MR PERFECT

Ada seorang teman satu pelayanan, namanya Sam. Semua orang bilang kalau Sam ini bukan tipe orang yang menyenangkan, karenanya ia dijauhi oleh teman-teman satu pelayanannya. Sebenarnya, Sam adalah anak yang pinter, kritis, sopan dan dalam hal penampilan Sam ini oke banget.

Sam dikenal sebagai sosok yang kurang supel karena sikapnya yang tertutup. Ia gengsian dan sulit diajak untuk pergi hangout. Sam pernah bercerita, ia sih mau aja kalau pergi bersama teman-teman. Tapi ia takut salah tingkah dan nggak mau kelihatan konyol di depan orang banyak. Sikap Sam membuatnya dijuluki sebagai si jaim (jaga image). Sam punya prinsip kalau ia harus menjadi yang terbaik diantara teman-temannya.

Ingin menjadi yang terbaik dan mengerjakan segala sesuatu dengan benar adalah keinginan Sam. Kesannya, ia selalu menginginkan menjadi sosok yang serba sempurna alias Mr. Perfect. Sementara sibuk membuktikan diri menjadi yang terbaik, Sam justru nggak sadar kalau hal itu yang bikin teman-teman menjauh darinya.

Apakah menjadi Mr. Perfect itu salah?

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang disorga adalah sempurna.” (Matius 5:48) Tuhan pernah berkata kalau kita harus sempurna sebab Bapa kita di surga sempurna. Namun tidak kemudian kita jadi keliru.

Kata sempurna disini berarti mengenai segala yang sedang kita lakukan, completion; tuntas, matang. Bukannya menjadi pribadi sempurna yang tidak boleh melakukan kesalahan. Seperti yang tertulis dalam 2 Timotius 5:7 “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Dimana pada ayat ini, kita diminta untuk menyelesaikan segala perkara dengan baik.

Kalau kita mengingat kembali sosok Yesus, kita dibawa kembali kepada tugas-Nya selama di bumi. Ia bisa menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik. Selama menjadi manusia, Ia juga banyak digoda oleh iblis. Namun Ia tetap taat, tetap mengasihi manusia saat banyak orang yang membencinya, tidak jatuh dalam godaan dosa dan memberi teladan yang baik bagi umat manusia.

Tuhan minta kita menyelesaikan semua pekerjaan kita dengan baik, sempurna. Tapi nggak menuntut kita menjadi seorang yang sempurna. Namun, yang Ia inginkan dari kita adalah menjadi pribadi yang berani melangkah dalam iman kebenaran, berani menghadapi keinginan daging dan berani menjadi saksi bagi Kristus di dunia yang dipenuhi oleh kuasa dosa.

Berjalan sesuai dengan keinginan Tuhan memang kalau diomongin gampang banget, kenyataannya sulit. Kita harus berhadapan sama orang-orang yang bilang kita sok suci, diketawain karena kita beda, bahkan dimusuhi karena dibilang munafik. Semua ini nggak mudah. Tapi, inilah tantangan kita sebagai murid-Nya. Kita harus siap pikul salib, bukan mengejar hidup untuk menyenangkan manusia.

Apakah kamu berani buat menyenangkan Tuhan?

Sumber : jawaban.com