Natal itu harus tanggal 25 Desember! Jangan ngucapin, haram!

Suatu malam, saat saya pulang dari melayani kebaktian Natal. Karena hujan, maka saya menggunakan jasa taksi online untuk pulang ke rumah. Mas driver ngajak saya ngobrol begitu dari awal saya masuk ke mobilnya.

“Ada acara toh Pak kok ramai?”

“Oh, abis Natalan Mas!”

“Banyak ya Pak tahapan-tahapan proses yang harus dilakukan sebelum Natal?”

“Hah? Proses apa ya Mas maksudnya?”

Lhaaa Natalannya ntar tanggal 25 Desember kan Pak? Tapi nampaknya sekarang sudah banyak aktifitas yang harus dirayakan sebelum hari H nanti.”

Mas driver yang Muslim ini cerita kalau hari-hari ini dia panen mengantarkan penumpang ke acara-acara “proses sebelum Natal” yang ia maksudkan.

Saya bilang, bersyukur Mas Anda menuai panen dari doa-doa orang Kristen di bulan Desember. Doa apa coba? Betul! Doa tolak dan usir hujan dalam nama Yesus! Hahaha!

Dari sini saya baru klik.

Rupanya dalam pemahamannya, Natal ya tanggal 25 Desember! Kegiatan yang dilakukan sebelum itu adalah seperti prosesi ritual yang harus dilakukan sebelum sampai ke tahap puncak hari H.

Saya jelaskan bahwa secara internasional, memang ditetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari Natal.

Natal dalam iman Kristen artinya kelahiran Yesus Kristus. Dia adalah Tuhan yang menebus dosa manusia dengan cara lahir sebagai manusia. Itu iman Kristen seperti itu.

Nah, apakah Natal harus tanggal 25 Desember? Apa betul itu pas tanggal kelahiran Yesus? Banyak polemik seputar itu.

Yang gak yakin bisa tambah gak yakin. Yang yakin bisa gak yakin. Yang gak yakin bisa yakin. Yang yakin bisa tambah yakin. Hahaha! Bingung ya?

Saya tidak mau berpolemik soal ini. Mau dipertentangkan ya belum tentu menambah iman kok. Jadi buat apa?

Sambil menerobos lengangnya jalanan Surabaya saat hujan malam itu, saya jelaskan ke mas driver bahwa selama bulan Desember biasanya memang selalu padat dengan acara Natal.

Entah itu tajuknya celebration, atau ibadah Natal. Yang saya tahu, ada masa Adven, atau pra Natal. Biasanya dimulai minggu terakhir di bulan November, dan berlangsung selama kurang lebih sebulan.

Yang jelas, point utamanya adalah merayakan sukacita. Sukacita karena ada pengharapan yang pasti akan sebuah masa depan. Masa depan yang dilepaskan dari dosa dan segala kutuknya.

Ada yang merayakan dengan berbiaya besar, ada pula yang merayakannya dengan sangat sederhana. Ukuran besar-besarannya menurut saya tidak menambah ukuran kasih dan perkenanan Tuhan kok! Karena kasih Tuhan tidak tergantung dengan perbuatan manusia.

Jadi saya menyemangati untuk Anda yang mungkin saat ini berkecil hati karena tidak bisa memakai baju baru. Atau tidak mendapat kado natal dari orang lain. Yesus Kristus, sudah merupakan kado terbesar buat Anda!

Oh ya, Natal tahun ini saya bersukacita juga karna saya mulai melihat toleransi itu mulai di-bold-kan oleh berbagai pihak. Yakin toleransi ada di Indonesia?

Yakin!

Paling tidak, toko di dekat perumahan saya. Toko ini mulai menjual pohon Natal di tokonya tanpa ada kekuatiran dirazia.

Paling tidak di WA group teman-teman sekolah saya dulu. 95% Muslim. Dari SMP sampai kuliah, dulu saya ada di sekolah dan kampus negeri, bukan swasta. Kami rukun sejak dari dulu tanpa harus mempertajam perbedaan identitas iman kami.

Tahun-tahun yang lalu masih ada ke-sungkan-an untuk mengucapkan “Selamat Natal” di WA group. Katanya sih haram atau dosa kalau ngucapin. Sampai-sampai ada beberapa teman yang harus me-WA saya untuk minta maaf dan mengucapkan Selamat Natal secara japri.

Tapi tahun ini, sudah tidak menjadi tabu lagi di WA group kami ada ucapan Selamat Natal. Puji Tuhan!

Tidak perlu diributkan, mau ngucapin ya ok. Gak ngucapin ya no problemo kan? Bukankah tiap orang punya pemikiran yang berbeda-beda yang harus dihormati?

Ijinkan saya memaknai toleransi begini.

Toleransi bukan soal menang atau kalah. Bukan soal benar dan salah. Bukan soal haram atau halal. Yang berbeda biarlah berbeda. Gak usah dicari-cari persamaan dan perbedaannya. Gak usah juga yang satu harus beribadah dengan cara yang sama dengan yang lain. Ntar jadi bunglon dong! Hahaha!

Yang hijau gak perlu jadi merah kan saat ada di lingkungan bewarna merah. Tetap saja. Ngapain langsung berubah warna. Tapi toleransi adalah bisa menerima dia hijau meski saya merah. Toleransi tidak perlu memaksa hijau jadi merah, dengan alasan toleransi.

Se-simple itu sih saya memaknai toleransi. Seperti itu yang saya dan teman-teman jalankan sejak dari masa kecil dulu.

Apalagi dari sejarah emang bangsa Indonesia ini kan dibangun oleh berbagai elemen masyarakat yang berbeda-beda, baik dari suku, ras dan agama. Lha mengapa hari-hari ini ada pihak tertentu yang mau meghapuskan sejarah bangsa ini?

Teman. Lewat tulisan ini, saya mau ucapkan Selamat Natal buat yang merayakanNya. Doa saya damai sejahtera Tuhan itu selalu Anda kecap senantiasa. Apapun yang terjadi kita yakin, bahwa 2020 kita tetap mengalami penyertaan Tuhan.

Untuk sahabat-sahabatku yang tidak merayakan Natal. Rasa terima kasih dari lubuk hati terucap, ketika saya menemui keikhlasan dan ketulusan dalam menerima perbedaan. Bagaimana pun juga, Anda semua adalah tetap saudara saya. Dihubungkan dengan darah yang sama, darah Indonesia.

Mari berjuang bersama buat kemajuan Indonesia. Jangan lagi ada pertikaian di antara kita. Kalau “Jangan lagi ada dusta di antara kita”  itu pasti bukan dari saya kok. Tapi dari Broery Pesolima dan Dewi Yul!!!

 

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n