Orang beriman gak seharusnya depresi! Ah lemah! Gimana sih loe!! Ini pengalaman saya saat dihakimi begitu.

Setelah saya menulis tentang apa yang saya alami di kala saya “menghilang” dari peredaran online. Lama juga! Dari sejak 26 Desember 2020 hingga 8 Februari 2021.

Saya pikir ketika saya open, apa adanya bercerita mengenai keadaan saya yang lemah secara jiwa dan roh, saya jadi mengecewakan dan kemudian dihakimi oleh banyak orang.

Kalau toh emang Anda malah jadi kecewa ama saya, setelah membaca semua kisah saya ini, dengan segala kerendahan hati saya minta maaf. Saya masih manusia biasa yang tak sehebat seperti bayangan Anda.

Tapi nyatanya, beberapa hari ini saya kebanjiran orang-orang yang bahkan saya gak nyangka, dia juga mengalami kecemasan dan depresi di masa-masa sulit ini. Mereka seolah mendapat seorang sahabat bahwa mereka gak sendirian. Ada saya juga yang pernah ada di lembah kekelaman itu.

Beberapa orang malah bilang salut, saya mau membuka diri apa adanya. Ya itulah saya, apa adanya!

Lha wong superhero aja pernah kalah kok dari musuhnya. Kalau menang terus mungkin kita akan meninggalkan gedung cinema dengan kecewa berat. Karena ceritanya terlalu khayal dan bombastis. Gak real! Itulah sebabnya beberapa film superhero akhir-akhir ini dibuat lebih manusiawi.

Jadi singkatnya begini yang saya alami.

Dari yang awalnya shock divonis kena virus SARS_cov_2 serumah. Kemudian sedikit tenang setelah mendapat penanganan dari dokter. Gejalanya masih ringan.

Yang ada malah saya makin semangat dan beriman, 2 minggu lagi pasti kami sudah negatif! Karena bukankah masa inkubasi virus ini 2 minggu lamanya?

Setelah itu lemes lagi begitu tahu test PCR kami masih positif di minggu ke 2. Makin gak karuan lagi kondisi kejiwaan dan iman saya, setelah tahu kenyataan bahwa di minggu ke 4 ternyata masih positif lagi! CT Value lambat sekali naiknya.

Mulai bulan pertama itulah, saya divonis fix mengalami depresi yang lumayan berat oleh dr Aimee Nugroho, Sp.KJ, psikiater dari National Hospital Surabaya.


Padahal fisik saya sehat-sehat saja. Udah bisa membau dan merasa. Dari awal gak pernah batuk dan sesak nafas. Diare sudah stop di minggu ke 2. Lemes juga kagak! Lha wong masih bisa ngosek (bahasa Jawa untuk membersihkan) toilet. Masih bisa ngepel kamar sendiri.

Tapi pertahanan jiwa dan roh saya jebol setelah 1 bulan tidak kunjung negatif.

Mungkin ada yang menghakimi saya kurang dekat ama Tuhan sih! Ah lemah, gitu aja kok gak beriman! Kurang bersyukur sih makanya kamu jadi drop begitu! Tuh tuh liat, banyak yang lebih susah dari loe! 

OK, dengan tulus hati saya terima vonis Anda.

Tapi percayalah, di masa-masa itu justru saya makin mendekat ama Tuhan. Sebab saya udah berada di jarak terdekat dengan maut kan kalau udah kena covid?  Jadi mau apalagi kalau gak makin mendekat ama Tuhan?

Parahnya serumah kena semua! Saya yang sakit harus merawat Mama dan asisten rumah tangga kami yang ikut terpapar juga.

Dari dengerin banyak lagu rohani, dengerin khotbah-khotbah di Youtube, sampai berdoa itu dah bolak-balik saya lakukan. Sangking nganggurnya saya saat isolasi mandiri di rumah begitu lama. 1.5 bulan!

Tapi semua kegiatan rohani yang saya lakukan, jujur, gak ada rasanya sama sekali. Flat! Entahlah mengapa saya sampai terpuruk seperti itu.

Tapi saya kutip dari www.klikdokter.com, penjelasannya begini.

COVID-19 dikatakan juga memiliki dampak serius pada orang-orang dengan gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi.

Ketakutan akan virus dan perubahan yang diakibatkannya bisa membuat tingkat kecemasan meningkat. Namun, pada orang-orang yang memiliki gangguan kecemasan, efeknya bisa lebih buruk,”

kata Gail Saltz, MD, lektor kepala klinis di New York Presbyterian Hospital, Weill-Cornell Medical College, seperti dikutip di Health.

Orang-orang dengan gangguan kecemasan atau depresi yang harus isolasi diri dengan pasien COVID-19 mungkin akan merasa terbebani karena harus merawat pasien (caregiving), yang bisa membuat kesehatan mentalnya terdampak.

 

Nah, dari curhatnya teman-teman, saya tahu. Ohhh...ternyata mereka juga mengalami hal yang sama toh! Makin cemas, makin OCD (Obsessive Compulsive Disorder), dan makin depresi di kala mereka kena covid. Apa pun latar berlakang dan profesi mereka!

Terus terang saya prihatin. Banyak teman-teman ini malah dijauhi dan dihakimi oleh keluarga, Bahkan mentor rohaninya pun ikut menghakimi mereka!

Saya ngomong ke mereka, udah gak apa-apa lah! Mereka tidak tahu apa yang mereka katakan. Kan mereka belum pernah ada di fase seperti kita. Saya bilang begitu untuk menenangkan mereka yang cemas dan depresi.

Jadi apa yang harus saya lakukan sekarang, saat saya ada di tengah badai hebat?

Itu pertanyaan yang selalu ditanyakan ke saya sehubungan dengan pengalaman saat mengalami musim buruk.

Jawaban saya, nothing to do!

Berdamailah dengan diri sendiri terlebih dulu.
Bahwa it’s OK not to be OK!

Akui, hari ini jiwa dan roh saya sakit! Cari pertolongan di komunitas yang tepat.


Itu yang mencelikkan mata rohani saya saat dengan tanpa sadar (tapi saya yakin itu tuntunan Tuhan), meng-klik khotbah Ps Jose Carol di Youtube. Judulnya “Apa Kabarmu?”.

Di renungan itu, beliau pun sebagai tokoh agama panutan, mengakui dia pernah juga kok dalam keadaan depresi.

Gak mudah sih emang untuk terbuka mengakui kelemahan yang satu ini. Mungkin bisa jadi itu adalah aib bahkan bagi seorang pemimpin atau tokoh agama yang jadi panutan dan sorotan banyak jemaatnya.

Mereka dituntut selalu nampak strong terus imannya. Kuat penuh kuasa! Sampai beda-beda tipis udahan ama Tuhan! Hehehehe….!

Keterbukaan adalah awal dari pemulihan. Itu kuncinya!


Percayalah, saat kita ini menjadi umat milik Tuhan, kita masih dalam pantauanNya. Semua kelemahan dan kekurangan kita pun Dia tahu.

Masa ada seorang Papa langsung membuang anaknya sendiri saat tahu anaknya punya kekurangan atau kelemahan? Kan ya gak!

Dalam perbicangan podcast di channel Youtube saya “Gideon Yusdianto”,

Pendeta Wahyu Pramudya, M.Th dari GKI Ngagel Surabaya mengatakan

Saya kok tidak melihat ada korelasi antara tingkat kerohanian seseorang dengan kondisi kejiwaannya”.

dr Harsono Wiradinata, Sp.KJ, psikiater dari RS WIlliam Booth Surabaya, di podcast itu mengatakan bisa jadi seseorang mengalami kadar serotonin yang minim dalam otaknya. Makanya siapa pun bisa kena depresi.

This image has an empty alt attribute; its file name is 1618928124265.jpeg

Apalagi bagi seseorang yang kena covid. Bisa menjadi efek long covid malahan!

Cuma saya bayangin gini. Lha bagaimana ya kalau seorang psikiater lagi depresi? Masa ya diobatin sendiri??? Hahahaha! Kan mana mungkin orang buta menuntun orang buta?


Nah, dengan pengobatan yang tepat itulah akhirnya saya mulai bisa bangkit. Tentu saja saya tak pernah meninggalkan waktu pribadi saya ama Tuhan. Ora et labora! Beriman dan berusaha.

Kini, saya sudah mulai bisa berkarya kembali. Melayani Tuhan kembali. Sudah ada rasanya, gak flat lagi!

Emang rasanya gimana? Ya penuh antusias, on fire dan jadi happy kembali! Damai sejahtera melampaui segala akal gitu lah istilahnya! Ada sebuah lompatan titik balik yang begitu signifikan!

Makanya dari titik inilah, saya punya pemahaman yang baru tentang anugerah Tuhan.

Gak pernah berubah emang kasih dan setianya.

Saat saya meragukan dan mengecewakan Dia, iman saya drop. Tapi Dia tetap sabar menunggu sampai saya kembali padaNya.

Dia tak pernah menghina saya yang sudah hancur dan kalah.
Tapi Dia selalu memberi kesempatan demi kesempatan untuk saya boleh menjadi perpanjangan tanganNya kembali.

Menolong orang yang mungkin sedang mengalami hari-hari buruk seperti yang pernah saya alami. Kini ku tahu, jawaban dari pertanyaan “Why Me Lord?” saat itu.

 

Anda gak sendirian kok teman!

Tetap bersabar dalam proses pendidikan Tuhan.
Sebab Tuhan tak selalu menuntun kita pada jalan terpendek atau jalan tercepat.

Ada kalanya Tuhan menuntun kita melalui jalan yang panjang, agar kita bisa belajar sesuatu selama perjalanan itu.

Mungkin tuntunan Tuhan tak selalu serba pasti, mudah dan nyaman.
Bahkan, jalan yang benar, kadangkala harus juga melalui lembah kekelaman.

Tapi dalam lembah kekelaman sekalipun, Tuhan tetap menemani kita.

 

Dari seseorang yang mau terus belajar dan berproses dalam kehidupan bersama Sang Guru Kehidupan,
Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n