Masa Merayakan Valentine’s Day? Bolehkah?

Bunga mana bunga??

Coklat mana coklat??

Romantic dinner mana romantic dinner??

Yayank mana yayank??

Hahaha!!!

Begitulah, pernak pernik manifes dari Valentine’s Day menjadi menggeliat bermunculan di mana-mana. Puncaknya di 14 Februari.

Seolah-olah tidak afdol kalau kita tidak memberikan rejeki ke pedagang bunga, penjual coklat, serta resto-resto. Terlihat culun bila seorang diri jomblo tanpa pasangan.

Bahkan yang memprihatinkan, Valentine’s Day diperingati menjadi pesta seks, ber-euforia nafsu dengan atas nama cinta. Eits…eits…eeiiittsss! Cinta yang terlarang padahal, bukan yang official!

Dari mana sih semua ini bermula?

Macam-macam versinya.

Saya ajak Anda menuju era Romawi Kuno. Tiap tanggal 13-15 Februari mereka merayakan Lupercalia.  Ritual upacaranya dimulai dengan mengorbankan 2 ekor kambing jantan dan seekor anjing.

Kemudian, pria setengah telanjang berlarian di jalanan, mencambuki para gadis muda dengan tali berlumuran darah, yang dibuat dari kulit kambing yang baru dikorbankan tadi.

Wih, serem ya! Upacara ini diyakini bisa membuat perempuan lebih subur katanya.

Di tahun 496 Paus Gelasius I melarang Lupercalia dan menyatakan 14 Februari sebagai Hari Santo Valentine . Siapa itu Santo Valentine?

Tercatat ada 3 orang yang bernama Valentine di masa tahun 200’an.

Yang pertama, dia seorang Imam di Kekaisaran Romawi yang membantu orang-orang Kristen yang dianiaya pada masa pemerintahan Claudius II.

Waktu di dalam penjara, ia mengembalikan penglihatan seorang gadis yang buta, yang jatuh cinta padanya. Valentine meninggal dengan dipenggal pada tanggal 14 Februari. 

Valentine yang kedua adalah seorang Uskup yang saleh dari Terni. Ia juga disiksa dan diekselusi selama pemerintahan Claudius II, juga pada tanggal 14 Februari.

Nah Valentine yang ketiga berasal dari Genoa yang diam-diam menikahkan pasangan. Ini menentang aturan pernikahan yang dikeluarkan Claudius II. Saat ia dipenjara, ia jatuh cinta dengan putri orang yang memenjarakannya.

Sebelum dieksekusi dengan sadis, ia membuat surat cinta pada sang kekasih, yang ditutup dengan kata, “From Your Valentine”! 

Nah, kurang lebih konon seperti itu sumber sejarahnya.

Jadi perayaan hari kasih sayang itu malah diawali dengan memperingati kematian loh, Teman!

Tapi, btw, bukankah sebuah perasaan kasih diawali juga dengan kematian?

Kematian dari ego pribadi yang mau menang sendiri tanpa berbagi.

Kematian dari emosi yang meledak-ledak, yang berujung pada luka di hati.

Kematian dari pengagungan kepentingan diri sendiri, dan beralih dengan memperhatikan kepentingan orang yang kita kasihi.

Jadi, jangan bilang sudah mengasihi-lah, kalau masih cari-cari kesalahan orang lain dan merasa benar sendiri. Itu kasih yang “kakean bosa basi!” (Kakean itu bahasa Jawa, yang berarti kebanyakan).

Dan awas tertipu dengan bentuk palsu dari kasih yang selalu mengeksploitasi orang lain demi kepuasannya sendiri.

Waduh, bahasa saya semakin berat dipahami ya?
Hahaha!

Ah, sudahlah. Jangan Anda yang belajar memahami. Itu berat. Saya saja!

Dilan, mana Dilan?? Kan katanya ada sekuelnya. Dilan 1991.

Tuh kan, tambah lama tambah ngaco!

Orang kalau kekurangan rasa kasih sayang itu katanya cenderung kacau kok hidupnya. Makanya, sama seperti nafas. Mana mungkin kita bisa melewati hidup tanpa hembusannya?

Jadi, terlalu nyesek loh kalau cuma merayakan kasih itu setahun sekali, di tiap Valentine’s Day.

Mending seperti Boyzone, yang nyanyi begini.

I don’t know, but I believe
That some things are meant to be
And that you’ll make a better me

Everyday I love you…!

 

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n