Kok Orang Jahat Lebih Enak Ya Hidupnya? Lhaaa saya???

Sampai hari ini saya suka ditanya oleh mereka yang sedang lelah. Bukan lelah fisik, tapi lelah hati menghadapi masalah yang tak kunjung reda.
Di titik itulah mulai muncul pertanyaan.

Orang itu tidak pernah berdoa. Hidupnya jauh dari Tuhan. Tapi kenapa ya kok hidupnya enak? Mulus-mulus aja tuh!

Setau saya dia gak pernah melayani Tuhan. Tapi saya yang rajin melayani di Gereja kok apes tenan hidup saya? Dia loh hepi-hepi aja!

Asaf pun pernah menghadapi keadaan seperti itu.

Dicatat dalam Mazmur 73:2-5 dalam versi Bahasa Indonesia Masa Kini.

2 Tetapi aku sudah bimbang, kepercayaanku hampir saja hilang,
3 sebab aku cemburu kepada orang congkak, ketika aku melihat keberuntungan orang jahat.
4 Sebab mereka tidak menderita sakit, badan mereka kuat dan sehat.
5 Mereka tidak menanggung susah, tidak ditimpa kemalangan seperti orang lain.

Anda sedang menghadapi situasi seperti ini?

Awal saya memberikan diri saya dibabtis di tahun 2001, dan awal saya menyerahkan hidup saya untuk melayani Tuhan di tahun 2003, saya pun diperhadapkan dengan keadaan yang jauh dari konsep keadilan Tuhan menurut manusia.

Saya pikir, ahhhh sekarang hidup saya sudah saya serahkan ke tanganNya yang kuat, aman ahhhh, gak ada badai lagi!

Tapi ternyata sebaliknya yang terjadi. Satu masalah berat terjadi belum ada solusi, malah hadir lagi masalah kedua. Dan seterusnya begitu.

Saya lihat mereka yang jahat, mereka yang hidupnya jauh dari hal spiritual, lhaaa kok hidup mereka fine-fine aja ya? Gak adil nih Tuhan!

Itu yang saya rasa dulu. Capek banget loh hari demi hari terjebak pada perasaan iri seperti itu.

Bagaimana bisa lepas dari iri hati melihat keadaan orang lain?

Coba lihat proses Asaf. Mazmur 73:17-26. Bahasa Indonesia Masa Kini mencatat begini.

17 Akhirnya aku masuk ke Rumah Tuhan, lalu mengertilah aku kesudahan orang jahat.
18 Kautempatkan mereka di jalan yang licin, dan Kaubiarkan mereka jatuh binasa.
19 Dalam sekejap mata mereka hancur, amat dahsyatlah kesudahan mereka.
20 Seperti mimpi yang menghilang di waktu pagi; ketika Engkau bangkit, ya Tuhan, mereka pun lenyap.
21 Ketika aku merasa kesal dan hatiku seperti tertusuk,
22 aku bodoh dan tidak mengerti, aku seperti binatang di hadapan-Mu.

23 Namun aku tetap di dekat-Mu, Engkau memegang tangan kananku.
24 Kaubimbing aku dengan nasihat, dan Kauterima aku dengan kehormatan kelak.
25 Siapa yang kumiliki di surga kecuali Engkau? Selain Engkau tak ada yang kuinginkan di bumi.
26 Sekalipun jiwa ragaku menjadi lemah, Engkaulah kekuatanku, ya Allah; Engkaulah segala yang kumiliki untuk selama-lamanya.


Artinya apa Teman?
Tetap tinggal tenang dalam hadirat Tuhan. Kisah belum berakhir bukan?

Lihat endingnya. Tuhan membuat suatu perbedaan kontras antara mereka yang tetap ada di jalur kesetiaanNya. Dibedakan dengan mereka yang ada di luar kasihNya.

Kalau kita bandingin diri sendiri dengan orang lain, itu adalah cara tercepat alias shortcut untuk membuat kebahagiaan anda hilang.

Membandingkan diri saya dengan kebahagiaan orang, sama halnya dengan menyakiti diri saya sendiri. Itu satu peperangan sia-sia yang tak akan pernah kita menangkan kok!

Dari sinilah saya tersadar, ah saya keliru kalau begitu. Daripada waktu saya buang-buang untuk mempertanyakan keadilan Tuhan, kan lebih baik saya cari kelebihan-kelebihan yang Tuhan titipkan dalam diri saya.

Hari ini saya lihat orang lain lebih kaya, lebih sukses, lebih hepi? Biarin aja lah!

Toh berkat Tuhan tak pernah tertukar kok! Tinggal dijemput dengan usaha halal, doa intens dan percaya saja bahwa hal besar sudah Tuhan sediakan buat saya. Dan buat Anda juga! Amin?

Ya sudah, saya tak nyeruput kopi Enrekang dari @pohonkopi dulu. Dah dari tadi tersaji manual brew ini, tapi saya cuekin gara-gara asyik nulis.

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n