MENGAKUI KESALAHAN

Bonny dan Molly adalah dua kakak beradik yang hidup di kota. Pada saat liburan sekolah, mereka diajak oleh kakek neneknya untuk menginap di desa. Keduanya pun setuju dan segera berangkat ke sana dengan semangat.

Di desa tempat tinggal kakek neneknya, Bonny dan Molly menghabiskan banyak waktu bermain di luar. Mereka berjalan-jalan ke hutan, menikmati pemandangan alam dan udara segar, serta membantu kakek neneknya melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana.

Saat senggang, Bonny senang bermain ketapel di hutan. Ia akan berlari ke hutan lalu berusaha menembak hewan-hewan kecil yang ada di hutan dengan ketapel. Sayangnya, Bonny sangat tidak ahli bermain ketapel. Ia tidak sekalipun berhasil mengenai target.

Pada satu siang setelah bermain seharian dengan ketapelnya dan tidak berhasil membidik satu hewan pun, Bonny pulang dengan kecewa. Saat sudah dekat pada rumah sang nenek, Bonny melihat sekawanan ayam peliharaan kakeknya.

Secara tak sadar, Bonny menarik ketapelnya dan membidik salah satu ayam. Tak disangka, ia berhasil mengenai ayam itu. Sang ayam langsung lemas dan mati seketika. Bonny pun sangat kaget. Ia merasa bersalah dan sangat takut. Ia kemudian segera menggali tanah di pinggir hutan dan menguburkan ayam itu di sana. Setelah selesai menyembunyikan ayam tersebut, Bonny cepat-cepat pulang.

Siang itu saat Molly sedang keluar lagi dengan sang kakek, Bonny mendekati neneknya. Ia berkata, “Nek, ada sesuatu yang harus kukatakan.” Sambil tersenyum, sang nenek berkata, “Aku sudah tahu, Nak.” Bonny pun sangat kaget. Ia bertanya lagi, “Apa yang engkau ketahui, Nek?”

Sang nenek tersenyum lagi sambil berkata, “Hari itu, aku melihatmu menembak ayam kakek dengan ketapel. Aku juga melihat bahwa bajumu kotor dengan tanah. Jadi, kamu pasti menguburkan ayam itu di suatu tempat. Aku tahu itu semua.”

Bonny merasa kakinya lemas, ia pun berkata lagi, “Lalu mengapa nenek tidak memarahiku? Apakah kakek tahu?” Sang nenek menjawab, kali ini justru dengan muka sedikit geli, “Marah? Untuk apa? Kami sering melihat kamu berlatih ketapel, jika sekarang kamu sudah bisa, berarti seharusnya kami senang karena kamu sudah sukses berlatih! Kakek juga sudah tahu dan ia tidak marah.”

Sang nenek melanjutkan lagi, kali ini dengan muka serius, “Kami menunggumu untuk mengakuinya. Kami hanya ingin melihat, apakah kamu cukup berani untuk mengakui kesalahan yang sudah kamu buat. Tentu kami memaafkanmu, jangan khawatir.”

Setelah itu, Bonny pun menangis dan memeluk neneknya. “Maafkan aku, Nek. Maafkan aku,” ujar Bonny sambil menangis. “Tentu saja, Nak. Nenek justru kaget kamu betah berhari-hari dimanfaatkan oleh adikmu itu!” begitu jawab sang nenek. Setelah itu, mereka pun tertawa dengan bahagia.

________________________________

Jangan takut untuk mengakui kesalahan. Terkadang rasa takut dan bersalah yang muncul karena berbohong atau menutupi sesuatu justru lebih besar dari kesalahan itu sendiri.

Untuk apa terus bersembunyi?