Mama Kok Diparkir?

Seorang ibu pernah curhat kepada saya, “Pak, tanpa anak-anak yang menemani di rumah, saya suka merasa kesepian.

Sering kalau saat liburan tiba, mereka jalan-jalan bersama keluarga kecil mereka sendiri.

Mereka juga sering jalan bersama sahabat-sahabatnya sendiri. 

Dompet saya penuh emang. Anak-anak rutin ngasih duit ke saya juga. Tapi beneran, hati saya kosong, Pak Gideon!”

Ibu itu terdiam sejenak sambil matanya memerah dan genangan air mata itu semakin pekat. Siap jatuh menetes.


Saya cuma bisa memandang foto kemesraan Bapak ama Mama. Kadang saya iri gitu. Cuma bisa mbatin kapan ya anak-anak saya bisa berlaku begitu juga ama saya?

Minta doa ya Pak Gideon. Biar anak-anak ingat ama saya.

Toh saya juga hanya bawa satu peti mati saja kok nanti bila meninggal. Semua ya buat anak-anak.”

Ibu ini mulai sesenggukan. Kalimat selanjutnya saya sudah mulai gak jelas.

Lalu saya berikan sejumlah penghiburan motivasi kepada ibu ini, dan kemudian doa sebelum saya pamit pulang dari pelayanan.

Nah, Teman.

Bukankah masa liburan ini waktu yang tepat buat Anda mengajak Mama Anda pergi berlibur.

Saya sangat tahu, pacar, istri, suami, anak-anak itu penting.

Saya juga sangat paham kok bila Anda sangat direpotkan bila mengajak Mama pergi. Badannya sudah mulai melemah. Perlu digandeng. Perlu diladenin layaknya seorang bayi mungkin.

Bahkan saya sangat mengerti, mungkin hari-hari ini Anda menjaga jarak dengan Mama Anda gara-gara Anda pernah dikecewakan dan terluka hati Anda karena Mama.

Tapi bukankah Mama Anda yang pernah mengawali segala sesuatunya? Dari sebuah benih yang beliau rawat, dipupuk, sampai Anda bisa menjadi seperti saat ini.

Maaf, sungguh Anda tidak patut, membiarkan Mama menjadi penunggu rumahmu.

Seorang Ibu akan terus menyayangi anaknya, walaupun anaknya sudah dewasa. Tapi seorang anak yang sudah merasa dewasa dan berkeluarga, belum tentu sanggup menjaga ibunya yang sudah semakin rentah dan tak berdaya.

 

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n