Nasi Kotak Yang Terakhir Dari Mama. Hati-hati! Kisah ini membuat Anda bisa nangis!

Siang itu, aku berdiri di pintu gerbang sekolah. Bertugas sebagai pemandu lalu lintas, membantu anak-anak kelas satu pulang sekolah.

Ibu Qin Yong, terlihat membawa kotak makanan menunggu di gerbang sekolah. Aku berteriak. Dia pun menoleh dengan wajah tersenyum malu dan berkata “O…Guru!

Aduh Bu! Bukankah aku sudah bilang? Sekolah melarang orang tua membawa nasi kotak untuk anak-anaknya. Kalau setiap ibu melakukan seperti ini, gerbang sekolah nanti jadi penuh sesak.

Iya saya tahu, saya tahu!” jawabnya dengan terbata-bata.

Hufftt! Sudah tahu masih bawa juga. Ibu kan bisa menyuruh anak ibu bawa makanannya sendiri!”

Iya saya tahu, saya tahu!” jawab ibu Qin Yong dengan cepat.

Ibu yang selalu bersikeras membawakan makan siang untuk anaknya itu, entah sudah berapa kali mengucapkan kata-kata, “Iya Saya tahu, saya tahu.”

Kedatangannya selalu bertabrakan dengan anak-anak kelas satu yang waktunya pulang sekolah. Ini menjadi tugas yang sangat merepotkan pihak pemandu lalu lintas sekolah.

Qin Yong adalah anak yang pendiam, pemalu dan patuh.

Suatu ketika saat belajar di kelas, dia tertidur. Aku segera membangunkannya.

Hei! Apa kamu sakit?” tanyaku
Dia pun berdiri dengan tatapan bingung, dan tidak menjawab.

Hari kedua di kelas, dia tertidur lagi. Aku pun benar-benar tidak tahan, lalu dengan kesal memanggilnya menghadap.

Qin Yong. Ada apa denganmu hah??” Aku benar-benar sudah kesal. Nada bicaraku pun mulai tidak dapat dikendalikan.

Tiba-tiba, dia meneteskan air mata. Sontak aku pun kaget melihatnya.
Ayo jawab! Kenapa kamu selalu tidur di kelas?”

Ibu saya dirawat di rumah sakit. Kemarin saya terus menemaninya di rumah sakit.”

Seketika kemarahanku pun sirna, dan menyesal dengan sikapku barusan.

Mengapa ibumu dirawat di rumah sakit?”

Sakit, kanker paru-paru.

Darahku pun seketika berdesir mendengarnya. Pikiranku masih terpaku pada Qin Yong yang fisiknya lemah ini.

Bagaimana jika saatnya itu tiba? Bagaimana dia akan melewati hari-hari yang panjang itu ke depannya? Memikirkan ini, kekerasanku langsung luluh. Iba, ikut merasakan kesedihannya.

Saat makan, aku melihat isteriku menyuapi anak kami. Dan seketika terbayang dalam benakku, saat melihat Ibu Qin Yong secara diam-diam membawakan nasi kotak untuknya.

Keesokan harinya setelah pulang kerja, aku pun ke rumah sakit menjenguk ibu Qin Yong. Baru beberapa minggu tidak melihatnya, ibu Qin Yong tampak kurus dan mukanya tirus.

Aku benar-benar tak percaya dengan pandangan mataku saat melihat wajahnya yang pucat pasi, dan kepalanya yang botak. Apakah benar ini ibu Qin Yong yang aku lihat di hari-hari kemarin?

Dia tampak terkejut ketika melihatku, dan mencoba berdiri. Tapi, begitu aku berdehem, ia pun memandangku.

“Jangan berdiri! Jangan berdiri Bu!

Ter…ima kasih, Guru! Terima kasih!” katanya terbata-bata. Dia berusaha berseru, dan tampak air matanya berlinang.

Di koridor rumah sakit, ayah Qin Yong berkata kepadaku, “Dokter bilang, Ibu Qin Yong hanya bisa bertahan dua bulan lagi!”

Oh Tuhan…! Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa

Sekembalinya ke sekolah, aku pun melaporkan semua yang terjadi pada kepala sekolah.

Ayahnya sudah berumur lebih dari enam puluh tahun. Sekarang ibunya akan segera meninggalkan dunia ini. Apa kita bisa memulai penggalangan dana di seluruh sekolah? Tidak peduli berapa pun jumlahnya, yang penting bisa membantunya.”

Kepala sekolah pun langsung menyetujuinya tanpa banyak tanya lagi. Setelah mengupayakan penggalangan dana. Akhirnya kami mengumpulkan dana sekitar seratus juta Rupiah lebih.

Ketika aku membawa uang itu ke rumah sakit, Ibu Qin Yong sudah dalam keadaan koma.

“Kami berencana membawanya pulang hari ini.” kata Ayah Qin Yong. Wajahnya tampak pucat dan tirus. Kepalaku berkedut seketika.

Di kamar pasien, Ayah Qin Yong berkata kepadaku, “Guru, boleh saya minta bantuannya?”

Katakan saja! Saya pasti akan membantu semampu saya.”

Beberapa hari yang lalu, dia terus menggenggam tangan Qin Yong. Berkata dengan sekuat tenaganya. Dia bilang Ibu tidak bisa membawakan nasi kotak lagi untukmu Nak…

Jadi sekarang saya minta tolong guru izinkan Ibu Qin Yong mengantarkan nasi kotak untuk yang terakhir kalinya. Hanya pada saat mengantarkan nasi kotak, dia baru benar-benar merasakan kemuliaan sebagai seorang ibu.”

Mendengar permohonan itu, aku pun langsung mengangguk dengan perasaan yang campur aduk. Mataku berkaca-kaca.

Siang itu, aku bertindak sebagai guru pemandu lalu lintas. Sayup-sayup, terdengar raungan sirine mobil ambulan memasuki gerbang sekolah. Ah itu dia ambulan-nya sudah sampai.

Ayah Qin Yong dan seorang staf medis, mendorong seseorang yang terbaring di atas tandu pasien. Tampak Ibu Qin Yong yang berbaring lemah di atas tandu, ia menjulurkan tangannya yang kurus pucat, dan mengambil nasi kotak.

Dengan ditemani staf medis, perlahan-lahan mereka memasuki gerbang besi. Sementara di sisi lain, Qin Yong mengulurkan tangan kanannya, dan mengambil nasi kotak dari ibunya.

Ibuuuuuu…..!” raung Qin Yong dalam isak tangisnya sambil memeluk ibunya .

Saat itu, aku melihat dengan jelas pipi ibunya yang cekung. Berkedut sebentar, seolah-olah mau bicara, tapi tidak terucapkan.

Ibuuuuu…..! Tiiidaaaaak! Tiiiiidaaaaaak Ibu! Aku tak mau Ibu pergiii….!” teriak Qin Yong sambil meratap memandang langit.

Melihat pemandangan itu, air mataku pun tak bisa ku bendung lagi. Mengalir deras membasahi wajahku. Aku benci pada diriku sendiri. Huh! Betapa kejamnya aku selama ini pada Ibu Qin Yong!

Keesokan harinya, Ibu Qin Yong akhirnya pergi dalam kedamaian.

Sehari setelah upacara pemakaman Ibu Qin Yong, ayahnya menemuiku di kantor, dan menyerahkan sebungkus kertas.

Guru! Ini adalah uang bantuan dari Anda dan anak-anak untuk kami sekeluarga. Saya pikir masih banyak siswa lain yang lebih membutuhkannya. Jadi, saya kembalikan lagi uang ini. Terima kasih atas bantuannya selama ini.”

Selesai menyampaikan maksudnya, Ayah Qin Yong meletakkan uang itu. Lalu mengangguk, mohon pamit dan berlalu.

Uang itu seakan panas mendidih, langsung membakar merasuk relung hatiku. Setiap hari aku selalu mengajak Qin Yong ngobrol. Aku kuatir dia tidak tahan cobaan atas kepergian ibunya.

Guru! Jangan kuatir. Saya baik-baik saja! Guru tidak perlu kuatir dengan saya!”

Qin Yong berkata padaku, “Sejak awal saya sudah tahu ibu akan segera pergi. Saya juga bukannya mau membantah kata-kata guru, menyuruh ibu untuk tidak membawa nasi kotak lagi. Karena, dalam sepanjang hari itu, saya baru bisa menikmati masakan ibu.”

Hatiku seketika berdesir mendengar pengakuan Qin Yong, muridku. Lalu aku bertanya padanya, “Mengapa?”

Ibu saya sangat lemah. Dilarang masak. Jadi Ayah yang memasak di rumah. Hanya pada saat Ayah tidak ada, Ibu baru secara diam-diam memasak. Dan Ibu selalu bersikeras membawakan makan siang untuk saya.”

Usai menceritakan semua itu, air mata Qin Yong pun berlinang membasahi pipinya.

___________________

Huahhhhh…….Sedih banget ya kisah ini. Saya menemukannya dari situs erabaru.net.

Nasi kotak ibu yang terakhir tadi mengingatkan kita bahwa tak selamanya kita bisa bersama dengan orang yang kita kasihi. Waktu di dunia amat terbatas. 

Adalah kemuliaan bagi seorang Ibu untuk terus mengasihi dan melayani anaknya, meski tanpa pamrih. Tapi coba Anda renungkan sebentar. Berapa banyak Anda cuek dan tak peduli dengan Ibu Anda?

Loh, saya kan sudah punya keluarga sendiri. Ya keluarga saya dong yang saya utamakan. Saya udah punya pacar.

Saya udah punya suami. Saya udah punya istri. Saya sudah punya anak-anak.” demikian kata beberapa orang yang saya jumpai ketika saya bilang, hei, ingat mamamu!

Saya setuju banget kok keluarga inti Anda yang utama. Tapi itu juga bukan alasan untuk Anda tidak memperhatikan dan menyayangi Mama, ibu Anda.

Berapa lama Anda sudah tidak menemui dan mengajaknya jalan-jalan atau makan bersama?

Maaf ya saya bilang, kebangetan banget loh Anda itu! Di mana hati nuranimu?

Berapa banyak yang bilang cinta Tuhan, demi pelayanan di Gereja, saya banyak berjumpa dengan mereka yang tidak memperhatikan mamanya yang sudah lanjut usia.

Teman, waktu pertemuan di bumi ini terbatas. Bisa saling bertemu dalam sebuah garis keturunan itu bukan kebetulan yang harus dilewatkan begitu saja. 

Mari tandai setiap momen kehidupan dengan markah yang indah dan bermakna. 

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n