Nangis saya membaca buku “The Train of Grace” ini! Percayalah, Anda akan dibuat nangis juga.

Hidup ini bagaikan sebuah perjalanan menaiki sebuah kereta.

Dengan stasiun-stasiun pemberhentian.

Dengan perubahan-perubahan rute perjalanan.

Dan dengan berbagai peristiwa yang menyertainya.

 

Kita mulai menaiki kereta ini ketika kita lahir ke dunia.

Orang tua kita memesankan tiket untuk kita naiki.

Kita menduga bahwa mereka akan selalu bersama dengan kita di dalam kereta itu.

 

Namun, di suatu stasiun, orang tua kita akan turun dari kereta.

Dan meninggalkan kita sendirian dalam perjalanan ini.

 

Waktu pun berlalu.

Penumpang lain akan menaiki kereta ini.


Banyak di antara mereka akan menjadi orang yang berarti dalam kehidupan kita

Pasangan kita, anak-anak, para sahabat, dan orang-orang yang kita sayangi.


Banyak di antara mereka yang akan turun dari kereta selama perjalanan.

Dan meninggalkan ruang kosong dalam kehidupan kita.

 

Banyak di antara mereka yang pergi tanpa kita sadari.

Bahkan, kita tidak tahu, di mana mereka duduk.

Dan kapan mereka meninggalkan kereta.

 

Perjalanan kereta ini penuh dengan suka dan duka, impian serta harapan.

Ada ucapan “Halo!”,  ada juga “Selamat tinggal”.

Ada cinta, ada pula airmata.

 

Perjalanan yang indah akan diwarnai dengan saling menolong, saling mengasihi dan hubungan baik dengan seluruh penumpang kereta.

Memastikan bahwa kita memberi yang terbaik agar perjalanan mereka nyaman.

 

Satu misteri dalam perjalanan yang mempesona ini adalah,

kita tidak tahu, di stasiun mana kita akan turun?

 

Maka kita harus hidup dengan cara yang terbaik.

Menyesuaikan diri, memaafkan, serta melupakan kesalahan orang lain.

Memberikan yang terbaik yang kita punya.

 

Sangatlah penting untuk melakukan semua ini.

Sebab, bila tiba saatnya bagi kita untuk meninggalkan kereta.

Kita harus meninggalkan kenangan indah.

Bagi mereka yang akan meneruskan perjalanan di dalam kereta kehidupan ini.

 

Terima kasih  sahabat telah menjadi salah satu penumpang istimewa di dalam kereta kehidupanku.

Aku tak tahu, kapan aku akan tiba di stasiunku…

 

Selamat menempuh perjalanan hidup bermakna!

 

Teruslah melaju keretaku.

Bersama dengan penumpang-penumpang istimewa.

Dengan penuh rasa cinta kepada sesama.

 

Karena mencintai adalah bukanlah tentang memberi yang terbaik dalam kecukupan, bahkan dalam kelimpahan.

Tetapi memberi yang terbaik dalam kekurangan.

 

Diadaptasi dari buku “The Train of Grace” karya Pater Leonardo Boff.

 

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n
Youtube Gideon Yusdianto