di meja tamu ia menemukan sepucuk surat, buku tabungan, dan kunci rumah. Surat itu berisi perkataan sang istri. Beginilah katanya,

 

“Aku pamit dulu. Aku akan pulang ke rumah orangtuaku di desa. Semua jaketmu sudah kucuci bersih dan kusimpan di lemari kamar yang sebelah kiri. Jangan lupa memakainya karena belakangan ini cuaca mulai dingin.

Jam tanganmu sudah kureparasi. Jika suatau saat rusak lagi, ingat ada orang yang sudah sering mereparasinya di sudut jalan dekat rumah kita. Kemejamu aku simpan di lemari kanan bersama dengan celana. Ikat pinggang ada di laci di bawahnya. Jangan lupa.

Jangan lupa juga minum obatmu dengan teratur. Aku sudah menyiapkan obat-obatan yang sering kamu minum di meja makan. Jika persediaan habis, pergilah ke apotek yang sering kita kunjungi. Dia selalu punya stok obat-obatanmu lengkap.

Kamu juga sering lupa membawa kunci. Aku sudah membuatkan satu set kunci cadangan dan menyembunyikannya di balik pot bunga dekat pintu masuk garasi. Bisa kamu pakai kalau kamu lupa membawa kunci.

Terakhir, aku sudah memasak nasi goreng dengan telur mata sapi kesukaanmu. Semoga setelah ini kamu bisa memasak sendiri. Jaga dirimu”

 

Surat ini tulisannya jelek dan acak-acakan. Namun, setiap kata yang jujur itu bagaikan pisau tajam yang mengiris-iris hati sang suami. Suami ini kemudian berjalan gontai ke dapur dan mencium bau harum nasi goreng kesukaannya. Nasi goreng yang dulu selalu dibawanya sebagai bekal saat masih jadi pegawai rendahan di bank agar ia bisa menghemat uang makan siang. Mengingat itu semua, meneteslah air mata sang suami.

Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Tiba-tiba Pardi berlari keluar sambil membawa kunci mobilnya. Ia langsung menyalakan mobil dan pergi ke stasiun kereta. Sesampainya di sana, ia berlari dan mencari-cari istrinya. Pasti ia sedang mencari tiket kereta untuk kembali ke desa orangtuanya.

Ketika dilihatnya sang istri dari kejauhan. Pardi langsung merasa begitu lega. Perasaannya campur aduk ketika melihat istrinya yang tak cantik itu. Ia kemudian berjalan mendekat, menyentuh bahu istrinya, lalu berkata, “Ke mana saja kamu? Aku lapar sekali dan ingin dibuatkan sayur bening kesukaanku. Ayo kita pulang.”

Mendengar hal itu, sang istri yang tadinya menatap Pardi dengan sedih dan merana langsung kaget. Ia pun langsung menangis dan memeluk suaminya. Tangis Pardi pun tak terbendung lagi. Ia ikut menangis sambil memeluk erat tubuh perempuan yang selalu mencintainya sesulit apapun keadaannya.

Pardi menyesal ia pernah berpikir untuk mengusir istrinya ini. Hidup pernikahannya sekarang terasa begitu berharga karena ia tahu bahwa sang istri telah mendukungnya dengan tulus dan sepenuh jiwa raga. Beruntunglah Pardi memiliki istri yang begitu cantik hatinya.

___________________________________

Luar biasa mengharukan kisah ini !

Teman, apa arti kekayaan buat anda? Deretan angka di rekening atau jejeran invetasi properti dan perusahaan yang anda miliki? Saya mau katakan semua kekayaan itu NOL tanpa rantai kasih yang tak pernah putus-putusnya dari orang terdekat atau keluarga yang mengasihi dan selalu mendukung kita. Merekalah investasi kekayaan terbesar kita.

Sudahkah anda menambah “modal investasi” yang jenis ini ?

logo