MENGAPA TUHAN ?

Setelah lima tahun bertahan, akhirnya Rudi tak dapat lagi menahan amarahnya ketika perselingkuhan ayahnya terbukti benar dan kakak perempuannya pun begitu kecewa pada ayahnya. Mereka lalu pergi meninggalkan rumah dengan membawa kebencian.

Ibunya seorang diri menahan kepedihan. Mengapa semua harus terjadi Tuhan ! Ketika dia menutup mata melipat tangan, dia berteriak, “Tuhan mengapa ini harus terjadi padaku!” Menyesali nasib dan memaki Tuhan, menangis menjerit dan terus bertanya, “Mengapa, mengapa, dan mengapa Tuhan?” hingga lelah dan putus asa.

Ketika Ibu duduk sendiri, diambinya cermin dan berkaca, berbicara pada dirinya, “Mengapa kamu biarkan wajahmu yang cantik kau rusak dengan terus manangis dan meratap?” Diambilnya bedak, spon halus menyapu wajahnya, dan lipstik memulas bibir pucatnya. Dia tersenyum, tertawa, dan menatap wajahnya. Apa yang sudah kulakukan pada diriku dengan membiarkan derita menguasaiku, bangkitlah! Banyak yang dapat kau kerjakan! Dengan bercermin, dia terus menasihati dirinya sendiri dan akhirnya ia membuka hati untuk berdamai dengan dirinya. Ibu menemukan kembali dirinya yang hilang.

Ia mulai mengisi hati, pikiran, perkataan bahkan kehendaknya dengan mencari kebenaraan Tuhan hingga akhirnya ibu dapat berdamai dengan suaminya. Memaafkan dengan tulus dan menerima semua kenyataan hidup sebagai anugrah yang harus disyukuri. Tak ada lagi airmata. Dijalani harinya dengan terus memegang setiap janji Tuhan termasuk “apa yang sudah dipersatukan Tuhan tidak dapat dipisahkan manusia.” Dia tetap mengasihi suaminya, dia tetap menyayangi anak-anaknya. Ibu terus memupuk kesabarannya dengan doa dan terus mencari hikmat Tuhan. Ibu tetap setia pada suaminya dan tetap berada di rumah walau sendiri.

Yang dilakukannya dalam penantiannya hanyalah mengunjungi anaknya dan mengatakan, “Pulanglah dan jangan membecinya.” Demikian kepada suaminya ibu selalu menyatakan kasihnya dengan sms menyampaikan kata-kata berkat dan menulis di awal smsnya dengan kata-kata, “Suamiku yang baik, suamiku yang luar biasa.” Dilakukan terus pada anak-anak dan suaminya. Hingga akhirnya satu persatu kembali dan dipulihkan.

__________________________________________

Pertanyaan “Mengapa ?” itu memang sering kita tanyakan kepada Tuhan bila hari ini kita dalam sebuah kesulitan. Kita pikir, bila kita memahami alasan di balik rasa sakit kita, maka rasa sakit itu akan terasa lebih ringan. Bukankah begitu ?

Anda tidak perlu penjelasan; Anda butuh kekuatan.
Anda tidak perlu penjelasan; Anda butuh Tuhan.
Anda tidak perlu penjelasan; Anda butuh penghiburan dan dukungan.

Hanya Tuhan yang tahu semua jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan sulit anda. Dan jika anda tidak langsung mendapat jawaban-Nya, berhentilah bertanya “Mengapa?” sebab itu sia-sia, anda hanya malah akan memperlama rasa sakit anda. Lebih baik berdamai dengan masa lalu dan keadaan sekarang, berdamai dengan diri sendiri, dan berdamai dengan Tuhan. Salah satunya tanda perdamaian itu adalah ketika engkau mulai sanggup melepaskan pengampunan kepada orang yang telah menyakitimu.

 

logo