NENEK PENJUAL SAYUR

Pada suatu siang, sesudah makan siang di sebuah warung makan, saya dengan seorang teman berjalan santai menyusuri jalan. Dari arah yang berlawanan, seorang wanita tua berpakaian sederhana dengan menenteng beberapa kantong plastik berisi sayuran, menghampiri kami.

Maaf Tuan, maukah membeli sayuran ini? Saya sendiri yang menanam dan memetiknya,” katanya sambil tangan keriputnya mengulurkan kantong plastik.

Setelah menatap si nenek sebentar, tanpa basa-hasi, si teman mengeluarkan dompet dan membayarnya. Tiga kantong plastik sayuran pun berpindah tangan.

Terima kasih Tuan, semoga Tuan diberi lancar rezeki,” dengan suara bergetar terharu, nenek itu menggenggam erat uang jualannya.

Sesudah nenek itu berlalu, saya bertanya heran, “Kamu benar mau makan sayuran ini? Kamu lihat sendiri sayuran ini sudah layu dan mulai kuning, berulat lagi!”

Dengan tertawa kecil, si teman menjawab, “Ya, enggaklah! Sayuran ini tidak layak dimakan.

Lalu, kenapa kamu beli?” tanya saya lagi.

Karena kalau saya tidak beli, tidak ada orang yang mau membelinya. ‘Kan kasihan si nenek tidak mendapat penghasilan,” kata si teman.

Saya terhenyak kagum atas kebaikannya. Segera saya berbalik mengejar si nenek untuku melakukan hal yang sama. Sambil berlinang air mata si nenek berucap, “Anak muda, terima kasih. Nenek tahu, kalian membeli sayur ini karena kasihan melihat nenek. Sayuran ini memang kurang segar. Jika bukan kalian, tidak ada yang mau membelinya. Uang ini sungguh sangat berarti untuk membeli obat, untuk cucu nenek yang sedang sakit. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian.

_________________________________

Sayuran yang tidak bisa dimakan pun ternyata mampu memberi pelajaran berharga bagi kita. Saat jatuh dan terpuruk, kita sungguh berharap keajaiban akan datang kepada kita, mendapatkan pertolongan entah dari mana atau dari siapa. Sebaliknya, ketika kita punya kemampuan, sukses, apakah kita bersedia menjadi orang yang mendatangkan keajaiban itu? Mau mengulurkan tangan berbagi kepada sesama?

Kebaikan memang butuh dipraktekkan, perlu dibiasakan. Seperti kata mutiara “kadang memang sulit menjadi orang baik, tetapi lebih baik menjadi orang baik walaupun sulit”  

(KBS)