MELEPASKAN SAKIT HATI

Suatu hari ada seorang pengacara muda yang sedang duduk di ruang tunggu untuk menjumpai seorang pengacara senior. Sembari menunggu, ia juga berkonsultasi dengan pengacara lain perihal kasusnya. Tetapi saat tiba waktunya, pengacara senior ini hanya melihat sekilas pada sang pengacara muda dan melontarkan kata – kata hinaan.

Mendengar hinaan itu, pengacara muda ini hanya pura – pura tidak mendengarkan dan segera masuk ke ruang persidangan. Saat sidang berlangsung, ternyata pengacara senior ini dapat membela kliennya dengan brilian. Nalarnya bagus dan argumennya tepat dan sang pengacara muda ini pun berniat ingin lebih giat lagi belajar tentang hukum.

Waktu pun berlalu dan singkat cerita, pengacara muda ini tidak hanya menjadi seorang pengacara melainkan ia terpilih menjadi presiden Amerika Serikat pada tahun 1861. Barangkali kita semua sudah tahu kisah ini dan siapa sang pengacara muda ini. Ya, Abraham Lincoln. Diantara banyak kritikus, ia tetap menghormati sosok pengacara senior yang pernah menghinanya, ia adalah Edwin Stanton.

Bahkan, Lincoln tidak membalas dendam malah mengangkat Stanton sebagai sekretaris perang. Lincoln bukan hanya berhasil menjadi seorang presiden, tetapi ia juga berhasil mengalahkan rasa sakit hati atas hinaan yang dilontarkan oleh Stanton. Ia mengampuni Stanton dan melepaskan rasa sakit hati nya.