Mama yang kena covid, malah mendoakan saya, yang juga barengan kena covid. Saya meneteskan air mata, kalau ingat itu.

Di menit kesekian, saya sempat menahan tangis, saat saya disuruh cerita ama Pastor Ishak di channel Youtube-nya. Kisah mengenai kejadian akhir Desember 2020 lalu.

Saat kami bertiga, serumah semua kena serangan virus SARS_cov_2 secara bersamaan. Mama dan asisten rumah tangga kami masing-masing udah berusia 91 tahun dan 65 tahun. Resiko tinggi untuk lansia jadi memberat gejalanya.

This image has an empty alt attribute; its file name is 171707737_4033503066669724_561119535492449372_n.jpg


Saya menahan air mata, saat sampai di kisah yang gak mungkin saya lupakan. Dalam keadaan tiduran terus karena lemas badannya, sayup-sayup dengan suara lemah, seperti berbisik, Mama ini sering berdoa. Bukan doa buat dirinya sendiri, tapi doa buat saya!

“Tuhan Yesus sembuhkan anakku anakMU Gideon. Aku tolak virus corona di tubuhnya. Beri dia kekuatan. Sembuh dalam nama Yesus.”
Kurang lebih begitu doanya. 

1.5 bulan kebanyakan kami isolasi mandiri di kamar terus berdua, menunggu sampai test PCR kami negatif.

Saya rawat Mama saya dengan yang terbaik yang saya bisa. Nyiapin makanan yang terseleksi ketat, biar aman buat lambung Mama. Nyiapin minum obat dan vitamin secara teratur. Selalu ukur suhu tubuh dan saturasi oksigen paling gak sejam sekali.

Bantuin Mama mandi, ngelapin dengan handuk setelah mandi. Kasih tabur bedak biar aman punggungnya saat tiduran terus di ranjang.

This image has an empty alt attribute; its file name is WhatsApp-Image-2021-04-10-at-12.39.40-AM.jpeg

Padahal diri saya juga lagi sakit. Lemes juga kena diare mulai hari ke-4 hingga semingguan. Diare termasuk gejala khas covid19. Tapi saya mau kasih yang terbaik buat Mama.

Saking terbaiknya mungkin, tak sadar saya sudah memakai kekuatan saya sendiri. Ironisnya kok tidak kunjung negatif-negatif?  Padahal saya sudah berupaya yang terbaik buat kami.

Makanya di batas tertentu jebol-lah pertahanan iman saya.

Sebenarnya Tuhan ini mengasihi kami gak sih?
Kalau masih mengasihi kenapa kok kami dibiarkan terus begini?

Ah, pertanyaaan- pertanyaan filosofis standard lah yang selalu ditanyakan orang kebanyakaan, saat dirinya down.

Tapi ternyata, Dia adalah Tuhan yang saaaangaaat saaaaayaaang kepada kami. Meski iman saya sudah merosot tajam saat musibah covid itu menimpa kami serumah. Tapi saat itu pun rasa sayangNya tak pernah berubah, padahal saya sudah berubah.

Bukan kebetulan ketika memori saya di 2011 di-loading kembali malam itu. Saya bertelut di kamar malam itu juga. Di tempat doa yang sama persis saat saya saya depresi di tahun 2011.

Tuhan….. 2011 di tempat yang sama ini, aku pernah bertelut dan Engkau berikan damai sukacita yang melampaui segala akal saat itu. Aku pengen rasa itu kembali ada di hatiku. 

Malam ini aku percaya. Dulu Kau pernah berikan rasa damai dan ketenangan itu. Dan Kau beri kelegaan kepadaku kembali.

Maka malam ini pun aku minta rasa itu kembali ada di hati dan pikiranku ya Tuhan.

2011 Engkau tolong aku dengan banyak kejadian supranatural. Maka mulai malam ini aku percaya, mujizat demi mujizat pasti Kau berikan buat aku, sang pendosa yang mau kenbali padaMu.”

Hampir sejam saya terus berlutut dan berdoa. Sampai rasa damai dan ketenangan itu hadir, baru saya selesaikan doa saya.

Mulai sejak itulah, saya merasakan babak baru pengenalan saya akan Tuhan. Saya pikir Tuhan sudah tinggalkan saya saat saya sudah meragukan Dia. Saya pikir Tuhan sudah gak peduli lagi saat saya putus asa.

Tapi teryata gak begitu!

Tuhan sayang banget buat pendosa, seperti saya.

Iman kita meragukan Dia kan udah dosa tuh sebenarnya.


Namun berbagai cara Ia buat, agar kita mau kembali padaNya. 


Suatu hari setelah malam itu.

Buka Youtube eh tiba-tiba muncul kotak feed yang mengarahkan saya ke sebuah renungan. Bahwa it”s ok not be OK. Libatkan Tuhan saat gak OK. Dia masih peduli ama kita. Gitu intinya yang saya dengar.

Kayak udah diatur, setelah video renungan itu selesai, diteruskan otomatis ke sebuah lagu yang mengatakan Tuhan itu sayang banget ama kita.

Saya rasa kalau dianggap kebetulan, kok itu beruntun ya?

Karena saya ikut larut dalam suasana, video di Youtube otomatis bergulir ke video selanjutnya, tanpa saya stop. Isinya video renungan yang intinya sehat itu bukan tubuh saja, tapi jiwa dan roh kita juga harus sehat. Itu baru kesehatan yang sejati.

Wahhhhh…dalam kurun waktu kurang lebih 2.5 jam itu iman saya seolah ada setrumnya lagi! Ah, awal mula yang amazing!

Walau tidak dalam sekejap  tubuh, jiwa dan roh saya sembuh. Seiring waktu, dinamika iman saya masih bergejolak. 

Tapi sekarang, now i’m come back Lord!

Seolah Tuhan mau bilang “Welcome back My beloved son, Gideon!” 

 

Yang mau berproses dan terus belajar bab baru dalam kehidupan,
Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n