AMARAH

Suatu kali Billy Martin, manajer baseball, mengadakan perjalanan untuk berburu dengan Mickey Mantle. Mereka pergi ke peternakan teman Mickey yang bisa memberi izin berburu di peternakannya. Akhirnya mereka tiba dan Mickey menyuruh Martin menunggu di mobil sementara ia meminta izin pada sahabatnya. Sahabatnya pun memberi izin tetapi dengan satu permintaan. Saya memiliki satu keledai peliharaan yang buta di kandang, saya tidak tega melihatnya menderita. Maukah kau menembaknya untukku? pinta sahabatnya.

Mickey pun menyetujui. Saat ia kembali ke mobil, ia berpura-pura marah, membanting pintu sampai tertutup. Ada apa? tanya Martin. Mickey menggeram, Temanku tidak mengizinkan kita berburu di tanahnya. Aku kesal, dan aku akan pergi ke kandangnya untuk menembak salah satu keledainya. Mickey mengendarai mobil ke kandang seperti orang gila. Martin yang bersamanya pun merasa ngeri dan berteriak, Kita tak dapat melakukan itu. Coba lihat saja, jawab Mickey.

Tiba di kandang, Mickey melompat dari mobil dengan senapannya, berlari ke dalam dan langsung menembak keledai tersebut. Tetapi saat ia meninggalkan kandang, ia mendengar dua tembakan lagi. Ia berlari ke dalam mobil dan melihat bahwa Martin telah mengeluarkan senapannya juga. Apa yang kau lakukan Martin? teriaknya. Kita tunjukkan pada orang brengsek itu. Aku baru saja membunuh dua dari sapi-sapinya! Balas Martin dengan wajah kemarahan.
______________________________
Begitu cepat virus kemarahan menular. Tak menunggu waktu berhari-hari untuk membiarkannya, dalam hitungan menit pun ia sudah tersebar. Terkadang tanpa disadari, kita pun sering bersikap seperti Martin. Emosi kita mudah terpancing dengan situasi yang memicu kita untuk kesal. Tetapi firman Tuhan mengajak kita orang percaya agar tidak lekas gusar dan marah bagaimanapun keadaannya. Dr. Frank Minith berkata bahwa kemarahan mengurangi limphocytes dalam tubuh kita, yang menyebabkan menurunnya antibodi yang diperlukan untuk memerangi penyakit-penyakit menular. Untuk itu sangatlah bijak, jika kita bersikap tenang dalam menyikapi keadaan yang panas.

Kebanyakan orang sulit sekali untuk menahan amarah saat dihadapkan pada situasi yang rawan memancing emosi. Butuh hati dan pikiran yang bijak agar amarah tidak meledak dalam situasi tersebut, karena “Semua yang dimulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu” seperti kata Benjamin Franklin

ae2e4e50637cf70c145e01b2903fe0a7

cropped-cropped-gideoncom.jpg