Mencuci Tangan Ibu itu Mengharukan!

Di ruangan HRD sebuah perusahaan besar terjadilah perbincangan antara kepala bagian dengan seorang pemuda yang sudah melewati tahap akhir seleksi karyawan baru.

Saya kagum dengan IPK Anda. Pasti Ayah Ibu Saudara begitu disiplin mendidik Anda. Boleh tahu apa profesi mereka?” kata Pak Kabag sambil membolak-balik berbagai sertifikat kelulusan dan penghargaan si pemuda yang melamar kerja di perusahaannya.

Bapak saya cuma pedagang asongan. Sejak saya 5 tahun, beliau sudah berpulang ke Surga. Ibu saya bekerja mencuci baju dari warga sekitar kampung kami. Beliau bekerja keras untuk menyekolahkan saya, anak satu-satunya” demikian tutur si pemuda itu.

Jadi Saudara juga ikut membantu ibu bekerja?” tanya Pak Kabag kembali.

Oh tidak Pak. Pernah suatu kali di saat tugas sekolah telah saya kerjakan, saya membantu ibu mencuci baju pelanggan. Tapi ibu malah marah dan melarang saya. Beliau ingin saya fokus ke studi saja katanya.” jelas sang pemuda.

Oh begitu. Ok begini. Sebelum saya putuskan Saudara diterima atau ditolak bekerja di sini, saya minta Anda pulang. Temui ibu dan cucilah tangan ibu Saudara.

Besok pagi Saudara temui saya kembali dan ceritakan apa yang terjadi. OK?
” demikian Pak Kabag mengakhiri interview hari itu.

Baik siap Pak! Saya pamit dulu bila begitu. Saya akan kembali besok pagi.” jawab Si Pemuda dengan sigap. Namun ia bingung dengan tugas dari Pak Kabag yang aneh itu.

Tiba di rumah, dengan antusias Si Pemuda melaksanakan tugas yang ia terima tadi. Ia menceritakan bagaimana suasana interview pagi tadi di kantor.

Jadi Bu. Boleh ya saya mencuci tangan ibu?” tanya anak itu.

Mendengar permintaan yang tidak lazim itu si Ibu menuruti saja apa yang anaknya minta. Ia sangat berharap anaknya bisa diterima di perusahaan yang bonafide itu. Si ibu memberikan kedua tangannya untuk dibersihkan.

Dengan perlahan sang anak membasuh tangan sang ibu. Sesekali ia menggosok dengan cairan sabun agar semakin bersih.

Lama-lama ia tak bisa membendung air matanya. Air mata itu jatuh menetes seiring dengan air yang mengucur membasahi tangan mereka berdua.

Dia baru menyadari kalau selama ini tangan ibunya begitu kasar. Ada banyak kapalan di permukaan telapak tangan sang ibu. Itu semua harga yang dibayarkan si ibu demi masa depan yang lebih baik untuk anaknya. Harga ketulusan untuk sebuah kelulusan.

Karena tak tahan lagi dengan perasaan yang begitu berkecamuk, si anak langsung lari ke bak pakaian kotor dan segera mencucinya.

Keesokan paginya sang anak kembali menghadap Pak Kabag. Dia mulai menceritakan dengan berlinang air mata mengenai apa yang terjadi kemarin saat ia membasuh tangan ibunya.

Jadi apa yang Saudara bisa ambil hikmahnya dari peristiwa kemarin?” tanya Pak Kabag.

Ehmmm…Banyak Pak!

Yang pertama, tanpa pengorbanan ibu, tidak mungkin saya seperti sekarang.

Yang kedua, kerja keras ibu tidak sia-sia. Pasti membuahkan hasil yang terbaik.

Yang ketiga, membuat saya sadar untuk selalu memberi waktu yang terbaik untuk keluarga saya. Dalam hal ini untuk ibu saya.” demikian tutur anak tersebut dengan mata yang berkaca-kaca.

Nah, selamat! Anda diterima bekerja di sini. Tiga prinsip itulah yang saya harapkan anda juga terapkan di perusahaan ini.” demikian Pak Kabag mengakhiri proses interview siang itu.

Kisah mengharukan ini ditulis oleh Gusnawati Jameris. Saya membacanya dari internet dan kini saya ceritakan ulang dengan versi bahasa saya.

Ada tiga makna yang dapat saya sarikan dari kisah ini.

Yang pertama, kesuksesan kita saat ini, itu bukan semata-mata hasil kerja keras kita pribadi.
Jangan sombong lah!
Ada banyak tangan yang kadang tak kelihatan sedang membantu kita. Bahkan tangan-tangan yang sedang mendoakan kita dengan tak jemu-jemunya!

Yang kedua, bekerjalah dengan memunculkan sesuatu yang terbaik. Bukan asal-asalan saja. Pasti beda kok, sesuatu itu kita kerjakan dengan hati atau karena motivasi uang semata.

Dan yang ketiga, sesibuk-sibuknya Anda bekerja, tetap layani keluarga Anda. Miliki family time bersama keluarga. Bagaimanapun, mereka adalah supporter terbaikmu!

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n