MENCINTAI SEPERTI GARAM

Seorang raja memiliki tiga anak perempuan. Ia ingin menguji cinta mereka kepadanya. Raja memanggil mereka dan bertanya kepada mereka, “Katakan betapa kau mencintaiku.”

Putri sulung Raja berkata, “Ayah, aku mencintaimu seperti perhiasan.” Raja sangat senang karena dengan jawaban putrinya, karena Raja sangat menyukai emas dan permata. Apalagi ia memiliki koleksi besar perhiasan indah di istananya.

Putri kedua berkata, “Ayah, aku mencintaimu seperti anggur terbaik!” Raja senang mendengar ini karena Raja kecanduan anggur dan minuman beralkohol lainnya.

Kemudian putri bungsu Raja menjawab, “Ayah, aku mencintaimu seperti garam.”

Raja marah mendengar jawaban itu. Dengan marah, ia berteriak, “Apa maksudmu? Garam adalah sesuatu yang tidak berguna, mudah, dan biasa kau temukan bahkan di daerah kumuh miskin di kerajaanku. Aku tahu kau tidak mencintaiku. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Pergilah!”

Saat keluar dari istana, putri bungsu ini bertemu dengan koki istana. Ia meminta agar koki istana tidak memberikan garam pada semua hidangan yang akan disajikan selama pesta kerajaan dan pada hari selanjutnya. Koki tua yang sangat mencintai putri bungsu karena kesederhanaannya, rendah hati, dan lugu ini melakukan apa yang diperintahkan kepadanya.

Saat pesta kerajaan, Raja mencicipi hidangan favorit dan berteriak keras, “Apa ini? Ini sama sekali tidak ada rasanya!” Ia memanggil koki istana dan menanyainya. Koki bijaksana itu menjawab, “Oh, Pak, saya takut untuk memasukkan garam ke dalam masakan kerajaan karena kemarin Anda menyatakan bahwa garam adalah sebuah benda yang tidak berguna dan hanya biasa saja. Saya menghindari itu.”

Raja mendapatkan pelajaran. Ia menyadari pentingnya garam dan meminta putri bungsu untuk memaafkannya karena pernyataan keras dan perilakunya. Ia memahami sejauh mana cinta putri bungsunya kepadanya.

_____________________________________

Hahaha…Baru tahu Raja kalau garam itu penting ! Saya juga mikir kalau makanan yang dihidangkan oleh homestay di kota Jombang ini hambar semua, pasti saya tidak bisa makan enak.

Saya jadi ingat yang Tuhan inginkan kita menjadi garam bagi dunia ini. Makanan tanpa garam akan menjadi hambar bahkan bisa membuat muntah! Kita ini sama fungsinya seperti garam,  yaitu menyedapkan dan memberi cita rasa dan keharuman dalam kehidupan. Kita harus bisa memberi makna baru kepada kehidupan manusia yang penuh ketegangan dan kehilangan suka cita. Seharusnya kita bisa memberi warna ketenangan karena dunia selalu berbicara ketakutan dan hal-hal yang mengkuatirkan.

Selamat hari Minggu untuk anda. Sepanjang hari ini saya melayani firman Tuhan di kota Jombang. Salam !

 

logo_1543818_web

 

2 thoughts on “MENCINTAI SEPERTI GARAM

  1. I have heard an opinion that many of us want to be stars and uninterested to be salt. Maybe, to be a star to some of us is to be famous and well known by people. That’s fine. But to be salt is much better for us. So we do good things and no one know about that. Of course, we’ll get something later and it’s always now. It needs a process and the results last forever. It’s a very sweet result. p.s. Warm regards!

  2. Siang.Kisah yg sangat Bagus

    Iya.benar.Hidup kita ini harus bs menjadi garam bg org2 yg kita sayangi serta org2 di sekitar kita.bila tdk seperti itu Percayalah. hidup kita ini akn terasa hambar saja sampai maut menjemput kita.Tuhan tdk akn Bahagia .

    Mari kita trs berusaha mjd garam.di mna pun kita berada&yg sedang kita lakukan bersama Tuhan saja.Amin

    Thank u Ko Gi ats kisahnya.
    Saya senang koko&mama baik2 saja sepulang dr pelayaan.meski hny menebak lwt tulisan saja.(pasti Baik2 saja)Krn Tuhan Yesus slu menyertai.Amin.
    Thank

Comments are closed.