PAHLAWAN TANPA GELAR PAHLAWAN

Dingin. Hanya itu yang ku rasakan ketika menginjakkan kaki di tempat yang jarang sekali ku datangi ini. Sepi. Sunyi. Entah masih adakah kenangan indah yang tertinggal di tempat ini.

Semakin ku langkahkan kakiku di pekarangan rumah ini yang kini penuh dengan rumput-rumput liar tumbuh, semakin liar kenangan tentang dirinya menari-nari di otakku. Senyum mengembang di bibirku ketika sampai diriku pada kenangan akan suatu hari di mana senyum yang terukir di bibirnya terlihat begitu cerah. Hari yang begitu membuatku bahagia sekaligus hari yang membuatku menyesal selama lebih dari setengah umurku. Dan jika Tuhan memberikanku sebuah kesempatan untuk memperbaiki satu kesalahan di hidupku, permintaanku adalah memperbaiki permintaanku hari itu.

“Ayah, aku mau permen cokelat yang ada mainannya,” rengekku pada Ayah yang sedang memangkuku di sebuah angkutan kota. Kami hendak kembali ke rumah setelah membeli seekor kura-kura yang sudah sebulan lalu Ayah janjikan namun baru hari ini, tepatnya di hari ulang tahunku, baru dapat beliau belikan.
“Nanti, ya, sayang, Ayah belikan, uang Ayah sudah habis untuk beli kura-kura,” jawabnya lembut sambil mengusap pelan rambutku lalu mengecup puncak kepalaku.
“Tapi aku mau sekarang Ayah, hari ini kan masih ulang tahun Aila, jadi boleh dong Aila minta apa aja?” kembali aku merengek pada Ayah yang di matanya dapat ku lihat jelas ada semburat kelelahan di sana.

“Iya, Aila, tapi ini kan sudah Ayah belikan kura-kura yang kamu mau,” jawabnya pun masih penuh dengan kelembutan.
“Tapi Aila maunya permen cokelat sekarang! Aila gak mau kura-kura!” pekikku membuat beberapa orang di dalam angkutan umum itu menoleh ke arahku dan Ayahku.
“Aila! Ayah bilang nanti ya nanti!” balas Ayahku agak keras. Meledaklah tangisku. Dan Ayahku, hanya menatapku sebelum menghela napasnya panjang. Terasa berat sekali napas yang baru saja dihela olehnya, hal itu terlihat dari wajahnya yang langsung lesu setelahnya.

Tangisku masih terus berlanjut jika ku ingat kembali keinginanku akan permen cokelat yang belum dipenuhi Ayah hari itu, ditambah dengan amarah Ayah sewaktu di angkutan tadi.
“Ibu, Aila mau permen cokelat yang ada di minimarket ituuuuuu.” Ganti aku merengek pada Ibuku yang sedang memotong sayuran di dapur.
“Iya nanti Ibu belikan kalau Ayah sudah kasih uang ke Ibu, ya,” jawab Ibu seraya tersenyum padaku. Dadaku mulai sesak kembali, tanda bahwa air mataku akan ke luar sebentar lagi. Dan benar saja, tak sampai sepuluh detik, bulir bening itu sudah tumpah ruah membasahi pipiku yang memerah.

“Ayah dan Ibu gak sayang sama Aila! Aila cuma minta permen cokelat, Ibuuuu, Aila gak akan minta apa-apa lagi, Aila janjiiiii.” Tangisku semakin kencang tatkala Ibu hanya menghela napasnya panjang, seperti apa yang Ayah lakukan tadi. Aku kemudian pergi ke kamarku, oh, maksudku kamarku bersama kedua orangtuaku.
“Ibu-Ayah gak sayang Aila la-lagi..” gumamku terputus-putus karena tangis. Dapat aku dengar suara tirai kamar disibakkan lalu langkah kaki yang mulai mendekat. Ku lirik sekilas dan aku melihat Ayahku yang berjalan mendekatiku. Ku sembunyikan lagi wajahku di balik bantal, menolak melihat wajah Ayahku.

“Aila, lihat, Ayah punya satu hadiah lagi buat kamu,” ucap Ayah penuh kelembutan sambil mengusap kepalaku.
Ku tolehkan kepalaku ke kiri dan detik berikutnya yang terdengar di kamar itu hanyalah jeritan kebahagiaan dari mulutku. “Terima kasih Ayah, terima kasiiiiih!! Aila sayaaaaang sekali sama Ayah, Ayah memang Ayah Aila nomor satu!” jeritku sambil mulai mencium wajahnya dari mulai pipi, kening, bibir, semuanya. Ingin menunjukkan bahwa aku sangat berterima kasih padanya.

Ku longgarkan pelukanku pada Ayah dan aku mulai sibuk pada permen cokelat yang sangat aku inginkan yang hari ini dihadiahkan oleh Ayah. Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan di hidupku karena Ayah mengabulkan dua keinginanku. Pertama, kura-kura, dan kedua, permen cokelat, permen yang kini membuatku sibuk sampai tidak melihat wajah Ayah setelah itu.

“Ayah dan Ibu, sayang sekali sama Aila, Ayah dan Ibu akan berikan yang terbaik untuk Aila, apa pun akan kami lakukan, apa pun, Nak…” bisik Ayah lirih. Aku menoleh dan menyuapi Ayah permen cokelat yang dia berikan. Ayah menerimanya lalu senyum mengembang di bibirnya. Senyum yang begitu lebar yang membuatku ikut tersenyum, lalu derai tawa mulai meramaikan kamar kami.

Dua bulan setelahnya..

Hari ini aku kembali merajuk pada Ayah. Aku menagih janji Ayah untuk membelikanku sepatu yang sudah Ayah janjikan satu bulan yang lalu. “Ayah kan udah janji sama Aila mau beliin Aila sepatuuu, sepatu Aila udah bolong Ayah, udah jelek, Aila malu memakainyaaaaaa,” rajukku pada Ayah yang sedang menambal ban sepeda ontel kesayangannya, hasil warisan kakekku.

“Iya, Aila doakan saja ya supaya dagangan Ayah tiap hari habis terjual, Ayah nabung dulu ya, sayang,” jawab Ayah sambil membawaku ke pelukannya. Aku mendorong Ayah, menolak dipeluk olehnya. Aku dapat melihat wajah kaget Ayah setelah aku menolak pelukannya. Aku sempat takut tapi aku tidak akan mundur. Aku. Mau. Sepatu.

“Ya udah kalau begitu, Aila gak mau pergi sekolah lagi! Aila malu pakai sepatu jelek! Ayah emang gak sayang Aila!” teriakku lalu pergi meninggalkan Ayah. Biar, biar Ayah tahu betapa malunya diriku memakai sepatu jelek yang sudah bolong dan warnanya tidak jelas lagi.

Sore hari barulah aku kembali ke rumah. Setelah seharian aku bermain dengan teman-temanku, amarahku pada Ayah mulai hilang. Begitu sampai di rumah, aku melihat Ayah masih sibuk dengan sepedanya. Ku percepat langkahku untuk menghindari panggilan Ayah, namun, mendadak langkahku terhenti ketika melihat sepasang sepatu berwarna merah muda dengan hiasan kupu-kupu di kedua sisinya, duduk manis di depan pintu rumahku seakan sudah menungguku untuk menyambutku pulang.

“Ayah, ini sepatu siapa?” tanyaku pada Ayahku.
“Sepatu Aila,” jawabnya.
Aku melangkah mendekatinya, “sepatu siapa, Ayah?” tanyaku lagi.

Ayah menghentikan pekerjaannya dan menatapku lembut, “sepatu Aila, tadi Aila meminta sepatu, kan? Itu Ayah sudah belikan,” jawab Ayah, kali ini dengan senyumnya yang selalu muncul setelah mewujudkan keinginanku. Kali ini, bukan Ayah yang memelukku, namun aku yang berlari ke pelukannya, dan lagi-lagi, seperti bulan-bulan sebelumnya, aku meneriakkan kata terima kasih berkali-kali pada Ayah, yang selalu memberikan apa yang aku inginkan.

“Ayah dan Ibu, sayang sekali sama Aila, Ayah dan Ibu akan berikan yang terbaik untuk Aila, apa pun akan kami lakukan, apa pun, Nak…”

Itulah kata-kata yang selalu Ayah bisikkan di telingaku setelah mengabulkan permintaanku. Namun, yang aku tidak tahu, hari itu adalah hari terakhir di mana Ayah dapat membisikkan kata-kata itu penuh sayang ke telingaku, karena pada bulan berikutnya, Ayahku sudah dipanggil oleh Tuhan, untuk kembali keharibaan-Nya, kembali ke pelukan-Nya, kembali ke surga-Nya yang penuh dengan kebahagiaan. Hari itu aku tak hanya kehilangan sosok Ayah, namun juga kehilangan sosok malaikat pengabul permohonan milikku.

Aku masih dapat mengingat dengan jelas bagaimana kerasnya tangis Ibu ketika jenazah Ayah dikebumikan. Aku yang belum mengerti apa-apa saat itu karena umurku yang baru enam tahun, hanya menatap tubuh Ayah yang ditutupi kain putih, sedangkan tubuhku terus dipeluk oleh Nenekku. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana kerasnya usaha Ibu menghidupi aku dan seorang adikku selepas kepergian Ayah.

Mengingat tidak adanya warisan maupun harta benda yang ditinggalkan Ayah untuk kami, karena memang Ayah, Ibu, aku, adikku, adalah keluarga yang kurang mampu. Dan pekerjaan Ayah yang hanya sebagai penjual mainan keliling. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana tangis Ibu kembali pecah ketika beberapa pria berbadan kekar mendatangi rumah kami dan berteriak di depan Ibu yang sudah memohon namun tak jua dihiraukan oleh mereka.

Aku masih ingat dengan jelas bagaimana takutnya diriku yang melihat dengan jelas bagaimana pria berbadan kekar itu memukul Ibuku sampai jatuh terjerembab ke tanah, lalu mereka mulai mengacak rumah kami dan membawa barang-barang yang mereka anggap berharga. Aku yang masih berusia enam tahun kala itu, hanya dapat menangis di samping Ibuku yang tengah jatuh pingsan, bersama adikku yang ikut menangis bersamaku.

Kini, sudah dua puluh tahun kejadian itu berlalu namun masih jelas dalam ingatanku tahun-tahun penuh kebahagiaan ketika Ayah masih hidup dan terus mengabulkan keinginanku, juga tahun-tahun penuh derai air mata ketika Ayah telah tiada. Dari tempatku berdiri saat ini, masih dapat aku lihat bangunan yang sudah tidak lagi layak huni tersebut. Namun di bangunan itu pula tersimpan banyak kenangan yang masih terasa segar dalam ingatanku.

Ku langkahkan kakiku pelan menuju rumah lamaku itu. Semakin aku melangkah, semakin hatiku perih membayangkan Ayah dan Ibuku yang sedang bercengkerama sambil melempar tawa satu sama lain dan tak jarang aku yang menjadi sebab di balik tawa mereka. Pintu rumahku sekarang sudah tidak ada. Pintu yang dulu Ayahku perbaiki karena sebelumnya rusak akibat terlalu kencangnya temanku menendang bola ketika bermain bersamaku di depan rumah sudah hilang entah ke mana. Perih kembali terasa di hatiku begitu mengingat Ayah hanya tersenyum penuh kehangatan dan tak memarahi kami sama sekali saat itu.

Rumahku tidak punya ruang tamu, hanya satu ruang yang diberi sekat dengan lemari pakaian yang memisahkan kamar kami dengan ruang keluarga sekaligus ruang tamu sekaligus ruang makan. Perih kembali terasa di hatiku ketika teringat bagaimana dulu ruangan ini begitu hangat penuh dengan tawa. Dinding-dinding ruangan ini menjadi saksi bisu bagaimana dulu keluargaku pernah sangat bahagia. Dulu, sebelum Ayah meninggalkan kami semua.

Dingin. Itu yang aku rasakan ketika duduk di lantai rumah kami yang karpetnya sudah robek sana-sini. Ku tatap penuh rindu lemari pakaian tempat pakaian Ayahku disimpan. Ku buka lemari itu perlahan dan aku terkejut ketika melihat beberapa kertas masih ada di sana. Sepertinya Ibu lupa membawanya sewaktu kami pindah karena diusir paksa karena tidak bisa membayar uang sewa rumah sekitar sepuluh tahun yang lalu. Ku ambil tumpukan itu perlahan, warna kertasnya sudah berubah menjadi kecokelatan, namun tulisan yang ada di sana masih terlihat jelas. Aku mengernyitkan dahi begitu membaca judul di setiap lembar kertas itu. Ap-apa… maksudnya ini?

“Cicilan hutang bulan Januari”
“Cicilan hutang bulan Februari”

Ada dua belas kertas yang bertuliskan bulan yang berbeda. Tidak ada bulan dalam satu tahun yang terlewat. Ap-apa… maksudnya ini? Ku dekatkan kertas-kertas itu agar dapat ku baca lebih jelas. Di samping setiap nominal angka selalu ada tulisan, tulisan Ayahku. Dan setelah membaca setiap tulisan di kertas itu, rumah lama kami, kembali ramai oleh tangisan yang ke luar dari bibirku.

“15000, untuk membeli kura-kura”
“8000, untuk membeli permen cokelat”
“50000, untuk membeli sepatu”

Kertas-kertas itu adalah catatan hutang Ayah untuk memenuhi segala keinginanku. Tangisku semakin kencang ketika ingatan akan Ayah yang memberikanku hadiah memenuhi benakku. Ku peluk kertas-kertas itu erat seakan berharap saat ini aku tengah memeluk Ayahku. Ayah yang selalu menjadi malaikatku, Ayah yang selalu sabar dengan apa yang setiap hari aku pinta, Ayah yang setiap hari selalu memberikan cinta dan kasih sayangnya.

Ayah yang demi memenuhi segala keinginanku rela melakukan segala cara agar aku mendapatkan apa yang aku inginkan, Ayah yang setiap hari tidak lelah mencari nafkah untukku, Ibu serta adikku. Ayah… yang setiap hari selalu mengecup keningku ketika aku tertidur. Dan Ayah yang selalu menjadi pahlawanku yang tidak pernah meminta balas jasa akan apa yang telah dia lakukan dan korbankan.

Dengan mata yang masih berkaca-kaca dan tangis yang masih ke luar dari bibirku, ku dekati lemari Ayahku, ku buka setiap lacinya untuk mencari kertas-kertas yang lain, dan tanganku berhenti ketika melihat sebuah foto di laci paling bawah lemari Ayah. Foto diriku yang sedang memeluk Ayah dan di kedua bibir kami tersungging senyum. Tidak cukup sampai di situ, ada beberapa kalimat di foto itu, lagi-lagi aku mengenalinya sebagai tulisan Ayah.

‘Aila, anakku sayang, Ayah janji, Ayah akan memberikan apa pun yang Aila inginkan, Ayah akan menempuh segala cara agar Ayah bisa selalu melihat senyum seperti di foto ini di wajah Aila. Ayah sayang sama Aila, melebihi apa pun di dunia ini, Nak. Aila, juga sayang, kan, sama Ayah?’

“Iya Ayah, Aila sayang sama Ayah, maafin Aila, Yah, maafin Aila…” ucapku bermonolog pada diriku sendiri. Dalam hatiku, aku melantunkan doa agar Ayah dapat mendengar kata-kataku tadi. Doa tulus dari hatiku. “Yah, meski Aila telat mengucapkannya, tapi Aila tahu, di sana Ayah mendengarnya. Iya kan, Yah? Aila mau bilang kalau Aila sangat bersyukur menjadi anak Ayah, maafkan Aila ya, Yah. Aila banyak minta ketika menjadi anak Ayah, maafkan Aila, Yah..”

“Aila tahu waktu tidak akan bisa diputar kembali, karena itu Aila hanya bisa berdoa supaya Ayah, Ibu, aku, dan adik bisa dipersatukan lagi oleh Tuhan di Surga-Nya kelak. Ayah, tunggu Aila ya, Yah. Aila sayang Ayah. Aila tidak sabar memeluk Ayah lagi, memeluk pahlawan hidup Aila. Meskipun orang lain tidak beranggapan yang sama seperti Aila, Aila tidak peduli, karena bagi Aila, Ayah adalah pahlawan terbaik yang Aila miliki yang selalu membuat Aila merasa begitu disayangi dan dikasihi. Tidak akan sama rasanya, jika bukan Ayah. Aila sayang Ayah.”

Dan hari itu, setelah lebih dari sepuluh tahun aku ditinggalkan oleh Ayah, aku baru merasakan bagaimana rasa kehilangan yang sangat mendalam.

Untuk Ayah tercinta,
Meski tak selalu ku sampaikan kasihku secara nyata, Meski aku mencintaimu tanpa kata
Tapi percaya… Ada namamu yang selalu ku lantunkan dalam doa
Untuk Ayah tercinta… Hanya engkau pahlawan yang selalu aku cinta

by Tasya Aulya R

________________________

Ini adalah naskah TOUCHING STORIES yang disiarkan di Radio Bahtera Yudha 96.4 FM Surabaya tiap Sabtu Malam Minggu jam 20-23. Malam ini jangan lewatkan kisah-kisah yang mengharukan dan menyentuh hati anda, akan saya tuturkan secara live. Anda bisa juga streaming di www.bahterayudhafm.com