Makan bersama keluarga itu ternyata mengundang banyak berkat!

‘Mangan gak mangan seng penting ngumpul.
Yen wes ngumpul, yo pasti mangan!

Artinya, makan maupun tidak makan, yang penting berkumpul.
Kalau sudah berkumpul, ya pasti makan!


Begitulah kebiasaan kami sekeluarga dulu. Keluarga kecil. Almarhum Papa, Mama dan saya. Kebiasaan sejak dulu, saat saya masih kecil.

Masakannya ya pasti masakan Mama. Ala Hakkanese dengan aroma harum bumbu-bumbu khasnya gitu.

Yang saya masih ingat, Bak Cam Kei, Ngiong Tou Fu, Giu Nyuk, Cu Kiok.
Hihihi…lucu dan geli ya nama-nama masakan di kaum Hakkanese! Gak semua juga kok saya suka.

Bila waktunya makan, Almarhum Papa pasti bilang “Sik fon..sik fon” , yang artinya ayo makan!

Gak ada lauknya!” kadang saya protes.

Mouw siong kon!” kata almarhum Papa waktu itu. Artinya, no problem lah! Kan esensinya kebersamaan.

Lahap emang bisa makan bersama. Dibanding makan sendirian.

 

Sekarang, Mama sudah lanjut usia. Jarang sekali ia masak. Kadang kangen juga sih makan masakan Mama. Tapi masak sendiri toh juga gak efisien kalau dalam porsi kecil. Lebih mahal jatuhnya. Meski lebih higienis.

Akhirnya kami sering beli makanan di luar. Nah di era covid-19 begini, kami harus bener-bener ketat memilih tempat makan. Gak bisa sembarangan seperti dulu.

This image has an empty alt attribute; its file name is photo_2020-11-29_21-02-57-1024x1024.jpg

 

Kembali ke soal tradisi makan bersama. Saya pikir-pikir, Almarhum Papa yang belum Kristen aja telah menerapkan Mazmur 133. Nyatanya keluarga kami sangat diberkati.

Mazmur 133

  1. Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!
  2. Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.
  3. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.Kemana coba Tuhan perintahkan berkat? Ke mereka yang diam bersama dengan rukun.


Cara paling ampuh ya di meja makan. Kalau udah ketemu menu favorit, wah jadi rukun dah!

Sahabat saya yang Muslim pun mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda,

اِجْتَمِعُوْا عَلَى طَعاَمِكُمْ يُبَارِكْ لَكُمْ فِيْهِ

“Berkumpullah kalian dalam menyantap makanan kalian (bersama-sama), (karena) di dalam makan bersama itu akan memberikan berkah kepada kalian.”

HR. Abu Dawud no. 3764, hasan. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 664.

 

Maka tradisi itu akan kami teruskan. Tradisi makan bersama. Tradisi bersatu, penuh kerukunan di tengah keluarga.

Bagi saya, tak ada yang lebih membahagiakan selain pulang ke rumah, menikmati makan bersama keluarga, dan saling bercengkrama.


Bagaimana dengan keluarga Anda?


Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n