MAMA I LOVE YOU

Saya yakin di antara kita pasti punya memori manis bersama dengan  ibu kita, yang mungkin kita panggil beliau dengan kata ibu, bunda, mama, mami, atau apa pun juga. Abaikan dulu semua kisah kekecewaan yang terjadi antara anak dan ibu, karena selama hidup bersama dengan ibu, pasti ada gesekan di sana sini yang menjadi warna dalam sebuah keluarga.

Saya anak tunggal dari sebuah keluarga yang harmonis. Papa dan mama, demikian saya menyebut mereka sebagai orang tua saya,  28 tahun mereka setia menanti Tuhan memberikan benih keturunan sebagai penanda lengkapnya sebuah keluarga.

Dalam masa penantian itu, mama bercerita kalau banyak orang menyarankan papa untuk meninggalkan mama yang divonis mandul dan lebih baik menikahi wanita lain yang bisa memberikan generasi penerus buat keluarga.

Saya bangga akan kesetiaan papa dalam menjalani komitmennya, apa pun yang terjadi tetap mama menjadi pilihan terbaiknya. Dari sinilah saya belajar bagaimana menjadi seorang pria sejati yang bertanggung jawab menjagai keutuhan keluarga, meski tidak mudah untuk tetap bertahan.

Sebagai bayi mungil  -berat saya waktu lahir tercatat hanya +- 2 kilogram-  yang lahir dari sebuah penantian yang sangat panjang, saya hidup dengan berkecukupan, baik kasih sayang maupun kebutuhan secara jasmani.

Tidak banyak yang saya ingat di masa kecil ini selain bagaimana hangatnya ada dalam gendongan mama. Tidak ada tempat yang rasanya paling aman selain dalam rahimnya dan dalam dekapannya.

Pernah suatu ketika saya tidak bisa tidur, mungkin karena kekuatiran anak-anak sekolah yang selalu bergumul dengan ujian-ujian sekolahnya. Ssaya berlari ke ranjang mama, dan menyelinap masuk dalam pelukannya. Seketika itu saya jatuh tertidur pulas. Hehehe…benar-benar obat tidur yang manjur. Teduh dan tenang rasanya ada di dekat hangatnya tubuh mama.

Sebagai anak kecil yang masih suka bermain, rengekan tangisan minta dibelikan mainan yang kusuka, itu saya pikir menjadi hal yang wajar. Dengan wajah yang berpikir keras, mama selalu menghitung sisa uang belanja untuk bulan yang berjalan, apa masih cukup untuk membelikan mainan atau majalah anak-anak yang kuminta.

Tapi ajaibnya seorang mama, ia selalu cukup untuk bisa bertahan dengan uang belanja dari papa dalam waktu sebulan. Dengan berbagai cara mama tidak menyayangkan uangnya yang terbatas untuk membelikan apa yang kumau.

Sampai di sini, ketika saya bisa memegang uang dengan bekerja saat ini, saya mengajak anda merenungkan. Pantaskah kita memegang uang kita rapat-rapat dengan alasan menabung buat masa depan kita, dan akhirnya menjadi pelit kepada mama kita ?

Waktu kuliah, mama tidak pernah tahu bagaimana waktu itu saya berjuang sendirian di kota Surabaya. Karena masalah ekonomi yang Tuhan ijinkan kami jatuh, maka saya harus bekerja untuk menafkahi hidup saya sendiri dan kuliah saya. Ketika saya pulang mudik, ditengah minusnya keadaan ekonomi keluarga kami, mama masih selalu memikirkan saya.

“Ini sedikit uang yang mama tabung dengan menghemat uang belanja. Kamu bawa saja untuk kamu pakai sebagai tambahan hidup di Surabaya”, demikian mama menyodorkan beberapa lipatan uang dari yang kumal sampai rapi ke saya.

Kalau saya ingat, saya bisa meneteskan air mata lagi. Sempat-sempatnya mama masih memikirkan kebutuhan anak di tengah kekurangannya.

Dan ketika sekarang ku dewasa, saya tidak bisa mengurangi porsi kasih sayang saya ke mama. Saya suka diberikan saran beberapa teman, “Kamu jangan terlalu dekat seperti itu kepada mama. Itu akan membuat wanita merasa ia mendapatkan saingan terkuatnya” Tapi hati nurani saya tidak bisa membuat saya berjalan dengan saran seperti itu. Selama masih bisa dan masih kuat, saya selalu mengajak mama kemana pun saya pergi. Baik dalam pelayanan di Gereja atau Persekutuan Doa maupun ketika kami berlibur.

Tak pernah malu saya menuntun menggandeng tangan mama di depan umum, karena yang malu melakukan hal itu, saya mau permisi bertanya, apakah mamamu dulu malu menggandeng menuntun tanganmu yang sedang belajar berjalan tertatih-tatih ? Meski kita sering gagal untuk tegak berjalan, tapi mama tak pernah menyerah mengajari kita untuk berjalan kaki.

Dan di bagian akhir tulisan saya hari ini, saya akan kutip caption di instagram saya @61d30n kemarin, yang ternyata mendapat banyak sekali tanggapan yang mengharu biru.

 

dan sekali lagi

Setiap saya posting foto bersama mama
saya tidak ada maksud untuk pencitraan

Saya cuma ingin mengabadikan kenangan manis bersama mama
karena saya tahu tidak selamanya bisa begini
Saya bersyukur
tiap kali saya posting foto bersama mama
banyak komentar bahkan message pribadi ke saya
Mereka bilang
dari yang iri sampai bangga melihat keberadaan kami
Mereka ini mulai dari seorang anak
bahkan dari seorang ibu
yang juga rindu katanya bisa hangat seperti kami
Saya cuma bisa berdoa
semoga kalian juga bisa merasakan kebahagiaan bersama anak dan ibu
seperti yang kami rasakan
Ketika saya lihat foto ini
air mata mulai menetes
Saya katakan
Tuhan, biarlah kemesraan ini janganlah cepat berlalu
Saya cuma ingat wajah itu belum berubah kecantikannya
Wajah mama yang pernah melindungiku dari dalam rahimnya

yang pernah meninabobokan aku di saat rewel

yang pernah mengganti popokku tanpa lelah

yang pernah membelikan mainan buatku

yang pernah tanpa lelah tidur di bawah lantai ketika ku sakit

yang pernah berjalan kaki sampai jauh demi membeli obat buatku

yang pernah menjual semua perhiasan yang dicintai demi kebutuhanku

yang pernah diam-diam berlutut berdoa buatku di kamarnya

#Mama
#iLoveu

Dan ini satu lagu buat anda yang sudah membaca sedikit tulisan saya mengenai mama. Klik di bagian bertuliskan ibu.
Sebarkan kepada teman dan siapa pun juga bila anda sudah terinspirasi dan mendapat berkat dari secuil tulisan saya.
Mulai dari sekarang anda juga bisa download dan install aplikasi Gideon Yusdianto di Playstore, bila anda ingin mendapatkan renungan inspiratif dari saya secara otomatis.