Mangan Gak Mangan Seng Penting Kumpul, betulkah dari Falsafah Jawa? Gak juga ternyata!

Mangan gak mangan, seng penting kumpul!

Ungkapan dalam Bahasa Jawa ini bermakna agar kita itu guyub, kompak, solid gitu dalam sebuah komunitas.

Dulu saya menyangka ini adalah falsafah Jawa sepenuhnya. Ternyata tidak! Ada sedikit campurannya.

Ungkapan “Makan atau tidak makan yang penting kumpul” itu timbul karena peranan pihak kolonial Belanda, yaitu VOC.

VOC itu perusahaan dagang Hindia Timur yang dibentuk Belanda.

Nah, gak menyangka kan!
Kok bisa begitu?

Tahun 1755 terbitlah Perjanjian Giyanti. Isinya, Mataram dibagi 2 bagian, yaitu Timur dan Barat.

Bagian di sebelah timur Kali Opak, dikuasai oleh pewaris tahta Mataram, yakni Sunan Pakubuwana III. Kedudukannya tetap di Surakarta (Solo).

Bagian di sebelah barat, yang sebenarnya merupakan daerah Mataram yang asli, diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi. Beliau diangkat menjadi Sultan Hamengku Buwana I, berkedudukan di Yogyakarta.

Dalam Perjanjian Giyanti disebut bahwa VOC berhak menentukan siapa yang menguasai sebuah wilayah.

Untuk mengukur luasnya wilayah masing-masing dipakailah satuan “karyo” atau karya.

1 Karya = 4 tenaga kerja. Yang disebut tenaga kerja minimal anak-anak usia akil balik.

Nah, biar makin luas wilayah yang dicakup, tentunya harus makin banyak jumlah “karyo”.

Makanya saat itu orang diminta jangan pergi dari desanya. Banyak-banyakan warga yang ngumpul, biar makin luas wilayahnya.

Oh begitu toh…!

 

Nah, sekarang, bagaimana kalau hari ini kita mulai praktekkan “Ngumpul-ngumpul lan mangan-mangan”?

Luangkan waktu sejenak untuk berkumpul, demi membangun dan mempererat silahturahmi. Berangkat dari keluarga kita lah!

Bukankah banyak sekali keruwetan dan kusutnya benang masalah yang sedikit banyak menjadi terurai tatkalah lidah, perut dan otak menjadi happy karena masuknya aliran makanan yang lezat?

Presiden Republik Indonesia ketujuh, Bapak Jokowi pun memakai pendekatan ini. Kita kenal dengan “politik meja makan.” Lobi-lobi yang kaku dan tegang jadi lebih efektif  dan cair saat dilakukan pertemuan sambil makan-makan. 

Nah kenapa gak kegiatan kumpul-kumpul sambil makan-makan ini senantiasa kita agendakan di keluarga atau komunitas kecil kita masing-masing?

Semakin sering komunikasi dijalankan, kan makin mempersempit kesalahpahaman di antara luasnya pemikiran dan praduga kita masing-masing.

Makan-makan hanya gimmick saja. Yang terutama adalah menjaga hangatnya sebuah relasi. 

Bukan itu saja. Dalam relasi yang dipenuhi dengan kerukunan, maka janji Tuhan, kesanalah berkat-berkatNya dicurahkan. Amin!

 

Jadi sekarang gimana? Mau ngajak saya ngumpul?
Tapi pake mangan-mangan loh yo, plus ngopi!

Hahahaha!

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n