Kulit menjemput kacang yang meninggalkannya.

Lahir dan tumbuh di sebuah kota kecil yang cenderung “ndeso” membuat saya tidak bisa move on dari kendesoan saya.

Mulai dari logat bahasa, makanan, minuman dan cemilan-cemilannya.
Salah satunya adalah kacang godog.

Leko rasanya ngemil kacang godog di tengah rintik-rintik hujan saat tengah malam.
Pas untuk dibuat jagongan (ngobrol) dengan bunyi khas saat mengupas kulitnya.

Kan gak mungkin dimakan juga kulitnya!
Kacangnya sudah masuk di perut, kulitnya ditinggal dan dibuang.

Terus, masa ya kacang lupa kulitnya?
Hahaha….!

Itu kan cuma sebutan untuk orang yang lupa akan asal usulnya dan menjadi somsek (sombong sekaleeee).

Dulu sih ia bukan siapa-siapa.
Tapi berkat pertolongan seseorang, sekarang ia jadi sukses dan tenar.

Udah kaya, ehhh…lupa akan sahabatnya.
Masa malah kita dibilang “Huft! Orang kok undat-undat!”

Tahu kan undat-undat? Membangkit-bangkitkan pemberian di masa lalu itu loh!

Atau contoh lain.

Dulu saat hidup ada di bawah titik nol, ehhh…dikit-dikit panggil “Tuhan…Tuhan!”
Sekarang sudah jauh di atas hidup standard, ehhh… sudah lupa kalau itu semua hanya anugerah Tuhan semata.

Eitss, pujilah Tuhan dan janganlah melupakan segala kebaikanNya!
Kacang kok lupa kulitnya toh!

Ada kacang yang hidup, tumbuh, matang dan habis bersama kulitnya.
Tapi tidak semua kacang setega itu melupakan kulitnya.

Seandainya ada yang tega, ya sudahlah tak perlu kecewa.
Ketawa saja!

Masa ya ada kulit menjemput kembali kacang yang meninggalkannya?

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n